Senin, 12 Mei 2014

Kokoro ini lelah

Hei pembaca, walau tidak ada satupun yang membaca isi blog ini,
aku senang setidaknya ini adalah blog yang tersembunyi dibalik rimbunan blog-blog yang jauh lebih berkualitas, sehingga tidak ada orang yang mencela isi blog ini, dan mungkin menghinaku lewat internet layaknya cyber-bullying yang kerap terjadi.

hari ini aku sakit demam, sejujurnya sakitnya disebabkan karena kenggananku akan sekolah. Sekolahku berasrama dan merupakan sekolah bergengsi di Cikarang, dibilang bergengsi pun aku sebenarnya tidak mau bersekolah disitu, serius, aku tidak suka dikekang 24 jam dalam kamar sempit berisi 4 orang, aku lelah jika hidup seperti dipenjara, apalagi dipaksa makan makanan yang tak enak.

kelihatannya aku egois? ya, memang aku adalah orang egois

aku merasakan rasa terbakar, luka, dan hilangnya rasa cintaku akan dunia karena sekolah itu

aku bisa merasakannya, bahwa perlahan-lahan tubuh ini semata hanyalah daging yang bergerak menurut perintah
aku jadi robot
jujur, aku tidak kuat dengan semua ini
aku capek, lelah

ingin pindah, tetapi tidak bisa

seandainya dulu aku masuk SMK saja, aku akan mempunyai skill kerja sendiri, dilatih secara praktek lebih penting buatku, kenapa? kenapa orang tuaku harus memasukanku ke SMA hanya karena mereka ingin aku kuliah? aku bisa kuliah walau ikut SMK, lagipula jurusan yang akan kumasuki adalah Sastra, demi tuhan, apa bedanya SMA dan SMK jika jurusan nanti yang dipilih adalah SASTRA?


aku memang egois, aku menumpahkan kesalahan pada orang tuaku, padahal aku tahu, kesalahan mungkin berasal dari diriku sendiri, kesalahan yang berawal dari sifat dasarku sebagai penulis blog ini, lagipula apa-apaan nama blog ini? jujur saya sendiri meludah ketika melihat post tentang nama blog ini, Everyday Menu karena saya mengambil makna dari tiap hari, jujur yang saya dapat tiap hari hanya makna sampah seperti tahi ayam

intinya dari post ini, adalah penulis menuangkan rasa kecewanya pada dunia dengan kata-kata berbelit dan berlebihan, ungkapan tak bermakna, kata-kata penuh cela pada dunia, setan bangsat yang baru keluar dari neraka.

rasanya pengen cepet-cepet cabut, tapi seperti kata orang

mati segan, hidup tak pantas.

Minggu, 15 Desember 2013

Gereja, Gelap, Semut

"Semakin lama makin gelap," suara jam yang berdetik pelan, angin yang berhembus sepoi dan burung yang berkicau. layaknya seorang malaikat yang meninggalkan utusan Tuhan, cahaya sore itu meninggalkan mozaik gereja yang menggelap, perlahan digantikan oleh nyala senyap lilin-lilin di hadapan patung santo Petrus dan Bunda Maria, seorang laki-laki yang duduk diam di bangku paling belakang gereja, kecewa atas kepergian sang malaikat, dan kurang lebih, kecewa atas datangnya kegelapan yang menelan segala keindahan yang ia saksikan.

Tangannya kembali tertangkup, berdoalah ia pada Tuhan-Nya, seorang manusia biasa yang bukanlah orang yang taat, seperti manusia biasa lain, ia merangkak kembali pada salib ketika kesulitan baru datang kepadanya, ia berdoa, berdoa dengan keraguan, berdoa dengan harapan yang disemuti rasa 'bagaimana kalau' dan rasa tidak percaya akan keajaiban-keajaiban yang dikatakan orang-orang taat kepadanya.

"Semakin jenuh, pergilah ia," Sang Pastor yang sudah hapal akan wajah itu, memperhatikannya dari jauh, alkitab serta rosario di tangannya, hanya bisa mendoakan pria itu dari jauh, bukan karena Pastor itu tak peduli, bukan karena dia takut akan peranakan pria itu yang memang menakutkan, ia hanya tahu bahwa sang lelaki itu hanyalah makhluk penyendiri yang hanya bisa berharap suaranya pula didengar oleh Tuhan, disini, di sebuah Dunia bernama gereja yang berpenghuni Pastor, Lelaki tersebut, dan Tuhan, ketika lelaki itu ingin mengobrol empat mata, hanya kepada Tuhan yang memiliki seluruh dunia, Sang Pastor akan menjaganya dari jauh.

Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan gereja, usai percakapannya dengan Tuhan, usai ia melantunkan permintaannya, ia menggaruk dadanya, mencoba menyingkirkan semut-semut yang merambat jantungnya. Ia pergi, pergi dan menatap langit, langit gelap, tak ada bintang, bulan bersembunyi, sekali lagi malam gelap sialan, sial, apa salahnya hingga permintaannya tak didengar Tuhan? sialan, sial, sialan, ia tak tahu arah, bukit terlalu gelap, tak ada penerangan, tak ada apa-apa, hanya gelap.

Di balik jendela gereja, Pastor itu hanya bisa mendoakannya.

Selasa, 17 September 2013

Surat Untuk Gadis Kecil

Untuk si Gadis Kecil

Halo Gadis Kecil,
Apa kabarmu hari ini?
Kabarku baik, sangat baik.
Hari ini aku melihat ke langit,
Dan kutemukan rupa wajahmu di angkasa.
Hari ini, awan mengarak pelan,
Kembali ku teringat pertemuan terakhir kita
Walaupun singkat, tapi penuh makna.

Gadis Kecil,
Sepertinya tidak cocok untuk memanggilmu Gadis Kecil lagi,
Engkau sudah tumbuh dewasa,
Rupamu cantik laksana Gadis Belia di masa remajanya...

Gadis Kecil,
Masihkah engkau mengarungi angkasa?
Masihkah engkau membentangkan sayap biru raksasamu?

Gadis Kecil,
Teruslah mengarungi langitku,
Teruslah berada diatas awang-awangku...

Hingga waktunya, kita bertemu lagi

Satu tahun dari saat ini.

Kamis, 12 September 2013

One Week Shot

Cukup lama sejak terakhir saya update, sekitar 3 minggu lebih sejak post saya tentang Warrior of Happiness.
Malam ini, saya ingin melanjutkan tulisan saya, khususnya pada label Meals, yang agaknya mulai ketinggalan dengan label-label cerita saya. Jadi, menginjak umur saya yang tahun ini jadi 16 dan kenaikan pangkat evolet saya menjadi pangkat 2, (saya kelas 2 SMA) menjadi tanda waktu yang telah saya lalui SMA  ini, sebuah SMA asrama dimana saya telah mengenyam pendidikan selama setahun, dan lanjut 2 tahun lagi hingga nanti saya akan lulus dan merantau lebih jauh lagi  ke universitas tertentu demi dunia jurnalistik yang sudah saya jadikan kiblat hidup sejak saya menginjak masa remaja.

Seperti orang tua kita katakan, semakin tua, semakin dewasa, semakin bijaklah semestinya seorang manusia dalam hidupnya. Aspek-aspek kehidupan yang dilalui hendaknya bisa menjadi checklist bagi kita agar bisa menjadi sosok yang dapat bertahan hidup di alam liar manusia yang saya sebut 'masyarakat'. Banyak yang saya pelajari sejak saya beranjak dewasa, mulai dari proses perubahan, berkembangnya pikiran saya menuju kedewasaan, tumbuhnya keberanian untuk berpikir berbeda, serta kita yang mempelajari hasrat antar manusia. Perlahan, saya meninggalkan kekanakan saya yang dulu, masa-masa dimana saya minta diambilkan dan minta dibelikan, kini saya menjadi orang yang mengambilkan atau membelikan, rasa rindu akan kehidupan lama tentunya ada, namun tidak ada satupun hal abadi di dunia.
Dunia berubah seiring waktu berubah, manusia berubah pula, entah ukuran tubuhnya, ataupun dalam hal pemikiran
Kecuali kebodohan manusia, tidak akan pernah berubah.

Kembali ke diri saya bersama topik tentang umur dan waktu, saya mendapatkan adik kelas tahun ini. Adik-adik kelas 10 yang kini menggunakan kurikulum pelajaran berbeda dari kami sekalian yang masih menggunakan kurikulum lama. Tahun ini, giliran kami yang akan menjadi pemegang tongkat kegiatan SMA kami, dimana senior kelas 12  akan resmi melepas jabatannya untuk konsentrasi akan Ujian Nasional, dan dimana angkatan saya memegang kepemimpinan penuh pada murid-murid disini.

Kami berharap menjadi sebuah angkatan perubahan, angkatan baru yang akan membawa nama sekolah ini menjadi lebih baik dan lebih terpandang.
Karena itu juga cita-cita senior kami, sejak dulu hingga sekarang.

Malam makin larut, dan tulisan pendek ini rupanya membuat saya memakan waktu setengah jam untuk menuliskannya, sebab itu, Java Kitchen akan mundur sejenak dan beristirahat hingga waktu yang belum ditentukan, untuk semua yang telah membaca blog ini hingga postingan ini, saya mengucapkan terima kasih.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Two Princess

Sebuah kereta kuda berpacu melalui malam berkabut, kaki-kaki kuda itu menimbulkan bunyi ribut yang seketika memecah keheningan malam. Tidak lama kemudian, kereta itu berhenti dekat gerbang jembatan sebuah istana, jembatan itu sedang diputus.

Pengemudia kereta itu memakai pakaian besi seorang ksatria, ia membuka helmnya dan mengadahkan kepala menatap bagian atas gerbang itu, ia tahu walaupun gelap malam tidak menunjukan apapun di atas sana, namun sebenarnya ada 5 orang penjaga dengan senapan laras panjang, bersiap melumpuhkan siapapun yang mencoba masuk ke istana.

"Sir Ratatoile bersama Putri Serena menghadap!" teriak ksatria tersebut sembari mengangkat tinggi bendera kerajaan berupa simbol kuda yang di mulutnya membawa pedang api.

Tidak lama kemudian, terdengar suara derakan dari arah istana, sebuah jembatan terbuat dari kayu meluncur keluar dari sisi bawah pintu kerajaan, jembatan tersebut menyatu dengan susunan kayu yang terbuat di seberang pintu gerbang kerajaan. Ketika jembatan tersebut telah terbentuk, pintu gerbang kerajaanpun terbuka.



Seorang putri turun dari kereta kuda kerajaan. Putri itu masih berumur 17 tahun, dengan gaun putih serta rambut coklat yang diroll kebelakang.
2 ksatria yang berasal dari istana menyambut kedatangan tamu mereka. Satu ksatria adalah perempuan berambut merah, sementara satu lagi lelaki paruh baya hampir botak dengan janggut tipis, pakaian ksatrianya kelihatannya sangat berat, sehingga tidak memungkinkan prajurit biasa untuk memakainya.

"Selamat datang ke kerajaan kami, Putri Serena dari klan Infermogen," ksatria perempuan menunduk, disusul oleh lelaki paruh baya di sebelahnya.

Putri itu terdiam, ia memejamkan matanya sejenak, kemudian tersenyum.
Kakinya sedikit melompat, tangannya membentuk lingkaran, dan sedetik kemudian, ia memeluk ksatria perempuan itu.
"Kirara!" teriaknya dengan ceria,
Kirara, sang gadis ksatria itu mencoba untuk tetap tenang, tetapi wajahnya yang memerah tak bisa disembunyikan. Hal ini membuat 2 ksatria yang ikut menyaksikannya harus mencoba menahan tawa mereka.

"Lama tidak bertemu engkau dan aku!" teriak Putri Serena,
"Putri, jangan disini engkau harus segera bertemu Yang Mulia untuk rapat," tukas Kirara,
"Tidak mengapa!" teriak Putri. "Teman baik Putri ialah Kirara! Putri selalu ingin bersama!" teriaknya lagi.
Serena memiliki gaya berbicara yang aneh. Ia adalah pemimpin dari klan Infermorgen, menggantikan ayahnya yang meninggal. Walaupun masih muda, Serena menjalankan perannya dengan baik.

"Dimana Sang Pencerita?" tanya Putri.
Raut wajah Kirara langsung berubah,
"Ah, bard itu..." Kirara menahan napasnya sesaat.
"Ia telah pergi Putri, Raja telah menawarinya dengan gelar ksatria, akan tetapi bard itu menolak..."
Putri Serena menunduk, ia kelihatan kecewa,
"A-aku yakin ia akan datang lagi! Ia sudah berjanji ingat?" Kirara mencoba menghibur putri.
Sang Putri yang mendengarnya perlahan tersenyum kembali, ia memberi anggukan semangat pada Kirara.

"Sekarang, ayo kita masuk, Yang Mulia sudah menunggu," ajak Kirara.

***
Kirara menyandarkan punggungnya sembari meneguk segelas besar anggur, sementara Pureta, ksatria botak berbadan besar yang bertugas bersamanya melepas pakaian kebesarannya, ia menyandarkan pedang dan duduk berseberangan dengan Kirara.

Tugas mereka telah selesai, Putri Serena telah masuk ke kamar tamu kerajaan, jam malam pun sudah diberlakukan didalam istana, dan hanya para penjaga yang tersisa di luar.

Di tengah malam dingin itu, cahaya obor terasa hangat, Pureta ikut meneguk anggur,
"Aku mendengar kalau kau adalah teman baik Putri Serena, tetapi kalian lebih dekat dari yang kukira," cetus Pureta,
Kirara melirik sebentar, kemudian berpaling lagi.
"Bukankah normal bila seorang Putri kerajaan juga memiliki teman seorang Putri?" Kirara balas bertanya.

Kenyataan bahwa Kirara adalah seorang putri merupakan fakta dimana seluruh masyarakat kerajaan mengetahuinya, akan tetapi seorang putri berpakaian ksatria? Tidak ada sorangpun yang menduganya.

'Nama putri' Kirara adalah Remi'ivaeli von Divinoschuko Inferno, seorang putri yang kini menjalani pendidikan di akademi sihir Magus-itu yang diketahui rakyat.
Remi'ivaeli keluar dari sekolah tanpa sepengetahuan raja, ia memotong rambutnya dan kembali sebagai gadis pejuang bernama Kirara.

"Pertemuanku kembali dengan Serena adalah karena campur tangan orang itu."
Serena mendongak ke langit, sabuk galaksi Meguron membentang melalui lintang barat, sabuk yang berupa jalinan bintang-bintang, bagaikan sebuah selendang yang dijahit bersama permata.


"Derek The Bard"

Prologue, and Story of a Sibling

Dunia tempat orang mati,
Dahulu kala, ketika dunia masih merupakan batu karang semata,
Tersebutlah sepasang Dewa-Dewi, Zor dan Ver.

Zor dan Ver, adalah suami dan istri, mereka adalah 'parent' yang menjadi cikal bakal munculnya dunia kami.

Zor dan Ver mempunyai 3 orang anak. Dan mereka bertiga yang nantinya akan mewakili 'persona' yang ada di bumi.
Persona adalah sebutan kami untuk cahaya, kegelapan, dan manusia. 3 unsur utama yang memberi arti sebuah keberadaan bagi Bumi.

Aileen adalah Dewi cahaya,
Tyamat adalah Dewa yang menguasai kegelapan
Dan Argos, adalah Dewi yang juga manusia pertama di muka bumi.

Kisah demi kisah, menceritakan perselisihan antar ketiga saudara ini, dimana Aileen ingin menguasai bumi dengan malaikatnya, Tyamat dengan iblisnya, dan Argos dengan manusianya.
Argos selalu mengalami kekalahan, disebabkan manusia yang lemah, sementara Aileen dan Tyamat selalu seimbang.

Kisah yang aku ambil ini, adalah kisah yang paling terkenal. Sebuah kisah yang merupakan akhir dari Trilogi Para Dewa.

Tyamat, yang adalah satu-satunya Dewa di antara mereka, diam-diam memiliki rasa cinta kepada Argos. Akan tetapi, didorong oleh dendam akibat kekalahannya, Argos tidak pernah membalas rasa cinta Tyamat.
Tyamat marah, ia menculik Argos, dan memenjarakannya di dunia bawah selama 40 hari.
Dan dalam 40 hari itulah, manusia mengalami penderitaan panjang.

Aileen yang mendengus perbuatan Tyamat, memberinya obat tidur pada makanan Tyamat. Aileen berhasil, ia turun ke penjara bawah tanah untuk menyelamatkan Argos, akan tetapi, Argos telah melahirkan bayi yang didapatinya dari hubungannya dengan Tyamat.

Argos sedih, tetapi ia tidak ingin membunuh bayi itu.
Kata Aileen kepadanya,
" Saudariku, anak ini adalah campuran antara darah penuh kebangaan dengan sebuah darah jahat, tidak ada yang bisa ia lakukan selain merusak,"

"Tetapi saudariku, aku telah memberkati kelahiran bayi-bayi manusia, tidak ada satu bayipun yang tidak pernah merasakan pelukanku, dan tidak ada satu anak pun yang tidak mendapatkan kecupanku..."  balas Argos dengan sedih.

Merasa iba akan duka saudarinya, Aileen memberikan berkat pada bayi itu, ia menyayat kulitnya, dan membiarkan bayi itu minum darahnya yang berkilau bagai emas.
"Engkau jahat, tetapi di saat yang sama, engkau baik.
Ketika engkau dewasa, engkau akan memilih 2 jalan. Cahaya, atau Kegelapan.
Bila engkau memilih cahaya, engkau akan menjadi Persona Aileen, dan bila engkau memilih kegelapan, engkau akan menjadi Persona Tyamat."


Itulah sebuah kisah yang menjadi akhir dari Trilogi Dewa, dan menjadi awal bagi Abad Kerajaan Manusia, serta 'Persona' yang menjadi akar religius manusia.




****

Cerita-cerita itu sering dilatunkan oleh kakakku yang adalah seorang pengembara. Ia berkeliling menjelajahi daratan Vesopotamia, orang-orang desaku mengatakan bahwa ia adalah 'bard', pengelana yang berkeliling dunia dan menciptakan lagu.

Saat itu, aku yang masih kecil hanya dapat kagum akan kisah-kisah kakak laki-lakiku.

Lavestain, adalah namaku.
Tahun ini aku menginjak umur 17. Aku tinggal di sebuah desa terpencil di ujung lembah Eupora bersama adik laki-lakiku yang berusia 15 tahun, Mose.
Aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluargaku, biasanya, anak-anak perempuan seumurku sudah memboyong orang-orang kaya maupun penguasa untuk menjadi istri mereka, tetapi, aku disini, membantu mengurus ladang orang tuaku.

Desa tempatku tinggal dekat dengan laut, karena itu beberapa penduduk desa adalah nelayan, termasuk ayahku.
Dengan hasil laut dan panen yang bagus, desa kami bisa mengurus diri kami sendiri tanpa harus menunggu bantuan kerajaan Harkos.

"Kakak, sudah selesai," tukas adikku sambil melemparkan seikat jerami ke gerobak. Aku ikut naik ke gerobak, dan membiarkan adikku menyetir keledai,
Inilah kehidupan sederhana kami, sesekali, gerobak kami berpapasan dengan tetangga dan petani lain, layaknya penduduk desa lain, kami saling memberi salam dan menyapa.

Kami berhenti sejenak di pasar, Mose mengikat kekang keledai ke tiang kayu,
"Mose? Kau ada urusan?" tanyaku padanya,
"Ya, dengan pak tua sebentar, tidak lama kok kak!"
Setelah mengatakan itu, Mose menghilang dibalik keramaian.

Mose memiliki rambut hitam serta mata hitam, berbeda denganku ataupun kakakku yang memiliki rambut pirang. Mose sendiri bukanlah saudara kandungku, orang tuaku menemukannya sebagai seorang balita yang terdampar karena arus laut.
Sejak saat itu, ia menjadi anggota keluargaku. Aku menganggapnya sudah seperti adik kandungku sendiri.

Tidak lama kemudian, Mose kembali dengan segenggam kantong kulit, ia terlihat senang ketika melepas ikatan keledai dan melanjutkan perjalanan ke rumah.
"Kau kelihatan senang, kerja apa lagi kali ini?" tanya ku,
Mose menunjukan 10 koin perunggu dan 5 koin perak,
"Aku berburu jamur langka di gunung dan mendapatkan Cakar Lynx, Pak Tua bilang itu akan sangat berguna untuk obat demam." jelas Mose.
"Setidaknya, dengan uang ini, kita bisa membeli alat tulis dan senar gitar yang baru kan?" Mose berpaling ke arahku dengan senyum lebar, aku mengiyakannya dan mengacak-acak rambutnya yang berantakan.

Matahari sudah hampir terbenam ketika kami sampai ke rumah, cahaya nya jingga bercampur kemerahan, di kaki langit lain, aku sudah bisa melihat bintang dan galaksi Verguso-Selendang Langit.

"Ibu, kami kembali," salamku pada ibu kami yang tengah memasak di dapur, Ibu bisu sejak lahir, sehingga ia membalas salam kami dengan senyuman, ibu berbicara pada kami lewat bahasa isyarat.

"Selamat datang" Ibu membuat gerakan dengan tangannya,
"Ayahmu masih di pantai tolomg panggil dia," lanjut Ibu lagi.

Mose tanggap, ia segera keluar dan berlari menuju pesisir pantai.
Aku duduk di meja makan, roti dan ayam goreng, spesial untuk ulang tahunku sudah tersedia di sana.
Sinar matahari senja yang menembus jendela rumah kami sekilas dihalangi oleh dua sosok tubuh, tak lama kemudian, Mose dan ayah masuk lewat pintu depan.

Ayahku berumur 40 tahun dengan otot kekar dan wajah tegas, luka di mata kirinya dia dapat ketika masa mudanya sebagai tentara kerajaan Harkos.

"Lihatlah, siapa putri kita yang berulang tahun!" ayah mencium pipiku dan mengacak-acak rambutku. Aku menyingkirkan tangan ayah walau ia terus mengacak-acak rambutku dengan paksa, ibu dan Mose hanya tertawa melihat tingkah kami berdua.

Matahari telah terbenam ketika kami memulai jamuan makan malam, khusus untukku yang telah menginjak umur 17 tahun, umur yang istimewa bagi seorang gadis perempuan.
"Bersulang, untuk anak gadis yang telah siap menjadi pendamping lelaki terbaik di dunia!" seru ayah sembari mengangkat gelas birnya tinggi-tinggi.
"Kakak belum mau menikah, yah," sergah Mose.
Diam-diam, aku berkata dalam hatiku bahwa aku tidak ingin menikah, ya, aku akan menjadi pengembara seperti Kak Derek, bard yang telah menceritakanku dongeng-dongeng dari berbagai daratan tempatnya berpijak.

"Ayah, apa Kak Derek akan datang kesini lagi?" aku bertanya pada ayahku, Kak Derek pasti akan pulang pada hari ulang tahunku atau hari ulang tahun Mose, sekadar untuk menceritakan kami kisah perjalanannya.
"Aku yakin ia pasti akan datang, kakakmu tidak pernah melupakan janjinya, bukan?" jawab ayah,
Ibu tersenyum ramah seakan menyetejui jawaban ayah.

Seusai makan malam, aku dan Mose pergi keluar, kami berniat untuk menunggu Kak Derek datang, mungkin kali ini ia akan datang lewat laut?

Kami berdua berbaring di pasir, memandang langit berbintang, hanya untuk menunggu Kakak kami datang.

Kamis, 15 Agustus 2013

A World Lead By The King And His Beloved Wife

Apa arti awal?
Bila selalu ada akhir?

Apa arti kelahiran?
Bila kematian terus membayangimu bagaikan surat ancaman pembunuh bayaran?

Mengapa sebuah peradaban ada?
Bila akhirnya mereka hancur karena ulah mereka sendiri?

Namaku Mark. Android terakhir di Planet abu-abu bernama Bumi.
Aku adalah Raja dunia ini, aku adalah Raja dunia kering kerontang yang seakan tidak lagi memiliki harapan.
Tetapi, dibalik rongsokan besi yang selama ini kulalui, ku temukan kecambah kehidupan baru, setitik harapan kecil dibalik debu keputus-asaan.

Alicia, gadis ku.. Alicia yang selalu bersamaku, Alicia yang selalu memanggil namaku tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alicia yang kucintai, Alicia, Ratu-ku.

***

Namaku Mark

Seiring lift menara yang menutup, kami sampai ke atas permukaan lantai 1 menara tersebut.
lampu-lampu neon berwarna biru bersinar sepanjang lorong pendek yang berujung pada sebuah pintu metal.

Ukuran tubuh kami yang lebih tinggi dari pada lorong membuat kami harus membungkuk sepanjang jalan sampai ke pintu itu. Sebuah roda metal dipasang disana, berperan sebagai pengunci. Aku memutar roda itu, seketika muncul suara keras, dan pintu itu terbuka dengan mudah.

"Kita sampai, ini Inti dari menara ini..."

Menara ini terdiri dari lantai-lantai yang tinggi menjulang hingga ke puncak, setiap lantai dibuat melengkung dengan balkon yang menghadap langsung ke lantai pertama, seakan isi dari menara ini adalah Colloseum modern. Masing-masing lantai memiliki barisan-barisan loker berisi DNA manusia yang tabungnya bersinar dalam gelap.

Penerangan disini tidak berbeda dari penerangan lorong sebelumnya, remang-remang, hanya bersinarkan zat kimia bercahaya dalam gelap. Hanya satu cahaya terang datang dari puncak menara, menyinari sebuah spot di lantai 1 bagaikan spotlight.

Cahaya itu menyinari sebuah... Aku tidak tahu... benda itu seperti sebuah ranjang rumah sakit, tetapi di saat yang bersamaan memiliki tabung yang siap menutup, serta benda itu dipasang pula dengan peralatan-peralatan ber teknologi tinggi lainnya.

***

Namaku Mark,
Logikaku mengatakan bahwa aku adalah android...
Tapi tidak...

Aku adalah manusia.

"Kau adalah manusia kami, Mark"

suara professor bergema dalam telingaku...

Suara Orang tuaku.

"Selamatkan dunia ini, Mark."

***
"Mark? Mark?"

Alicia membangunkanku dari lamunanku,
"Maafkan saya, Nona, hanya sedikit melamun."

Alicia tersenyum.
Sejak kapan senyuman seorang manusia dapat mempesona seperti ini?
Tidak, mengapa aku bisa berpikir seperti itu?
Aku Android yang berbeda dari manusia, aku tidak memiliki hati... aku....

Aku...

Tidak bisa merasakannya.... Jadi mengapa...?

"Marky,"
Alicia mengecup pipiku.

Terkejut, aku mundur beberapa langkah.

"Kau bukanlah Android biasa... Marky..."

Belum terkejut akan kecupannya, aku lebih terkejut lagi akan apa yang ia lakukan,
Ia membuka pita gaunnya, sedikit-demi sedikit, ia menurunkan lengan bajunya, sampai akhirnya gaun itu lepas secara keseluruhan.

Tubuh telanjangnya bukanlah sebuah jalinan kulit dan daging, melainkan sebuah soft metal yang telah koyak, mempertunjukan core bercahaya pada bagian yang seharusnya ditutupi oleh dadanya.

"Nona... anda..." 
"Aku bukanlah manusia seluruhnya, begitu pula engkau Mark, engkau bukanlah Android seluruhnya."

Alicia berjalan mendekatiku, tangannya membelai pipiku.
"Bagaimana seorang Android bisa sehangat ini?"

Aku membalas belaiannya.

Tangannya... dingin bagai es...

***

Namaku Mark...
Dan aku Manusia.

Seorang anak manusia, akhirnya menjadi Raja,
Ratu ku, Ratu yang ikut berkuasa denganku,
Ialah Hatiku, Ialah belahan nyawaku.

Kami bercinta dan menguasai dunia.






Backstory
 Manusia sudah tidak memiliki harapan lagi. Bagaimanapun juga, sedikit dari mereka membuat sebuah harapan terakhir. Sebuah Apocaypse Tower. Perpustakaan raksasa yang menyimpan DNA serta intisari hidup manusia dan beberapa makhluk hidup lain, agar keberadaan mereka tidak hilang

Bagaimanapun juga, intisari kehidupan tersebut tidak akan melahirkan sebuah kehidupan tanpa perantaraan 'Kehidupan' itu sendiri.

Mereka butuh nafas
Mereka butuh kehidupan
Mereka butuh orang tua
Mereka butuh Adam dan Hawa.