Senin, 12 Mei 2014
Kokoro ini lelah
aku senang setidaknya ini adalah blog yang tersembunyi dibalik rimbunan blog-blog yang jauh lebih berkualitas, sehingga tidak ada orang yang mencela isi blog ini, dan mungkin menghinaku lewat internet layaknya cyber-bullying yang kerap terjadi.
hari ini aku sakit demam, sejujurnya sakitnya disebabkan karena kenggananku akan sekolah. Sekolahku berasrama dan merupakan sekolah bergengsi di Cikarang, dibilang bergengsi pun aku sebenarnya tidak mau bersekolah disitu, serius, aku tidak suka dikekang 24 jam dalam kamar sempit berisi 4 orang, aku lelah jika hidup seperti dipenjara, apalagi dipaksa makan makanan yang tak enak.
kelihatannya aku egois? ya, memang aku adalah orang egois
aku merasakan rasa terbakar, luka, dan hilangnya rasa cintaku akan dunia karena sekolah itu
aku bisa merasakannya, bahwa perlahan-lahan tubuh ini semata hanyalah daging yang bergerak menurut perintah
aku jadi robot
jujur, aku tidak kuat dengan semua ini
aku capek, lelah
ingin pindah, tetapi tidak bisa
seandainya dulu aku masuk SMK saja, aku akan mempunyai skill kerja sendiri, dilatih secara praktek lebih penting buatku, kenapa? kenapa orang tuaku harus memasukanku ke SMA hanya karena mereka ingin aku kuliah? aku bisa kuliah walau ikut SMK, lagipula jurusan yang akan kumasuki adalah Sastra, demi tuhan, apa bedanya SMA dan SMK jika jurusan nanti yang dipilih adalah SASTRA?
aku memang egois, aku menumpahkan kesalahan pada orang tuaku, padahal aku tahu, kesalahan mungkin berasal dari diriku sendiri, kesalahan yang berawal dari sifat dasarku sebagai penulis blog ini, lagipula apa-apaan nama blog ini? jujur saya sendiri meludah ketika melihat post tentang nama blog ini, Everyday Menu karena saya mengambil makna dari tiap hari, jujur yang saya dapat tiap hari hanya makna sampah seperti tahi ayam
intinya dari post ini, adalah penulis menuangkan rasa kecewanya pada dunia dengan kata-kata berbelit dan berlebihan, ungkapan tak bermakna, kata-kata penuh cela pada dunia, setan bangsat yang baru keluar dari neraka.
rasanya pengen cepet-cepet cabut, tapi seperti kata orang
mati segan, hidup tak pantas.
Minggu, 15 Desember 2013
Gereja, Gelap, Semut
Tangannya kembali tertangkup, berdoalah ia pada Tuhan-Nya, seorang manusia biasa yang bukanlah orang yang taat, seperti manusia biasa lain, ia merangkak kembali pada salib ketika kesulitan baru datang kepadanya, ia berdoa, berdoa dengan keraguan, berdoa dengan harapan yang disemuti rasa 'bagaimana kalau' dan rasa tidak percaya akan keajaiban-keajaiban yang dikatakan orang-orang taat kepadanya.
"Semakin jenuh, pergilah ia," Sang Pastor yang sudah hapal akan wajah itu, memperhatikannya dari jauh, alkitab serta rosario di tangannya, hanya bisa mendoakan pria itu dari jauh, bukan karena Pastor itu tak peduli, bukan karena dia takut akan peranakan pria itu yang memang menakutkan, ia hanya tahu bahwa sang lelaki itu hanyalah makhluk penyendiri yang hanya bisa berharap suaranya pula didengar oleh Tuhan, disini, di sebuah Dunia bernama gereja yang berpenghuni Pastor, Lelaki tersebut, dan Tuhan, ketika lelaki itu ingin mengobrol empat mata, hanya kepada Tuhan yang memiliki seluruh dunia, Sang Pastor akan menjaganya dari jauh.
Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan gereja, usai percakapannya dengan Tuhan, usai ia melantunkan permintaannya, ia menggaruk dadanya, mencoba menyingkirkan semut-semut yang merambat jantungnya. Ia pergi, pergi dan menatap langit, langit gelap, tak ada bintang, bulan bersembunyi, sekali lagi malam gelap sialan, sial, apa salahnya hingga permintaannya tak didengar Tuhan? sialan, sial, sialan, ia tak tahu arah, bukit terlalu gelap, tak ada penerangan, tak ada apa-apa, hanya gelap.
Di balik jendela gereja, Pastor itu hanya bisa mendoakannya.
Selasa, 17 September 2013
Surat Untuk Gadis Kecil
Untuk si Gadis Kecil
Halo Gadis Kecil,
Apa kabarmu hari ini?
Kabarku baik, sangat baik.
Hari ini aku melihat ke langit,
Dan kutemukan rupa wajahmu di angkasa.
Hari ini, awan mengarak pelan,
Kembali ku teringat pertemuan terakhir kita
Walaupun singkat, tapi penuh makna.
Gadis Kecil,
Sepertinya tidak cocok untuk memanggilmu Gadis Kecil lagi,
Engkau sudah tumbuh dewasa,
Rupamu cantik laksana Gadis Belia di masa remajanya...
Gadis Kecil,
Masihkah engkau mengarungi angkasa?
Masihkah engkau membentangkan sayap biru raksasamu?
Gadis Kecil,
Teruslah mengarungi langitku,
Teruslah berada diatas awang-awangku...
Hingga waktunya, kita bertemu lagi
Satu tahun dari saat ini.
Kamis, 12 September 2013
One Week Shot
Cukup lama sejak terakhir saya update, sekitar 3 minggu lebih sejak post saya tentang Warrior of Happiness.
Malam ini, saya ingin melanjutkan tulisan saya, khususnya pada label Meals, yang agaknya mulai ketinggalan dengan label-label cerita saya. Jadi, menginjak umur saya yang tahun ini jadi 16 dan kenaikan pangkat evolet saya menjadi pangkat 2, (saya kelas 2 SMA) menjadi tanda waktu yang telah saya lalui SMA ini, sebuah SMA asrama dimana saya telah mengenyam pendidikan selama setahun, dan lanjut 2 tahun lagi hingga nanti saya akan lulus dan merantau lebih jauh lagi ke universitas tertentu demi dunia jurnalistik yang sudah saya jadikan kiblat hidup sejak saya menginjak masa remaja.
Seperti orang tua kita katakan, semakin tua, semakin dewasa, semakin bijaklah semestinya seorang manusia dalam hidupnya. Aspek-aspek kehidupan yang dilalui hendaknya bisa menjadi checklist bagi kita agar bisa menjadi sosok yang dapat bertahan hidup di alam liar manusia yang saya sebut 'masyarakat'. Banyak yang saya pelajari sejak saya beranjak dewasa, mulai dari proses perubahan, berkembangnya pikiran saya menuju kedewasaan, tumbuhnya keberanian untuk berpikir berbeda, serta kita yang mempelajari hasrat antar manusia. Perlahan, saya meninggalkan kekanakan saya yang dulu, masa-masa dimana saya minta diambilkan dan minta dibelikan, kini saya menjadi orang yang mengambilkan atau membelikan, rasa rindu akan kehidupan lama tentunya ada, namun tidak ada satupun hal abadi di dunia.
Dunia berubah seiring waktu berubah, manusia berubah pula, entah ukuran tubuhnya, ataupun dalam hal pemikiran
Kecuali kebodohan manusia, tidak akan pernah berubah.
Kembali ke diri saya bersama topik tentang umur dan waktu, saya mendapatkan adik kelas tahun ini. Adik-adik kelas 10 yang kini menggunakan kurikulum pelajaran berbeda dari kami sekalian yang masih menggunakan kurikulum lama. Tahun ini, giliran kami yang akan menjadi pemegang tongkat kegiatan SMA kami, dimana senior kelas 12 akan resmi melepas jabatannya untuk konsentrasi akan Ujian Nasional, dan dimana angkatan saya memegang kepemimpinan penuh pada murid-murid disini.
Kami berharap menjadi sebuah angkatan perubahan, angkatan baru yang akan membawa nama sekolah ini menjadi lebih baik dan lebih terpandang.
Karena itu juga cita-cita senior kami, sejak dulu hingga sekarang.
Malam makin larut, dan tulisan pendek ini rupanya membuat saya memakan waktu setengah jam untuk menuliskannya, sebab itu, Java Kitchen akan mundur sejenak dan beristirahat hingga waktu yang belum ditentukan, untuk semua yang telah membaca blog ini hingga postingan ini, saya mengucapkan terima kasih.
Sabtu, 31 Agustus 2013
Two Princess
Prologue, and Story of a Sibling
Kamis, 15 Agustus 2013
A World Lead By The King And His Beloved Wife
Bila selalu ada akhir?
Apa arti kelahiran?
Bila kematian terus membayangimu bagaikan surat ancaman pembunuh bayaran?
Mengapa sebuah peradaban ada?
Bila akhirnya mereka hancur karena ulah mereka sendiri?
Namaku Mark. Android terakhir di Planet abu-abu bernama Bumi.
Aku adalah Raja dunia ini, aku adalah Raja dunia kering kerontang yang seakan tidak lagi memiliki harapan.
Tetapi, dibalik rongsokan besi yang selama ini kulalui, ku temukan kecambah kehidupan baru, setitik harapan kecil dibalik debu keputus-asaan.
Alicia, gadis ku.. Alicia yang selalu bersamaku, Alicia yang selalu memanggil namaku tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alicia yang kucintai, Alicia, Ratu-ku.
***
Namaku Mark
Seiring lift menara yang menutup, kami sampai ke atas permukaan lantai 1 menara tersebut.
lampu-lampu neon berwarna biru bersinar sepanjang lorong pendek yang berujung pada sebuah pintu metal.
Ukuran tubuh kami yang lebih tinggi dari pada lorong membuat kami harus membungkuk sepanjang jalan sampai ke pintu itu. Sebuah roda metal dipasang disana, berperan sebagai pengunci. Aku memutar roda itu, seketika muncul suara keras, dan pintu itu terbuka dengan mudah.
"Kita sampai, ini Inti dari menara ini..."
Menara ini terdiri dari lantai-lantai yang tinggi menjulang hingga ke puncak, setiap lantai dibuat melengkung dengan balkon yang menghadap langsung ke lantai pertama, seakan isi dari menara ini adalah Colloseum modern. Masing-masing lantai memiliki barisan-barisan loker berisi DNA manusia yang tabungnya bersinar dalam gelap.
Penerangan disini tidak berbeda dari penerangan lorong sebelumnya, remang-remang, hanya bersinarkan zat kimia bercahaya dalam gelap. Hanya satu cahaya terang datang dari puncak menara, menyinari sebuah spot di lantai 1 bagaikan spotlight.
Cahaya itu menyinari sebuah... Aku tidak tahu... benda itu seperti sebuah ranjang rumah sakit, tetapi di saat yang bersamaan memiliki tabung yang siap menutup, serta benda itu dipasang pula dengan peralatan-peralatan ber teknologi tinggi lainnya.
***
Namaku Mark,
Logikaku mengatakan bahwa aku adalah android...
Tapi tidak...
Aku adalah manusia.
"Kau adalah manusia kami, Mark"
suara professor bergema dalam telingaku...
Suara Orang tuaku.
"Selamatkan dunia ini, Mark."
***
"Mark? Mark?"
Alicia membangunkanku dari lamunanku,
"Maafkan saya, Nona, hanya sedikit melamun."
Alicia tersenyum.
Sejak kapan senyuman seorang manusia dapat mempesona seperti ini?
Tidak, mengapa aku bisa berpikir seperti itu?
Aku Android yang berbeda dari manusia, aku tidak memiliki hati... aku....
Aku...
Tidak bisa merasakannya.... Jadi mengapa...?
"Marky,"
Alicia mengecup pipiku.
Terkejut, aku mundur beberapa langkah.
"Kau bukanlah Android biasa... Marky..."
Belum terkejut akan kecupannya, aku lebih terkejut lagi akan apa yang ia lakukan,
Ia membuka pita gaunnya, sedikit-demi sedikit, ia menurunkan lengan bajunya, sampai akhirnya gaun itu lepas secara keseluruhan.
Tubuh telanjangnya bukanlah sebuah jalinan kulit dan daging, melainkan sebuah soft metal yang telah koyak, mempertunjukan core bercahaya pada bagian yang seharusnya ditutupi oleh dadanya.
"Nona... anda..."
"Aku bukanlah manusia seluruhnya, begitu pula engkau Mark, engkau bukanlah Android seluruhnya."
Alicia berjalan mendekatiku, tangannya membelai pipiku.
"Bagaimana seorang Android bisa sehangat ini?"
Aku membalas belaiannya.
Tangannya... dingin bagai es...
***
Namaku Mark...
Dan aku Manusia.
Seorang anak manusia, akhirnya menjadi Raja,
Ratu ku, Ratu yang ikut berkuasa denganku,
Ialah Hatiku, Ialah belahan nyawaku.
Kami bercinta dan menguasai dunia.
Backstory
Manusia sudah tidak memiliki harapan lagi. Bagaimanapun juga, sedikit dari mereka membuat sebuah harapan terakhir. Sebuah Apocaypse Tower. Perpustakaan raksasa yang menyimpan DNA serta intisari hidup manusia dan beberapa makhluk hidup lain, agar keberadaan mereka tidak hilang
Bagaimanapun juga, intisari kehidupan tersebut tidak akan melahirkan sebuah kehidupan tanpa perantaraan 'Kehidupan' itu sendiri.
Mereka butuh nafas
Mereka butuh kehidupan
Mereka butuh orang tua
Mereka butuh Adam dan Hawa.