gasp
maksudnya ini suara tarikan napas tiba-tiba.
mengerti kan? maksudnya saat kau sedang tidur, kemudian kau mengalami mimpi buruk, secara tiba-tiba kau menarik napas dan terbangun dengan keringat dingin?
ya, hal itu sedang terjadi padaku saat ini.
"Oy? sudah bangun? gimana tidurmu? nyenyak?"
suara itu masih menjengkelkan, aku menegaskan kembali bahwa suara itu seperti curut yang mencicit ketika tubuhnya diinjak
"Apa pedulimu cebol?" aku meneriaki makhluk itu sekali lagi, jubah hitam yang dipakainya selalu menutupi tubuhnya yang semakin lama semakin mengecil, aku yakin pertama kali bertemu dengannya dia masih tinggi, kira-kira sama sepertiku, dia selalu memakai topeng yang mengerikan.
"Kita di laut." jawabnya
dihadapanku terbentang luas air yang tiada habisnya, akan tetapi tidak sampai di ujung cakrawala, kabut menutupi laut ini.
ini adalah laut paling suram yang pernah kulihat.
"Kita akan meninggalkan pulau ini," kata cebol itu sekali lagi padaku.
"Kita akan kembali ke Desa Cqirel, di timur laut sana. Kemudian menumpang kapal sampai ke Ibukota. Bila beruntung, mungkin kita bisa ke Kota para Elf untuk bertemu teman-teman lamamu."
dia berkata sambil terus menyiapkan bekal berupa ikan kering, rumput, serta berbotol-botol air dan memasukannya kedalam sampan.
"Memang siapa kamu?" aku meneriakinya.
"Aku sudah berjalan sampai ke pulau ini! sekarang kau mau kita kembali!?"
aku meneriakinya lagi.
terus...
dan terus kuteriaki.
Mengapa aku datang ke pulau ini?
Mengapa?...
"HEI KAU DENGAR AKU TIDAK!?"
DUAK!!
benda keras menghantam sisi kepalaku, cukup keras sampai sepertinya benda itu telah patah menjadi dua.
dengan mata yang kabur akibat pukulan dayung tersebut, aku lihat lagi si cebol itu, memegang sisa-sisa dayung dengan kedua tangannya.
"Kamu ini manusia yang bayak omong, pengecut, bebal pula ya."
"Datang kesini untuk mati. tapi sepertinya kamu terlalu menyedihkan untuk itu."
"Sana, mulai lagi perjalanannmu, kalau kau tidak berubah kali ini, akan kumangsa jiwamu."
dan dengan satu pukulan lagi, aku ambruk kedalam sampan tersebut.
Senin, 28 Juli 2014
Selasa, 15 Juli 2014
Perjalanan di Tanah yang Selalu Hujan
"Jadi gimana, Jiva?"
Aku mendengar sosok dihadapanku memulai pembicaraan, sembari menikmati roti keras kami di tengah padang gurun yang menitikan butiran air hujan. Nada pertanyaan itu terdengar menjengkelkan - seperti yang selalu dia lakukan.
"Kapok aku."
"Yakin kapok?"
Suara itu kembali menggema di gendang telingaku, makhluk sialan ini, tanpa sedikitpun menurunkan topeng di wajahnya, ia menyelipkan potongan-potongan roti keras lewat dagu dari bawah topengnya, sesaat kemudian terdengar suara orang mengunyah dan mengecap.
"Kau menjijikan." komentarku
"Lebih menjijikan mana dibanding orang yang menghabiskan koin emas untuk peralatan ritual tak berguna? kemana lagi koin perak yang hilang diraib penipu di kota Fargard?"
"Oh, ya, itu kau Jiva, dan sebagai tambahan, kau bukan hanya menjijikan, tapi kau juga dungu dan naif."
"Aku membencimu,"
ia terkekeh, "Memang seharusnya begitu, Jiva!"
Kami melanjutkan makan malam itu dengan sunyi antar satu-sama lain. Setelah kejadian seminggu lalu, aku merasa bisa mempercayai makhluk kecil ini, cebol kegelapan yang muncul entah darimana, tidak bisa dipukul, dan terus mengikuti diriku, menghujaniku dengan hal-hal yang tak ingin kudengar lagi.
Sampai saat ini aku tak menyangka akan berjalan di tempat ini, padahal kudengar hanya orang kesurupan, orang gila, dan orang putus asa yang akan datang ke 'Tanah di Ujung Dunia' sebutan orang-orang selain 'Daratan yang Selalu Hujan'
tidak ada daratan yang dapat ditemui setelah melewati pulau ini, hanya akan ada laut. Beberapa orang bahkan percaya kalau kau berlayar lebih jauh dari itu, maka kau akan bertemu Pinggiran Dunia dan akan jatuh ke langit.
"Orang-orang pintar di dunia ini menganggap dunia mempunyai pinggiran."
suara serak mencicit yang muncul dari mulut makhluk itu membuatku tersentak.
"Tetapi apakah mampu seorang yang tanpa latar belakang, tanpa pendidikan, dan tanpa siapapun yang mengenalnya tiba-tiba berteriak di hadapan mereka, 'Dunia itu bulat!'"
Aku bisa merasakan bahwa dia menatapku. Menatapku seakan ia meminta komentar dari kata-katanya barusan.
"Kau bertanya pertanyaan yang konyol, sudah pasti ia akan didepak dari tempat itu, dan dia akan disebut orang gila."
Ia terdiam, ada jeda waktu cukup lama sampai ia tertawa dengan nada aneh.
heh.... heh.... heh....
"Orang pintar memang selalu dipandang orang bodoh ya?"
"Huh?"
"Bila Dunia itu datar, berarti akan ada batasan dari segala hal, tetapi, apakah pernah kamu lihat, Jiva, dunia tanpa batasan dimana semua kemungkinan adalah infinite?"
"Apakah kamu tidak mau beranggapan Jiva, bahwa ada kemungkinan lain di atas langit sana, seperti keberadaan makhluk hidup di bintang nun jauh disana?"
Aku terdiam, pernyataan si cebol hitam ini entah bagaimana cukup menarik, walaupun ada omong kosong yang tidak aku setujui disana.
"Aku pernah berpikir seperti itu," jawabku, "Tetapi aku sadar bahwa hal itu tidak akan mendatangkan keuntungan materiil, maka aku mulai berpikir realistis setelah itu,"
"Ah, manusia memang bebal! uang ini-itu! barang ini-itu!" cebol itu sekali lagi mengumpat, kamudian memasukan sisa besar biskuit keras ke mulutnya secara paksa dan membuang bungkusnya ke perapian.
"Hei, aku hanya mencoba berpikir realistis," protesku
"Ketika otak bebalmu sudah bisa mengartikan 'realistis' dengan benar, baru kau kembali berpikir, dasa dungu kepala batu!"
Sudahlah, marahpun tidak akan ada gunanya pada makhluk satu ini.
Ia mulai menghujaniku dengan hinaan dan caci-maki, tetapi sudahlah, memang itu tugas makhluk jahanam ini, aku sudah terbiasa dengannya.
Kami menghabiskan malam itu seperti biasa, ditemani rintik hujan, dan mengamati bintang.
Ah, sudah berapa lama aku tidak mengamati bintang? sepertinya sudah lama aku tidak membayangkan luar angkasa itu, sebuah dunia penuh bintang dimana galaksi terlihat seperti kabut bercahaya, dimana kau bisa membayangkan duniamu sendiri dan dimana... dimana seperti yang cebol itu bilang.
Dunia tanpa batas...
apakah benar itu ada, dunia yang tanpa batas itu?
pantaskah kucari, dunia tanpa batas yang dia katakan?
Aku bangkit, kemudian melihat di kejauhan langit.
"Apakah kau disana?"
"Tolong katakan padaku.... dapatkah aku mencapai dunia itu?"
Aku mendengar sosok dihadapanku memulai pembicaraan, sembari menikmati roti keras kami di tengah padang gurun yang menitikan butiran air hujan. Nada pertanyaan itu terdengar menjengkelkan - seperti yang selalu dia lakukan.
"Kapok aku."
"Yakin kapok?"
Suara itu kembali menggema di gendang telingaku, makhluk sialan ini, tanpa sedikitpun menurunkan topeng di wajahnya, ia menyelipkan potongan-potongan roti keras lewat dagu dari bawah topengnya, sesaat kemudian terdengar suara orang mengunyah dan mengecap.
"Kau menjijikan." komentarku
"Lebih menjijikan mana dibanding orang yang menghabiskan koin emas untuk peralatan ritual tak berguna? kemana lagi koin perak yang hilang diraib penipu di kota Fargard?"
"Oh, ya, itu kau Jiva, dan sebagai tambahan, kau bukan hanya menjijikan, tapi kau juga dungu dan naif."
"Aku membencimu,"
ia terkekeh, "Memang seharusnya begitu, Jiva!"
Kami melanjutkan makan malam itu dengan sunyi antar satu-sama lain. Setelah kejadian seminggu lalu, aku merasa bisa mempercayai makhluk kecil ini, cebol kegelapan yang muncul entah darimana, tidak bisa dipukul, dan terus mengikuti diriku, menghujaniku dengan hal-hal yang tak ingin kudengar lagi.
Sampai saat ini aku tak menyangka akan berjalan di tempat ini, padahal kudengar hanya orang kesurupan, orang gila, dan orang putus asa yang akan datang ke 'Tanah di Ujung Dunia' sebutan orang-orang selain 'Daratan yang Selalu Hujan'
tidak ada daratan yang dapat ditemui setelah melewati pulau ini, hanya akan ada laut. Beberapa orang bahkan percaya kalau kau berlayar lebih jauh dari itu, maka kau akan bertemu Pinggiran Dunia dan akan jatuh ke langit.
"Orang-orang pintar di dunia ini menganggap dunia mempunyai pinggiran."
suara serak mencicit yang muncul dari mulut makhluk itu membuatku tersentak.
"Tetapi apakah mampu seorang yang tanpa latar belakang, tanpa pendidikan, dan tanpa siapapun yang mengenalnya tiba-tiba berteriak di hadapan mereka, 'Dunia itu bulat!'"
Aku bisa merasakan bahwa dia menatapku. Menatapku seakan ia meminta komentar dari kata-katanya barusan.
"Kau bertanya pertanyaan yang konyol, sudah pasti ia akan didepak dari tempat itu, dan dia akan disebut orang gila."
Ia terdiam, ada jeda waktu cukup lama sampai ia tertawa dengan nada aneh.
heh.... heh.... heh....
"Orang pintar memang selalu dipandang orang bodoh ya?"
"Huh?"
"Bila Dunia itu datar, berarti akan ada batasan dari segala hal, tetapi, apakah pernah kamu lihat, Jiva, dunia tanpa batasan dimana semua kemungkinan adalah infinite?"
"Apakah kamu tidak mau beranggapan Jiva, bahwa ada kemungkinan lain di atas langit sana, seperti keberadaan makhluk hidup di bintang nun jauh disana?"
Aku terdiam, pernyataan si cebol hitam ini entah bagaimana cukup menarik, walaupun ada omong kosong yang tidak aku setujui disana.
"Aku pernah berpikir seperti itu," jawabku, "Tetapi aku sadar bahwa hal itu tidak akan mendatangkan keuntungan materiil, maka aku mulai berpikir realistis setelah itu,"
"Ah, manusia memang bebal! uang ini-itu! barang ini-itu!" cebol itu sekali lagi mengumpat, kamudian memasukan sisa besar biskuit keras ke mulutnya secara paksa dan membuang bungkusnya ke perapian.
"Hei, aku hanya mencoba berpikir realistis," protesku
"Ketika otak bebalmu sudah bisa mengartikan 'realistis' dengan benar, baru kau kembali berpikir, dasa dungu kepala batu!"
Sudahlah, marahpun tidak akan ada gunanya pada makhluk satu ini.
Ia mulai menghujaniku dengan hinaan dan caci-maki, tetapi sudahlah, memang itu tugas makhluk jahanam ini, aku sudah terbiasa dengannya.
Kami menghabiskan malam itu seperti biasa, ditemani rintik hujan, dan mengamati bintang.
Ah, sudah berapa lama aku tidak mengamati bintang? sepertinya sudah lama aku tidak membayangkan luar angkasa itu, sebuah dunia penuh bintang dimana galaksi terlihat seperti kabut bercahaya, dimana kau bisa membayangkan duniamu sendiri dan dimana... dimana seperti yang cebol itu bilang.
Dunia tanpa batas...
apakah benar itu ada, dunia yang tanpa batas itu?
pantaskah kucari, dunia tanpa batas yang dia katakan?
Aku bangkit, kemudian melihat di kejauhan langit.
"Apakah kau disana?"
"Tolong katakan padaku.... dapatkah aku mencapai dunia itu?"
Selasa, 08 Juli 2014
Circus Monster
Tirai terangkat,
Sorak-sorai kembali membahana.
Diluar sana, diluar kandang besi yang menyekapku,
sudah menunggu orang-orang yang menunggu untuk melihat.
Seorang Gadis Monster, seorang gadis iblis
Gadis aneh dengan tanduk sapi di kepalanya
Walaupun wajahnya cantik menawan,
semua orang selalu saja menunjuk tanduk di kepalanya,
Menunjuk-nunjuk sambil meneriakan satu kata yang sama.
"Iblis!"
Seorang Gadis yang cantik menawan
engkau akan menyangka bahwa ia titisan dewi
tetapi dengan tanduk itu
siapa yang akan peduli?
Hari ini pun sang gadis menjalani harinya
dalam kandang penuh olokan dari orang kaya
yang membayar untuk menontonnya.
(Based on "Circus Monster" song by Vocaloid)
Sorak-sorai kembali membahana.
Diluar sana, diluar kandang besi yang menyekapku,
sudah menunggu orang-orang yang menunggu untuk melihat.
Seorang Gadis Monster, seorang gadis iblis
Gadis aneh dengan tanduk sapi di kepalanya
Walaupun wajahnya cantik menawan,
semua orang selalu saja menunjuk tanduk di kepalanya,
Menunjuk-nunjuk sambil meneriakan satu kata yang sama.
"Iblis!"
Seorang Gadis yang cantik menawan
engkau akan menyangka bahwa ia titisan dewi
tetapi dengan tanduk itu
siapa yang akan peduli?
Hari ini pun sang gadis menjalani harinya
dalam kandang penuh olokan dari orang kaya
yang membayar untuk menontonnya.
(Based on "Circus Monster" song by Vocaloid)
Minggu, 06 Juli 2014
Daratan yang selalu hujan
Jadi disinilah aku kembali berdiri,
daratan kelabu, berbatu, dan hanya sedikit tanaman yang tumbuh.
kehidupan menjauhi tanah ini
tetes-tetes air menjatuhi bumi daratan ini
malaikat menangisi tanah ini
Tuhan berkeringat berusaha terus memperbaikinya
tetapi tidak sejengkalpun pohon dapat tumbuh dan berdiri tegak
Aku berdiri terpaku, melihat di kejauhan tanpa ada yang pantas ditunggu, yang kulihat bukanlah harapan, yang kulihat adalah bukit-bukit kering, sekering hati ini, sekering hatimu, sekering harapan mereka yang tidak percaya.
"Apa yang kau nanti?" sebuah suara mengerang di sampingku.
jujur, aku bahkan tidak ingat bahwa dia ada disini.
sosok bertopeng itu sedikit lebih pendek dariku, ia mengenakan jubah hitam kelam, satu-satunya hal yang memisahkan dirinya dengan kelabu langit adalah topeng yang dipakainya.
Topeng putih dengan ukiran bibir yang merah bagaikan darah, sebuah kombinasi yang sempurna untuk menyembunyikan rupa buruk yang ada di balik topeng itu.
"Kau menanti harapan?" lanjut suara itu pelan, bagaikan suara tikus mencicit penuh ejek dihadapan kucing tua yang lemah berjalan.
"Apa ada harapan menantiku disana?" aku menjawabnya sambil menyisakan jeda yang agak panjang.
parasol hitam ini entah kenapa semakin berat, ataukah lenganku yang mulai lelah? aku tidak tahu.
sesekali, aku mengganti tangan kiri dengan tangan kanan, bergantian mempertahankan parasol hitam ini untuk tetap memayungiku dari terpaan hujan yang tidak ada habisnya.
sesaat kemudian dia tertawa.
kali ini jelas sekali dia mengejekku.
"Jiva," ia memanggilku
padahal itu bukan namaku,
"Bagi anak manusia, kehilangan harapan itu akhir dari segalanya," ia terkekeh lagi,
"Contohnya itu ya kamu,"
Aku mengerang kesal, kuayunkan tanganku untuk menempelengnya, tetapi ia hilang, lepas menjadi kabut hitam dengan bau gosong.
kemudian dia muncul di samping kananku, tertawa terbahak-bahak atas usahaku yang sia-sia.
Aku tidak mencoba untuk memukulnya lagi, karena itu akan sia-sia, terakhir aku mencoba menangkapnya, bahkan menusuknya dengan belati, dia terus menghilang dibalik bayangan itu. Makhluk sial yang entah muncul darimana, selalu saja membisikan kata-kata kotor dan hinaan kepadaku.
"Seberapa lama sih kamu sudah kehilangan Kirana?"
"Kirana?"
"Halah jangan pura-pura ngga tahu kamu!"
"Siapa heh yang buat lagu tentang Gadis Kecil itu?
Gadis yang bersayap matahari, menangis di kursi taman...
Siapa yang dengan senang hati mendongengkannya, membuatkannya lagu seindah itu kemudian menemaninya hingga ia terbang kembali?
Oh, kamu jangan pura-pura tidak tahu, Jiva, Bidadari yang kau temui itu, ya dia adalah Bidadari-mu, Kirana namanya, seperti namanya, ia anggun, bercahaya, dan cantik jelita,"
"Dia sudah tumbuh dewasa, aku percaya dia kini mencari kebahagiaan di angkasa sana,"
"KAMU GOBLOK APA TOLOL HAH!?"
Teriakan makhluk itu membuatku terlonjak, ia berteriak, marah, tetapi kemudian, dia tertawa, tawanya terbahak dan keras.
"Dasar yang namanya manusia goblok semua! telmi semua! tolol semua! ngga ada namanya perasa! kalian terlalu mengandalkan otak sama otot! nurani...! nurani itu dipakailah, Jiva!!" ia menunjuk-nunjuk dadaku seperti ada yang salah disana.
"Jangan sampai nanti kamu bilang 'nurani' itu hanya kesadaran otak, bla bla bla... hormon ini, hormon itu, bla bla bla... sedikit-sedikit DNA ini, DNA itu..."
"Kalian manusia cuman mau cari luarnya saja ya!? tidak mau tahu didalam jiwa bengis nan tololnya kalian itu, ada permata berharga yang Sang Hyang Widhi tanamkan untuk kebahagiaan kalian!"
"Kalau kalian berpikir ini omong kosong tentang pengharapan palsu, yasudahlah kalian para orang-orang bebal berpikir demikian! ditawarkan air mineral, kalian pilih air got, kalau mau menderita, menderita saja sana!"
Ia menarik nafasnya, seakan akhirnya beban kata- kata yang ia simpan telah keluar.
"Kirana itu bukan macam perempuan yang biasa kau sapa, Jiva."
"Kirana itu bukan perempuan fana yang bisa kau gengam, ataupun engkau setubuhi dengan otak lumutanmu itu! bukan!"
"Coba, siapa yang membuat lagu Gadis Kecil itu?"
"Lagu yang jauh dari sempurna, tetapi memiliki nada ketika membuatnya, lagu yang jauh dari lagu-lagu para penyair, tetapi jiwa ketika sang pembuatnya - kau sendiri, menyanyikannya, membayangkan rupa Gadis Kecil sembari membayangkan nada-nada yang mungkin cocok untuk dinyanyikan."
"Itu..."
"Apa seorang manusia rela melakukan sedemikian rupa untuk suatu hal yang tak fana?"
Aku terdiam mematung, kata-kata makhluk ini, semuanya jelas, seakan menusuk nuraniku, memaksanya untuk bangkit.
"Kau telah berjuang 2 tahun ini dalam tubuh manusiamu, tetapi saatnya untuk kembali, Jiva." ia mendekatkan topengnya pada wajahku, saking dekatnya ia sampai aku bisa melihat matanya yang ada di balik topeng tersebut.
Mata coklat keemasan
Seperti mataku.
Disini, di daratan kelabu yang selalu turun hujan,
aku memandang pada bukit kering kerontang di kejauhan.
Ini mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi aku melihat cahaya sayap Kirana jauh di kaki langit.
daratan kelabu, berbatu, dan hanya sedikit tanaman yang tumbuh.
kehidupan menjauhi tanah ini
tetes-tetes air menjatuhi bumi daratan ini
malaikat menangisi tanah ini
Tuhan berkeringat berusaha terus memperbaikinya
tetapi tidak sejengkalpun pohon dapat tumbuh dan berdiri tegak
Aku berdiri terpaku, melihat di kejauhan tanpa ada yang pantas ditunggu, yang kulihat bukanlah harapan, yang kulihat adalah bukit-bukit kering, sekering hati ini, sekering hatimu, sekering harapan mereka yang tidak percaya.
"Apa yang kau nanti?" sebuah suara mengerang di sampingku.
jujur, aku bahkan tidak ingat bahwa dia ada disini.
sosok bertopeng itu sedikit lebih pendek dariku, ia mengenakan jubah hitam kelam, satu-satunya hal yang memisahkan dirinya dengan kelabu langit adalah topeng yang dipakainya.
Topeng putih dengan ukiran bibir yang merah bagaikan darah, sebuah kombinasi yang sempurna untuk menyembunyikan rupa buruk yang ada di balik topeng itu.
"Kau menanti harapan?" lanjut suara itu pelan, bagaikan suara tikus mencicit penuh ejek dihadapan kucing tua yang lemah berjalan.
"Apa ada harapan menantiku disana?" aku menjawabnya sambil menyisakan jeda yang agak panjang.
parasol hitam ini entah kenapa semakin berat, ataukah lenganku yang mulai lelah? aku tidak tahu.
sesekali, aku mengganti tangan kiri dengan tangan kanan, bergantian mempertahankan parasol hitam ini untuk tetap memayungiku dari terpaan hujan yang tidak ada habisnya.
sesaat kemudian dia tertawa.
kali ini jelas sekali dia mengejekku.
"Jiva," ia memanggilku
padahal itu bukan namaku,
"Bagi anak manusia, kehilangan harapan itu akhir dari segalanya," ia terkekeh lagi,
"Contohnya itu ya kamu,"
Aku mengerang kesal, kuayunkan tanganku untuk menempelengnya, tetapi ia hilang, lepas menjadi kabut hitam dengan bau gosong.
kemudian dia muncul di samping kananku, tertawa terbahak-bahak atas usahaku yang sia-sia.
Aku tidak mencoba untuk memukulnya lagi, karena itu akan sia-sia, terakhir aku mencoba menangkapnya, bahkan menusuknya dengan belati, dia terus menghilang dibalik bayangan itu. Makhluk sial yang entah muncul darimana, selalu saja membisikan kata-kata kotor dan hinaan kepadaku.
"Seberapa lama sih kamu sudah kehilangan Kirana?"
"Kirana?"
"Halah jangan pura-pura ngga tahu kamu!"
"Siapa heh yang buat lagu tentang Gadis Kecil itu?
Gadis yang bersayap matahari, menangis di kursi taman...
Siapa yang dengan senang hati mendongengkannya, membuatkannya lagu seindah itu kemudian menemaninya hingga ia terbang kembali?
Oh, kamu jangan pura-pura tidak tahu, Jiva, Bidadari yang kau temui itu, ya dia adalah Bidadari-mu, Kirana namanya, seperti namanya, ia anggun, bercahaya, dan cantik jelita,"
"Dia sudah tumbuh dewasa, aku percaya dia kini mencari kebahagiaan di angkasa sana,"
"KAMU GOBLOK APA TOLOL HAH!?"
Teriakan makhluk itu membuatku terlonjak, ia berteriak, marah, tetapi kemudian, dia tertawa, tawanya terbahak dan keras.
"Dasar yang namanya manusia goblok semua! telmi semua! tolol semua! ngga ada namanya perasa! kalian terlalu mengandalkan otak sama otot! nurani...! nurani itu dipakailah, Jiva!!" ia menunjuk-nunjuk dadaku seperti ada yang salah disana.
"Jangan sampai nanti kamu bilang 'nurani' itu hanya kesadaran otak, bla bla bla... hormon ini, hormon itu, bla bla bla... sedikit-sedikit DNA ini, DNA itu..."
"Kalian manusia cuman mau cari luarnya saja ya!? tidak mau tahu didalam jiwa bengis nan tololnya kalian itu, ada permata berharga yang Sang Hyang Widhi tanamkan untuk kebahagiaan kalian!"
"Kalau kalian berpikir ini omong kosong tentang pengharapan palsu, yasudahlah kalian para orang-orang bebal berpikir demikian! ditawarkan air mineral, kalian pilih air got, kalau mau menderita, menderita saja sana!"
Ia menarik nafasnya, seakan akhirnya beban kata- kata yang ia simpan telah keluar.
"Kirana itu bukan macam perempuan yang biasa kau sapa, Jiva."
"Kirana itu bukan perempuan fana yang bisa kau gengam, ataupun engkau setubuhi dengan otak lumutanmu itu! bukan!"
"Coba, siapa yang membuat lagu Gadis Kecil itu?"
"Lagu yang jauh dari sempurna, tetapi memiliki nada ketika membuatnya, lagu yang jauh dari lagu-lagu para penyair, tetapi jiwa ketika sang pembuatnya - kau sendiri, menyanyikannya, membayangkan rupa Gadis Kecil sembari membayangkan nada-nada yang mungkin cocok untuk dinyanyikan."
"Itu..."
"Apa seorang manusia rela melakukan sedemikian rupa untuk suatu hal yang tak fana?"
Aku terdiam mematung, kata-kata makhluk ini, semuanya jelas, seakan menusuk nuraniku, memaksanya untuk bangkit.
"Kau telah berjuang 2 tahun ini dalam tubuh manusiamu, tetapi saatnya untuk kembali, Jiva." ia mendekatkan topengnya pada wajahku, saking dekatnya ia sampai aku bisa melihat matanya yang ada di balik topeng tersebut.
Mata coklat keemasan
Seperti mataku.
Disini, di daratan kelabu yang selalu turun hujan,
aku memandang pada bukit kering kerontang di kejauhan.
Ini mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi aku melihat cahaya sayap Kirana jauh di kaki langit.
Rabu, 25 Juni 2014
Valthirian Arc - Welcome to The School!
Jauh dibalik pegunungan Cyandel dimana para elf tinggal
Menembus kegelapan misterius hutan Diata
Dan melintasi lautan luas Alkeian
Tersebutlah sebuah pulau kecil dengan penduduknya yang padat.
Menurut sejarah, pulau tersebut dulunya adalah sebuah kerajaan, namun kerajaan tersebut hilang ketika kerajaan-kerajaan besar membentuk sebuah aliansi baru, secara otomatis, kerajaan kecil tersebut bergabung dengan aliansi.
Sebuah kastil tak berpenghuni di tengah pulau adalah bukti sejarah yang telah lampau, dikelilingi oleh kota-kota dengan penduduknya yang maju.
Tetapi apakah kastil tersebut hanya akan berdiri sebagai bukti sejarah?
atau adakah jiwa lain yang akan mengisi kekosongan kastil ini?
yang jelas, semuanya berubah ketika orang-orang utusan istana tiba di kastil tua tersebut.
***
Sebuah kereta kuda melaju di tengah jalan setapak yang menanjak, jalan berbatu yang sepi dilalui orang. Penduduk sekitar sini memang terkenal dengan rumor mereka, terutama tentang kastil itu.
Dulunya, kastil itu milik keluarga kerajaan bernama Fleur der Umnaid, penguasa lokal tiga ratus tahun lalu, jauh sebelum Aliansi dibentuk oleh kerajaan Gabrielle, Michaela, dan Rafaela.
Mereka percaya bahwa keluarga kerajaan Fleur der Umnaid bergabung dengan Aliansi karena suatu ancaman. Sang kepala keluarga, si Raja, menyatakan bahwa walau dia jatuh pada kekuasaan Aliansi, tetapi kelak dia akan membangun sebuah kerajaan yang lebih besar, yang lebih kuat, sehingga dia akan menguasai negara-negara aliansi sendiri.
Kemudian, setelah mengatakan hal tersebut keluarga Fleur de Umnaid dibantai pada malam itu juga.
"Ini dia, sir, ma'm, kastil der Umnaid, maaf aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini, penduduk sekitar sangat percaya mitos, dan bila mereka tahu aku mendekati kastil tersebut, bisa-bisa aku dijauhi mereka."
Seorang lelaki keluar dari dalam kereta kuda. Lelaki itu tak tampan, tetapi badannya besar, tatapan matanya tajam, dan ia kelihatan galak.
Ia memandang sebuah bangunan di hadapannya, tembok raksasa yang mengitari sebuah bangunan kastil di dalamnya.
"Tidak ada yang mengatakan kalau bangunan ini punya benteng," seru lelaki tersebut.
"Benteng ini dibangun pada pertahanan terhadap Aliansi," seru seorang perempuan, dia kelihatan tidak lebih tua dari lelaki tadi, parasnya cantik, tetapi matanya selalu menatap serius dengan kacamatanya.
Satu orang lagi keluar, kali ini seorang pemuda berumur 20 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di sekolah militer, mereka semua mengenakan jubah hijau bersih berlambang kerajaan yang menutupi seluruh pakaian serta tubuh mereka.
Mereka menghabiskan waktu mengelilingi kastil tersebut, memang benar, kastil itupun sudah hampir hancur dengan tembok yang runtuh, ruangan yang rusak, pohon yang layu, serta masalah-masalah lainnya.
seusai berkeliling, mereka kembali ke ruang tengah kastil untuk saling berdiskusi.
"Bagaimana, Kepala Sekolah?" perempuan itu bertanya pada lelaki berbadan besar.
"Jangan panggil aku Kepala Sekolah, Jeanne, aku belum menjadi Kepala Sekolah sungguhan,"
"Tinggal masalah waktu," jawab Jeanne, "Bagaimana menurutmu, Laurent?"
"Menurutku semua masalah ini bisa diselesaikan dengan bantuan Kayla dan sihir milik Eve."
"Kau benar," tukas Jeanne,
"Jadi bagaimana, Kepala Sekolah?"
Lelaki yang terus menerus dipanggil kepala sekolah menatap tajam pada mereka berdua, kemudian, dia melengos,
"Panggil Kayla dan Eve secepatnya, sekolah ini harus segera siap dalam waktu 3 bulan untuk angkatan pertama kita."
Jeanne mengangguk, ia pergi keluar dan mengeluarkan secarik surat.
dengan tangannya, Jeanne membentuk kertas tersebut menjadi origami burung, ia menaruh burung origami tersebut di telapak tangannya, melantunkan mantra sihir, dan burung kertas tersebut terbang ke angkasa.
***
3 bulan kemudian...
"Wah..." Gadis itu terpana ketika ia pertama kali keluar dari kereta kuda tersebut, dihadapan kami, berdiri sebuah gerbang dengan kastil sekolahnya yang cerah dan elegan, persis seperti akademi sihir yang selalu kami baca di buku cerita saat kami kecil.
"Tom lihat! lihat!" gadis di hadapanku menunjuk-nunjuk gedung kastil tersebut,
Tifial de Union
Akademi sihir yang baru saja berdiri oleh perintah raja Michael 3 bulan lalu.
"Kerajaan Michaella terkenal dengan para mage dan pendidikannya yang paling maju, tidak heran mereka butuh banyak sekolah sihir untuk menampung siswa, yah, tidak hanya para penyihir yang bersekolah di sekolah sihir, Ksatria dan Prajurit juga ditempa di tempat yang sama."
"Dengan kata lain, ini sekolah untuk para pahlawan bukan?"
Sebuah suara mengagetkanku.
Seorang lelaki berambut putih dengan pedang bersandin di punggungnya berdiri di hadapanku.
"Maaf mengganggu kata-katamu, tapi kau menghalangi jalan," kata lelaki tersebut.
"Oh, maaf." aku segera menyingkir dan mempersilahkan dia lewat.
"Cukup aneh bukan? untuk sekolah yang baru dibuka, hanya ada sedikit murid yang datang?"
lelaki tersebut menggotong sebuah kotak besar dengan tas kulitnya yang ia bawa di kanan-kiri bahunya yang berotot.
Aku menoleh ke belakang, memperhatikan murid-murid yang berada satu angkatan denganku.
Teman masa kecilku, Anete Axylia
Lelaki berotot dengan cita-citanya sebagai ksatria, Bixon Lorelei
Dan seorang gadis alchemist pendiam berambut kuning emas, Aya Grimoire.
"Aku kira hal ini cukup normal karena ini satu-satunya sekolah yang tersisa untuk kita, karena dari 100 akademi sihir wilayah barat, hanya sekolah ini yang tersisa untuk menampung kita."
Bixon menggotong kotaknya yang terakhir, dan menumpuknya di sisi jalan.
"Oke, ini barangku yang terakhir," katanya. "Hei Aya! ayo keluar! kau menghabiskan saat-saat yang menggembirakan."
Seorang gadis cilik berambut pirang bak emas keluar dari kereta kuda.
"Kak, bisakah kita tidak membicarakan ini lagi?" seru gadis itu sembari keluar dengan enggan.
"Kau sudah berjanji padaku kalau kau masuk sekolah sihir, berarti kau harus aktif untuk keluar, sekarang ayo ambil barang-barangmu!"
Seorang perempuan berambut merah datang dengan tumpukan kertas di tangannya, diikuti dengan itu, datang pula seorang perempuan penempa besi, gadis cantik dengan pakaian suster, dan seorang pemuda dengan armor Scout.
"Selamat datang di Tifial de Union, sekolah bagi para pahlawan dan para cendikiawan, kami dengan hormat menyambut kalian, angkatan pertama sekolah ini, semoga dengan kerja sama kalian, kita bisa menjadi suatu kesatuan yang hebat!"
Kami terdiam saat mereka menyambut kami, entah apa yang akan terjadi pada hidupku setelah masuk sekolah ini, aku ingin cepat melihat apa yang akan terjadi esok hari.
Menembus kegelapan misterius hutan Diata
Dan melintasi lautan luas Alkeian
Tersebutlah sebuah pulau kecil dengan penduduknya yang padat.
Menurut sejarah, pulau tersebut dulunya adalah sebuah kerajaan, namun kerajaan tersebut hilang ketika kerajaan-kerajaan besar membentuk sebuah aliansi baru, secara otomatis, kerajaan kecil tersebut bergabung dengan aliansi.
Sebuah kastil tak berpenghuni di tengah pulau adalah bukti sejarah yang telah lampau, dikelilingi oleh kota-kota dengan penduduknya yang maju.
Tetapi apakah kastil tersebut hanya akan berdiri sebagai bukti sejarah?
atau adakah jiwa lain yang akan mengisi kekosongan kastil ini?
yang jelas, semuanya berubah ketika orang-orang utusan istana tiba di kastil tua tersebut.
***
Sebuah kereta kuda melaju di tengah jalan setapak yang menanjak, jalan berbatu yang sepi dilalui orang. Penduduk sekitar sini memang terkenal dengan rumor mereka, terutama tentang kastil itu.
Dulunya, kastil itu milik keluarga kerajaan bernama Fleur der Umnaid, penguasa lokal tiga ratus tahun lalu, jauh sebelum Aliansi dibentuk oleh kerajaan Gabrielle, Michaela, dan Rafaela.
Mereka percaya bahwa keluarga kerajaan Fleur der Umnaid bergabung dengan Aliansi karena suatu ancaman. Sang kepala keluarga, si Raja, menyatakan bahwa walau dia jatuh pada kekuasaan Aliansi, tetapi kelak dia akan membangun sebuah kerajaan yang lebih besar, yang lebih kuat, sehingga dia akan menguasai negara-negara aliansi sendiri.
Kemudian, setelah mengatakan hal tersebut keluarga Fleur de Umnaid dibantai pada malam itu juga.
"Ini dia, sir, ma'm, kastil der Umnaid, maaf aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini, penduduk sekitar sangat percaya mitos, dan bila mereka tahu aku mendekati kastil tersebut, bisa-bisa aku dijauhi mereka."
Seorang lelaki keluar dari dalam kereta kuda. Lelaki itu tak tampan, tetapi badannya besar, tatapan matanya tajam, dan ia kelihatan galak.
Ia memandang sebuah bangunan di hadapannya, tembok raksasa yang mengitari sebuah bangunan kastil di dalamnya.
"Tidak ada yang mengatakan kalau bangunan ini punya benteng," seru lelaki tersebut.
"Benteng ini dibangun pada pertahanan terhadap Aliansi," seru seorang perempuan, dia kelihatan tidak lebih tua dari lelaki tadi, parasnya cantik, tetapi matanya selalu menatap serius dengan kacamatanya.
Satu orang lagi keluar, kali ini seorang pemuda berumur 20 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di sekolah militer, mereka semua mengenakan jubah hijau bersih berlambang kerajaan yang menutupi seluruh pakaian serta tubuh mereka.
Mereka menghabiskan waktu mengelilingi kastil tersebut, memang benar, kastil itupun sudah hampir hancur dengan tembok yang runtuh, ruangan yang rusak, pohon yang layu, serta masalah-masalah lainnya.
seusai berkeliling, mereka kembali ke ruang tengah kastil untuk saling berdiskusi.
"Bagaimana, Kepala Sekolah?" perempuan itu bertanya pada lelaki berbadan besar.
"Jangan panggil aku Kepala Sekolah, Jeanne, aku belum menjadi Kepala Sekolah sungguhan,"
"Tinggal masalah waktu," jawab Jeanne, "Bagaimana menurutmu, Laurent?"
"Menurutku semua masalah ini bisa diselesaikan dengan bantuan Kayla dan sihir milik Eve."
"Kau benar," tukas Jeanne,
"Jadi bagaimana, Kepala Sekolah?"
Lelaki yang terus menerus dipanggil kepala sekolah menatap tajam pada mereka berdua, kemudian, dia melengos,
"Panggil Kayla dan Eve secepatnya, sekolah ini harus segera siap dalam waktu 3 bulan untuk angkatan pertama kita."
Jeanne mengangguk, ia pergi keluar dan mengeluarkan secarik surat.
dengan tangannya, Jeanne membentuk kertas tersebut menjadi origami burung, ia menaruh burung origami tersebut di telapak tangannya, melantunkan mantra sihir, dan burung kertas tersebut terbang ke angkasa.
***
3 bulan kemudian...
"Wah..." Gadis itu terpana ketika ia pertama kali keluar dari kereta kuda tersebut, dihadapan kami, berdiri sebuah gerbang dengan kastil sekolahnya yang cerah dan elegan, persis seperti akademi sihir yang selalu kami baca di buku cerita saat kami kecil.
"Tom lihat! lihat!" gadis di hadapanku menunjuk-nunjuk gedung kastil tersebut,
Tifial de Union
Akademi sihir yang baru saja berdiri oleh perintah raja Michael 3 bulan lalu.
"Kerajaan Michaella terkenal dengan para mage dan pendidikannya yang paling maju, tidak heran mereka butuh banyak sekolah sihir untuk menampung siswa, yah, tidak hanya para penyihir yang bersekolah di sekolah sihir, Ksatria dan Prajurit juga ditempa di tempat yang sama."
"Dengan kata lain, ini sekolah untuk para pahlawan bukan?"
Sebuah suara mengagetkanku.
Seorang lelaki berambut putih dengan pedang bersandin di punggungnya berdiri di hadapanku.
"Maaf mengganggu kata-katamu, tapi kau menghalangi jalan," kata lelaki tersebut.
"Oh, maaf." aku segera menyingkir dan mempersilahkan dia lewat.
"Cukup aneh bukan? untuk sekolah yang baru dibuka, hanya ada sedikit murid yang datang?"
lelaki tersebut menggotong sebuah kotak besar dengan tas kulitnya yang ia bawa di kanan-kiri bahunya yang berotot.
Aku menoleh ke belakang, memperhatikan murid-murid yang berada satu angkatan denganku.
Teman masa kecilku, Anete Axylia
Lelaki berotot dengan cita-citanya sebagai ksatria, Bixon Lorelei
Dan seorang gadis alchemist pendiam berambut kuning emas, Aya Grimoire.
"Aku kira hal ini cukup normal karena ini satu-satunya sekolah yang tersisa untuk kita, karena dari 100 akademi sihir wilayah barat, hanya sekolah ini yang tersisa untuk menampung kita."
Bixon menggotong kotaknya yang terakhir, dan menumpuknya di sisi jalan.
"Oke, ini barangku yang terakhir," katanya. "Hei Aya! ayo keluar! kau menghabiskan saat-saat yang menggembirakan."
Seorang gadis cilik berambut pirang bak emas keluar dari kereta kuda.
"Kak, bisakah kita tidak membicarakan ini lagi?" seru gadis itu sembari keluar dengan enggan.
"Kau sudah berjanji padaku kalau kau masuk sekolah sihir, berarti kau harus aktif untuk keluar, sekarang ayo ambil barang-barangmu!"
Seorang perempuan berambut merah datang dengan tumpukan kertas di tangannya, diikuti dengan itu, datang pula seorang perempuan penempa besi, gadis cantik dengan pakaian suster, dan seorang pemuda dengan armor Scout.
"Selamat datang di Tifial de Union, sekolah bagi para pahlawan dan para cendikiawan, kami dengan hormat menyambut kalian, angkatan pertama sekolah ini, semoga dengan kerja sama kalian, kita bisa menjadi suatu kesatuan yang hebat!"
Kami terdiam saat mereka menyambut kami, entah apa yang akan terjadi pada hidupku setelah masuk sekolah ini, aku ingin cepat melihat apa yang akan terjadi esok hari.
Senin, 12 Mei 2014
Kokoro ini lelah
Hei pembaca, walau tidak ada satupun yang membaca isi blog ini,
aku senang setidaknya ini adalah blog yang tersembunyi dibalik rimbunan blog-blog yang jauh lebih berkualitas, sehingga tidak ada orang yang mencela isi blog ini, dan mungkin menghinaku lewat internet layaknya cyber-bullying yang kerap terjadi.
hari ini aku sakit demam, sejujurnya sakitnya disebabkan karena kenggananku akan sekolah. Sekolahku berasrama dan merupakan sekolah bergengsi di Cikarang, dibilang bergengsi pun aku sebenarnya tidak mau bersekolah disitu, serius, aku tidak suka dikekang 24 jam dalam kamar sempit berisi 4 orang, aku lelah jika hidup seperti dipenjara, apalagi dipaksa makan makanan yang tak enak.
kelihatannya aku egois? ya, memang aku adalah orang egois
aku merasakan rasa terbakar, luka, dan hilangnya rasa cintaku akan dunia karena sekolah itu
aku bisa merasakannya, bahwa perlahan-lahan tubuh ini semata hanyalah daging yang bergerak menurut perintah
aku jadi robot
jujur, aku tidak kuat dengan semua ini
aku capek, lelah
ingin pindah, tetapi tidak bisa
seandainya dulu aku masuk SMK saja, aku akan mempunyai skill kerja sendiri, dilatih secara praktek lebih penting buatku, kenapa? kenapa orang tuaku harus memasukanku ke SMA hanya karena mereka ingin aku kuliah? aku bisa kuliah walau ikut SMK, lagipula jurusan yang akan kumasuki adalah Sastra, demi tuhan, apa bedanya SMA dan SMK jika jurusan nanti yang dipilih adalah SASTRA?
aku memang egois, aku menumpahkan kesalahan pada orang tuaku, padahal aku tahu, kesalahan mungkin berasal dari diriku sendiri, kesalahan yang berawal dari sifat dasarku sebagai penulis blog ini, lagipula apa-apaan nama blog ini? jujur saya sendiri meludah ketika melihat post tentang nama blog ini, Everyday Menu karena saya mengambil makna dari tiap hari, jujur yang saya dapat tiap hari hanya makna sampah seperti tahi ayam
intinya dari post ini, adalah penulis menuangkan rasa kecewanya pada dunia dengan kata-kata berbelit dan berlebihan, ungkapan tak bermakna, kata-kata penuh cela pada dunia, setan bangsat yang baru keluar dari neraka.
rasanya pengen cepet-cepet cabut, tapi seperti kata orang
mati segan, hidup tak pantas.
aku senang setidaknya ini adalah blog yang tersembunyi dibalik rimbunan blog-blog yang jauh lebih berkualitas, sehingga tidak ada orang yang mencela isi blog ini, dan mungkin menghinaku lewat internet layaknya cyber-bullying yang kerap terjadi.
hari ini aku sakit demam, sejujurnya sakitnya disebabkan karena kenggananku akan sekolah. Sekolahku berasrama dan merupakan sekolah bergengsi di Cikarang, dibilang bergengsi pun aku sebenarnya tidak mau bersekolah disitu, serius, aku tidak suka dikekang 24 jam dalam kamar sempit berisi 4 orang, aku lelah jika hidup seperti dipenjara, apalagi dipaksa makan makanan yang tak enak.
kelihatannya aku egois? ya, memang aku adalah orang egois
aku merasakan rasa terbakar, luka, dan hilangnya rasa cintaku akan dunia karena sekolah itu
aku bisa merasakannya, bahwa perlahan-lahan tubuh ini semata hanyalah daging yang bergerak menurut perintah
aku jadi robot
jujur, aku tidak kuat dengan semua ini
aku capek, lelah
ingin pindah, tetapi tidak bisa
seandainya dulu aku masuk SMK saja, aku akan mempunyai skill kerja sendiri, dilatih secara praktek lebih penting buatku, kenapa? kenapa orang tuaku harus memasukanku ke SMA hanya karena mereka ingin aku kuliah? aku bisa kuliah walau ikut SMK, lagipula jurusan yang akan kumasuki adalah Sastra, demi tuhan, apa bedanya SMA dan SMK jika jurusan nanti yang dipilih adalah SASTRA?
aku memang egois, aku menumpahkan kesalahan pada orang tuaku, padahal aku tahu, kesalahan mungkin berasal dari diriku sendiri, kesalahan yang berawal dari sifat dasarku sebagai penulis blog ini, lagipula apa-apaan nama blog ini? jujur saya sendiri meludah ketika melihat post tentang nama blog ini, Everyday Menu karena saya mengambil makna dari tiap hari, jujur yang saya dapat tiap hari hanya makna sampah seperti tahi ayam
intinya dari post ini, adalah penulis menuangkan rasa kecewanya pada dunia dengan kata-kata berbelit dan berlebihan, ungkapan tak bermakna, kata-kata penuh cela pada dunia, setan bangsat yang baru keluar dari neraka.
rasanya pengen cepet-cepet cabut, tapi seperti kata orang
mati segan, hidup tak pantas.
Minggu, 15 Desember 2013
Gereja, Gelap, Semut
"Semakin lama makin gelap," suara jam yang berdetik pelan, angin yang berhembus sepoi dan burung yang berkicau. layaknya seorang malaikat yang meninggalkan utusan Tuhan, cahaya sore itu meninggalkan mozaik gereja yang menggelap, perlahan digantikan oleh nyala senyap lilin-lilin di hadapan patung santo Petrus dan Bunda Maria, seorang laki-laki yang duduk diam di bangku paling belakang gereja, kecewa atas kepergian sang malaikat, dan kurang lebih, kecewa atas datangnya kegelapan yang menelan segala keindahan yang ia saksikan.
Tangannya kembali tertangkup, berdoalah ia pada Tuhan-Nya, seorang manusia biasa yang bukanlah orang yang taat, seperti manusia biasa lain, ia merangkak kembali pada salib ketika kesulitan baru datang kepadanya, ia berdoa, berdoa dengan keraguan, berdoa dengan harapan yang disemuti rasa 'bagaimana kalau' dan rasa tidak percaya akan keajaiban-keajaiban yang dikatakan orang-orang taat kepadanya.
"Semakin jenuh, pergilah ia," Sang Pastor yang sudah hapal akan wajah itu, memperhatikannya dari jauh, alkitab serta rosario di tangannya, hanya bisa mendoakan pria itu dari jauh, bukan karena Pastor itu tak peduli, bukan karena dia takut akan peranakan pria itu yang memang menakutkan, ia hanya tahu bahwa sang lelaki itu hanyalah makhluk penyendiri yang hanya bisa berharap suaranya pula didengar oleh Tuhan, disini, di sebuah Dunia bernama gereja yang berpenghuni Pastor, Lelaki tersebut, dan Tuhan, ketika lelaki itu ingin mengobrol empat mata, hanya kepada Tuhan yang memiliki seluruh dunia, Sang Pastor akan menjaganya dari jauh.
Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan gereja, usai percakapannya dengan Tuhan, usai ia melantunkan permintaannya, ia menggaruk dadanya, mencoba menyingkirkan semut-semut yang merambat jantungnya. Ia pergi, pergi dan menatap langit, langit gelap, tak ada bintang, bulan bersembunyi, sekali lagi malam gelap sialan, sial, apa salahnya hingga permintaannya tak didengar Tuhan? sialan, sial, sialan, ia tak tahu arah, bukit terlalu gelap, tak ada penerangan, tak ada apa-apa, hanya gelap.
Di balik jendela gereja, Pastor itu hanya bisa mendoakannya.
Tangannya kembali tertangkup, berdoalah ia pada Tuhan-Nya, seorang manusia biasa yang bukanlah orang yang taat, seperti manusia biasa lain, ia merangkak kembali pada salib ketika kesulitan baru datang kepadanya, ia berdoa, berdoa dengan keraguan, berdoa dengan harapan yang disemuti rasa 'bagaimana kalau' dan rasa tidak percaya akan keajaiban-keajaiban yang dikatakan orang-orang taat kepadanya.
"Semakin jenuh, pergilah ia," Sang Pastor yang sudah hapal akan wajah itu, memperhatikannya dari jauh, alkitab serta rosario di tangannya, hanya bisa mendoakan pria itu dari jauh, bukan karena Pastor itu tak peduli, bukan karena dia takut akan peranakan pria itu yang memang menakutkan, ia hanya tahu bahwa sang lelaki itu hanyalah makhluk penyendiri yang hanya bisa berharap suaranya pula didengar oleh Tuhan, disini, di sebuah Dunia bernama gereja yang berpenghuni Pastor, Lelaki tersebut, dan Tuhan, ketika lelaki itu ingin mengobrol empat mata, hanya kepada Tuhan yang memiliki seluruh dunia, Sang Pastor akan menjaganya dari jauh.
Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan gereja, usai percakapannya dengan Tuhan, usai ia melantunkan permintaannya, ia menggaruk dadanya, mencoba menyingkirkan semut-semut yang merambat jantungnya. Ia pergi, pergi dan menatap langit, langit gelap, tak ada bintang, bulan bersembunyi, sekali lagi malam gelap sialan, sial, apa salahnya hingga permintaannya tak didengar Tuhan? sialan, sial, sialan, ia tak tahu arah, bukit terlalu gelap, tak ada penerangan, tak ada apa-apa, hanya gelap.
Di balik jendela gereja, Pastor itu hanya bisa mendoakannya.
Langganan:
Postingan (Atom)