Selasa, 08 Juli 2014
Circus Monster
Sorak-sorai kembali membahana.
Diluar sana, diluar kandang besi yang menyekapku,
sudah menunggu orang-orang yang menunggu untuk melihat.
Seorang Gadis Monster, seorang gadis iblis
Gadis aneh dengan tanduk sapi di kepalanya
Walaupun wajahnya cantik menawan,
semua orang selalu saja menunjuk tanduk di kepalanya,
Menunjuk-nunjuk sambil meneriakan satu kata yang sama.
"Iblis!"
Seorang Gadis yang cantik menawan
engkau akan menyangka bahwa ia titisan dewi
tetapi dengan tanduk itu
siapa yang akan peduli?
Hari ini pun sang gadis menjalani harinya
dalam kandang penuh olokan dari orang kaya
yang membayar untuk menontonnya.
(Based on "Circus Monster" song by Vocaloid)
Minggu, 06 Juli 2014
Daratan yang selalu hujan
daratan kelabu, berbatu, dan hanya sedikit tanaman yang tumbuh.
kehidupan menjauhi tanah ini
tetes-tetes air menjatuhi bumi daratan ini
malaikat menangisi tanah ini
Tuhan berkeringat berusaha terus memperbaikinya
tetapi tidak sejengkalpun pohon dapat tumbuh dan berdiri tegak
Aku berdiri terpaku, melihat di kejauhan tanpa ada yang pantas ditunggu, yang kulihat bukanlah harapan, yang kulihat adalah bukit-bukit kering, sekering hati ini, sekering hatimu, sekering harapan mereka yang tidak percaya.
"Apa yang kau nanti?" sebuah suara mengerang di sampingku.
jujur, aku bahkan tidak ingat bahwa dia ada disini.
sosok bertopeng itu sedikit lebih pendek dariku, ia mengenakan jubah hitam kelam, satu-satunya hal yang memisahkan dirinya dengan kelabu langit adalah topeng yang dipakainya.
Topeng putih dengan ukiran bibir yang merah bagaikan darah, sebuah kombinasi yang sempurna untuk menyembunyikan rupa buruk yang ada di balik topeng itu.
"Kau menanti harapan?" lanjut suara itu pelan, bagaikan suara tikus mencicit penuh ejek dihadapan kucing tua yang lemah berjalan.
"Apa ada harapan menantiku disana?" aku menjawabnya sambil menyisakan jeda yang agak panjang.
parasol hitam ini entah kenapa semakin berat, ataukah lenganku yang mulai lelah? aku tidak tahu.
sesekali, aku mengganti tangan kiri dengan tangan kanan, bergantian mempertahankan parasol hitam ini untuk tetap memayungiku dari terpaan hujan yang tidak ada habisnya.
sesaat kemudian dia tertawa.
kali ini jelas sekali dia mengejekku.
"Jiva," ia memanggilku
padahal itu bukan namaku,
"Bagi anak manusia, kehilangan harapan itu akhir dari segalanya," ia terkekeh lagi,
"Contohnya itu ya kamu,"
Aku mengerang kesal, kuayunkan tanganku untuk menempelengnya, tetapi ia hilang, lepas menjadi kabut hitam dengan bau gosong.
kemudian dia muncul di samping kananku, tertawa terbahak-bahak atas usahaku yang sia-sia.
Aku tidak mencoba untuk memukulnya lagi, karena itu akan sia-sia, terakhir aku mencoba menangkapnya, bahkan menusuknya dengan belati, dia terus menghilang dibalik bayangan itu. Makhluk sial yang entah muncul darimana, selalu saja membisikan kata-kata kotor dan hinaan kepadaku.
"Seberapa lama sih kamu sudah kehilangan Kirana?"
"Kirana?"
"Halah jangan pura-pura ngga tahu kamu!"
"Siapa heh yang buat lagu tentang Gadis Kecil itu?
Gadis yang bersayap matahari, menangis di kursi taman...
Siapa yang dengan senang hati mendongengkannya, membuatkannya lagu seindah itu kemudian menemaninya hingga ia terbang kembali?
Oh, kamu jangan pura-pura tidak tahu, Jiva, Bidadari yang kau temui itu, ya dia adalah Bidadari-mu, Kirana namanya, seperti namanya, ia anggun, bercahaya, dan cantik jelita,"
"Dia sudah tumbuh dewasa, aku percaya dia kini mencari kebahagiaan di angkasa sana,"
"KAMU GOBLOK APA TOLOL HAH!?"
Teriakan makhluk itu membuatku terlonjak, ia berteriak, marah, tetapi kemudian, dia tertawa, tawanya terbahak dan keras.
"Dasar yang namanya manusia goblok semua! telmi semua! tolol semua! ngga ada namanya perasa! kalian terlalu mengandalkan otak sama otot! nurani...! nurani itu dipakailah, Jiva!!" ia menunjuk-nunjuk dadaku seperti ada yang salah disana.
"Jangan sampai nanti kamu bilang 'nurani' itu hanya kesadaran otak, bla bla bla... hormon ini, hormon itu, bla bla bla... sedikit-sedikit DNA ini, DNA itu..."
"Kalian manusia cuman mau cari luarnya saja ya!? tidak mau tahu didalam jiwa bengis nan tololnya kalian itu, ada permata berharga yang Sang Hyang Widhi tanamkan untuk kebahagiaan kalian!"
"Kalau kalian berpikir ini omong kosong tentang pengharapan palsu, yasudahlah kalian para orang-orang bebal berpikir demikian! ditawarkan air mineral, kalian pilih air got, kalau mau menderita, menderita saja sana!"
Ia menarik nafasnya, seakan akhirnya beban kata- kata yang ia simpan telah keluar.
"Kirana itu bukan macam perempuan yang biasa kau sapa, Jiva."
"Kirana itu bukan perempuan fana yang bisa kau gengam, ataupun engkau setubuhi dengan otak lumutanmu itu! bukan!"
"Coba, siapa yang membuat lagu Gadis Kecil itu?"
"Lagu yang jauh dari sempurna, tetapi memiliki nada ketika membuatnya, lagu yang jauh dari lagu-lagu para penyair, tetapi jiwa ketika sang pembuatnya - kau sendiri, menyanyikannya, membayangkan rupa Gadis Kecil sembari membayangkan nada-nada yang mungkin cocok untuk dinyanyikan."
"Itu..."
"Apa seorang manusia rela melakukan sedemikian rupa untuk suatu hal yang tak fana?"
Aku terdiam mematung, kata-kata makhluk ini, semuanya jelas, seakan menusuk nuraniku, memaksanya untuk bangkit.
"Kau telah berjuang 2 tahun ini dalam tubuh manusiamu, tetapi saatnya untuk kembali, Jiva." ia mendekatkan topengnya pada wajahku, saking dekatnya ia sampai aku bisa melihat matanya yang ada di balik topeng tersebut.
Mata coklat keemasan
Seperti mataku.
Disini, di daratan kelabu yang selalu turun hujan,
aku memandang pada bukit kering kerontang di kejauhan.
Ini mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi aku melihat cahaya sayap Kirana jauh di kaki langit.
Rabu, 25 Juni 2014
Valthirian Arc - Welcome to The School!
Menembus kegelapan misterius hutan Diata
Dan melintasi lautan luas Alkeian
Tersebutlah sebuah pulau kecil dengan penduduknya yang padat.
Menurut sejarah, pulau tersebut dulunya adalah sebuah kerajaan, namun kerajaan tersebut hilang ketika kerajaan-kerajaan besar membentuk sebuah aliansi baru, secara otomatis, kerajaan kecil tersebut bergabung dengan aliansi.
Sebuah kastil tak berpenghuni di tengah pulau adalah bukti sejarah yang telah lampau, dikelilingi oleh kota-kota dengan penduduknya yang maju.
Tetapi apakah kastil tersebut hanya akan berdiri sebagai bukti sejarah?
atau adakah jiwa lain yang akan mengisi kekosongan kastil ini?
yang jelas, semuanya berubah ketika orang-orang utusan istana tiba di kastil tua tersebut.
***
Sebuah kereta kuda melaju di tengah jalan setapak yang menanjak, jalan berbatu yang sepi dilalui orang. Penduduk sekitar sini memang terkenal dengan rumor mereka, terutama tentang kastil itu.
Dulunya, kastil itu milik keluarga kerajaan bernama Fleur der Umnaid, penguasa lokal tiga ratus tahun lalu, jauh sebelum Aliansi dibentuk oleh kerajaan Gabrielle, Michaela, dan Rafaela.
Mereka percaya bahwa keluarga kerajaan Fleur der Umnaid bergabung dengan Aliansi karena suatu ancaman. Sang kepala keluarga, si Raja, menyatakan bahwa walau dia jatuh pada kekuasaan Aliansi, tetapi kelak dia akan membangun sebuah kerajaan yang lebih besar, yang lebih kuat, sehingga dia akan menguasai negara-negara aliansi sendiri.
Kemudian, setelah mengatakan hal tersebut keluarga Fleur de Umnaid dibantai pada malam itu juga.
"Ini dia, sir, ma'm, kastil der Umnaid, maaf aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini, penduduk sekitar sangat percaya mitos, dan bila mereka tahu aku mendekati kastil tersebut, bisa-bisa aku dijauhi mereka."
Seorang lelaki keluar dari dalam kereta kuda. Lelaki itu tak tampan, tetapi badannya besar, tatapan matanya tajam, dan ia kelihatan galak.
Ia memandang sebuah bangunan di hadapannya, tembok raksasa yang mengitari sebuah bangunan kastil di dalamnya.
"Tidak ada yang mengatakan kalau bangunan ini punya benteng," seru lelaki tersebut.
"Benteng ini dibangun pada pertahanan terhadap Aliansi," seru seorang perempuan, dia kelihatan tidak lebih tua dari lelaki tadi, parasnya cantik, tetapi matanya selalu menatap serius dengan kacamatanya.
Satu orang lagi keluar, kali ini seorang pemuda berumur 20 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di sekolah militer, mereka semua mengenakan jubah hijau bersih berlambang kerajaan yang menutupi seluruh pakaian serta tubuh mereka.
Mereka menghabiskan waktu mengelilingi kastil tersebut, memang benar, kastil itupun sudah hampir hancur dengan tembok yang runtuh, ruangan yang rusak, pohon yang layu, serta masalah-masalah lainnya.
seusai berkeliling, mereka kembali ke ruang tengah kastil untuk saling berdiskusi.
"Bagaimana, Kepala Sekolah?" perempuan itu bertanya pada lelaki berbadan besar.
"Jangan panggil aku Kepala Sekolah, Jeanne, aku belum menjadi Kepala Sekolah sungguhan,"
"Tinggal masalah waktu," jawab Jeanne, "Bagaimana menurutmu, Laurent?"
"Menurutku semua masalah ini bisa diselesaikan dengan bantuan Kayla dan sihir milik Eve."
"Kau benar," tukas Jeanne,
"Jadi bagaimana, Kepala Sekolah?"
Lelaki yang terus menerus dipanggil kepala sekolah menatap tajam pada mereka berdua, kemudian, dia melengos,
"Panggil Kayla dan Eve secepatnya, sekolah ini harus segera siap dalam waktu 3 bulan untuk angkatan pertama kita."
Jeanne mengangguk, ia pergi keluar dan mengeluarkan secarik surat.
dengan tangannya, Jeanne membentuk kertas tersebut menjadi origami burung, ia menaruh burung origami tersebut di telapak tangannya, melantunkan mantra sihir, dan burung kertas tersebut terbang ke angkasa.
***
3 bulan kemudian...
"Wah..." Gadis itu terpana ketika ia pertama kali keluar dari kereta kuda tersebut, dihadapan kami, berdiri sebuah gerbang dengan kastil sekolahnya yang cerah dan elegan, persis seperti akademi sihir yang selalu kami baca di buku cerita saat kami kecil.
"Tom lihat! lihat!" gadis di hadapanku menunjuk-nunjuk gedung kastil tersebut,
Tifial de Union
Akademi sihir yang baru saja berdiri oleh perintah raja Michael 3 bulan lalu.
"Kerajaan Michaella terkenal dengan para mage dan pendidikannya yang paling maju, tidak heran mereka butuh banyak sekolah sihir untuk menampung siswa, yah, tidak hanya para penyihir yang bersekolah di sekolah sihir, Ksatria dan Prajurit juga ditempa di tempat yang sama."
"Dengan kata lain, ini sekolah untuk para pahlawan bukan?"
Sebuah suara mengagetkanku.
Seorang lelaki berambut putih dengan pedang bersandin di punggungnya berdiri di hadapanku.
"Maaf mengganggu kata-katamu, tapi kau menghalangi jalan," kata lelaki tersebut.
"Oh, maaf." aku segera menyingkir dan mempersilahkan dia lewat.
"Cukup aneh bukan? untuk sekolah yang baru dibuka, hanya ada sedikit murid yang datang?"
lelaki tersebut menggotong sebuah kotak besar dengan tas kulitnya yang ia bawa di kanan-kiri bahunya yang berotot.
Aku menoleh ke belakang, memperhatikan murid-murid yang berada satu angkatan denganku.
Teman masa kecilku, Anete Axylia
Lelaki berotot dengan cita-citanya sebagai ksatria, Bixon Lorelei
Dan seorang gadis alchemist pendiam berambut kuning emas, Aya Grimoire.
"Aku kira hal ini cukup normal karena ini satu-satunya sekolah yang tersisa untuk kita, karena dari 100 akademi sihir wilayah barat, hanya sekolah ini yang tersisa untuk menampung kita."
Bixon menggotong kotaknya yang terakhir, dan menumpuknya di sisi jalan.
"Oke, ini barangku yang terakhir," katanya. "Hei Aya! ayo keluar! kau menghabiskan saat-saat yang menggembirakan."
Seorang gadis cilik berambut pirang bak emas keluar dari kereta kuda.
"Kak, bisakah kita tidak membicarakan ini lagi?" seru gadis itu sembari keluar dengan enggan.
"Kau sudah berjanji padaku kalau kau masuk sekolah sihir, berarti kau harus aktif untuk keluar, sekarang ayo ambil barang-barangmu!"
Seorang perempuan berambut merah datang dengan tumpukan kertas di tangannya, diikuti dengan itu, datang pula seorang perempuan penempa besi, gadis cantik dengan pakaian suster, dan seorang pemuda dengan armor Scout.
"Selamat datang di Tifial de Union, sekolah bagi para pahlawan dan para cendikiawan, kami dengan hormat menyambut kalian, angkatan pertama sekolah ini, semoga dengan kerja sama kalian, kita bisa menjadi suatu kesatuan yang hebat!"
Kami terdiam saat mereka menyambut kami, entah apa yang akan terjadi pada hidupku setelah masuk sekolah ini, aku ingin cepat melihat apa yang akan terjadi esok hari.
Senin, 12 Mei 2014
Kokoro ini lelah
aku senang setidaknya ini adalah blog yang tersembunyi dibalik rimbunan blog-blog yang jauh lebih berkualitas, sehingga tidak ada orang yang mencela isi blog ini, dan mungkin menghinaku lewat internet layaknya cyber-bullying yang kerap terjadi.
hari ini aku sakit demam, sejujurnya sakitnya disebabkan karena kenggananku akan sekolah. Sekolahku berasrama dan merupakan sekolah bergengsi di Cikarang, dibilang bergengsi pun aku sebenarnya tidak mau bersekolah disitu, serius, aku tidak suka dikekang 24 jam dalam kamar sempit berisi 4 orang, aku lelah jika hidup seperti dipenjara, apalagi dipaksa makan makanan yang tak enak.
kelihatannya aku egois? ya, memang aku adalah orang egois
aku merasakan rasa terbakar, luka, dan hilangnya rasa cintaku akan dunia karena sekolah itu
aku bisa merasakannya, bahwa perlahan-lahan tubuh ini semata hanyalah daging yang bergerak menurut perintah
aku jadi robot
jujur, aku tidak kuat dengan semua ini
aku capek, lelah
ingin pindah, tetapi tidak bisa
seandainya dulu aku masuk SMK saja, aku akan mempunyai skill kerja sendiri, dilatih secara praktek lebih penting buatku, kenapa? kenapa orang tuaku harus memasukanku ke SMA hanya karena mereka ingin aku kuliah? aku bisa kuliah walau ikut SMK, lagipula jurusan yang akan kumasuki adalah Sastra, demi tuhan, apa bedanya SMA dan SMK jika jurusan nanti yang dipilih adalah SASTRA?
aku memang egois, aku menumpahkan kesalahan pada orang tuaku, padahal aku tahu, kesalahan mungkin berasal dari diriku sendiri, kesalahan yang berawal dari sifat dasarku sebagai penulis blog ini, lagipula apa-apaan nama blog ini? jujur saya sendiri meludah ketika melihat post tentang nama blog ini, Everyday Menu karena saya mengambil makna dari tiap hari, jujur yang saya dapat tiap hari hanya makna sampah seperti tahi ayam
intinya dari post ini, adalah penulis menuangkan rasa kecewanya pada dunia dengan kata-kata berbelit dan berlebihan, ungkapan tak bermakna, kata-kata penuh cela pada dunia, setan bangsat yang baru keluar dari neraka.
rasanya pengen cepet-cepet cabut, tapi seperti kata orang
mati segan, hidup tak pantas.
Minggu, 15 Desember 2013
Gereja, Gelap, Semut
Tangannya kembali tertangkup, berdoalah ia pada Tuhan-Nya, seorang manusia biasa yang bukanlah orang yang taat, seperti manusia biasa lain, ia merangkak kembali pada salib ketika kesulitan baru datang kepadanya, ia berdoa, berdoa dengan keraguan, berdoa dengan harapan yang disemuti rasa 'bagaimana kalau' dan rasa tidak percaya akan keajaiban-keajaiban yang dikatakan orang-orang taat kepadanya.
"Semakin jenuh, pergilah ia," Sang Pastor yang sudah hapal akan wajah itu, memperhatikannya dari jauh, alkitab serta rosario di tangannya, hanya bisa mendoakan pria itu dari jauh, bukan karena Pastor itu tak peduli, bukan karena dia takut akan peranakan pria itu yang memang menakutkan, ia hanya tahu bahwa sang lelaki itu hanyalah makhluk penyendiri yang hanya bisa berharap suaranya pula didengar oleh Tuhan, disini, di sebuah Dunia bernama gereja yang berpenghuni Pastor, Lelaki tersebut, dan Tuhan, ketika lelaki itu ingin mengobrol empat mata, hanya kepada Tuhan yang memiliki seluruh dunia, Sang Pastor akan menjaganya dari jauh.
Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan gereja, usai percakapannya dengan Tuhan, usai ia melantunkan permintaannya, ia menggaruk dadanya, mencoba menyingkirkan semut-semut yang merambat jantungnya. Ia pergi, pergi dan menatap langit, langit gelap, tak ada bintang, bulan bersembunyi, sekali lagi malam gelap sialan, sial, apa salahnya hingga permintaannya tak didengar Tuhan? sialan, sial, sialan, ia tak tahu arah, bukit terlalu gelap, tak ada penerangan, tak ada apa-apa, hanya gelap.
Di balik jendela gereja, Pastor itu hanya bisa mendoakannya.
Selasa, 17 September 2013
Surat Untuk Gadis Kecil
Untuk si Gadis Kecil
Halo Gadis Kecil,
Apa kabarmu hari ini?
Kabarku baik, sangat baik.
Hari ini aku melihat ke langit,
Dan kutemukan rupa wajahmu di angkasa.
Hari ini, awan mengarak pelan,
Kembali ku teringat pertemuan terakhir kita
Walaupun singkat, tapi penuh makna.
Gadis Kecil,
Sepertinya tidak cocok untuk memanggilmu Gadis Kecil lagi,
Engkau sudah tumbuh dewasa,
Rupamu cantik laksana Gadis Belia di masa remajanya...
Gadis Kecil,
Masihkah engkau mengarungi angkasa?
Masihkah engkau membentangkan sayap biru raksasamu?
Gadis Kecil,
Teruslah mengarungi langitku,
Teruslah berada diatas awang-awangku...
Hingga waktunya, kita bertemu lagi
Satu tahun dari saat ini.
Kamis, 12 September 2013
One Week Shot
Cukup lama sejak terakhir saya update, sekitar 3 minggu lebih sejak post saya tentang Warrior of Happiness.
Malam ini, saya ingin melanjutkan tulisan saya, khususnya pada label Meals, yang agaknya mulai ketinggalan dengan label-label cerita saya. Jadi, menginjak umur saya yang tahun ini jadi 16 dan kenaikan pangkat evolet saya menjadi pangkat 2, (saya kelas 2 SMA) menjadi tanda waktu yang telah saya lalui SMA ini, sebuah SMA asrama dimana saya telah mengenyam pendidikan selama setahun, dan lanjut 2 tahun lagi hingga nanti saya akan lulus dan merantau lebih jauh lagi ke universitas tertentu demi dunia jurnalistik yang sudah saya jadikan kiblat hidup sejak saya menginjak masa remaja.
Seperti orang tua kita katakan, semakin tua, semakin dewasa, semakin bijaklah semestinya seorang manusia dalam hidupnya. Aspek-aspek kehidupan yang dilalui hendaknya bisa menjadi checklist bagi kita agar bisa menjadi sosok yang dapat bertahan hidup di alam liar manusia yang saya sebut 'masyarakat'. Banyak yang saya pelajari sejak saya beranjak dewasa, mulai dari proses perubahan, berkembangnya pikiran saya menuju kedewasaan, tumbuhnya keberanian untuk berpikir berbeda, serta kita yang mempelajari hasrat antar manusia. Perlahan, saya meninggalkan kekanakan saya yang dulu, masa-masa dimana saya minta diambilkan dan minta dibelikan, kini saya menjadi orang yang mengambilkan atau membelikan, rasa rindu akan kehidupan lama tentunya ada, namun tidak ada satupun hal abadi di dunia.
Dunia berubah seiring waktu berubah, manusia berubah pula, entah ukuran tubuhnya, ataupun dalam hal pemikiran
Kecuali kebodohan manusia, tidak akan pernah berubah.
Kembali ke diri saya bersama topik tentang umur dan waktu, saya mendapatkan adik kelas tahun ini. Adik-adik kelas 10 yang kini menggunakan kurikulum pelajaran berbeda dari kami sekalian yang masih menggunakan kurikulum lama. Tahun ini, giliran kami yang akan menjadi pemegang tongkat kegiatan SMA kami, dimana senior kelas 12 akan resmi melepas jabatannya untuk konsentrasi akan Ujian Nasional, dan dimana angkatan saya memegang kepemimpinan penuh pada murid-murid disini.
Kami berharap menjadi sebuah angkatan perubahan, angkatan baru yang akan membawa nama sekolah ini menjadi lebih baik dan lebih terpandang.
Karena itu juga cita-cita senior kami, sejak dulu hingga sekarang.
Malam makin larut, dan tulisan pendek ini rupanya membuat saya memakan waktu setengah jam untuk menuliskannya, sebab itu, Java Kitchen akan mundur sejenak dan beristirahat hingga waktu yang belum ditentukan, untuk semua yang telah membaca blog ini hingga postingan ini, saya mengucapkan terima kasih.