Rabu, 03 September 2014

cecongoran empunya blog- Java Kitchen -Balada Para Ksatria Imajina

Suatu hari saya diam sejenak, menatap layar komputer tanpa berbuat apa-apa, saya telah mendownload dan menonton habis watchlist anime saya, melanjutkan setidaknya satu-dua paragraf dari karangan saya, beraktivitas di facebook hingga notification jadi sepi, serta mendengarkan seluruh lagu yang ada di playlist saya.

Di depan layar laptop, saya terbengong, hari sudah malam, tetapi langit malam gelap perkotaan tidak pernah sudi memberikan saya cahaya bulan maupun pemandangan bintang. Kemudian entah apa yang menggerakan tangan saya untuk mencoba karya-karya saya yang lama telah saya selesaikan, beberapa adalah karya yang harusnya memiliki sequel, tetapi sanggup menyelesaikan satu buku sudah merupakan tantangan terbesar bagi saya.

The Light Story
Destiny K-1
Last Child of Gilgamesh

ya, belum dihitung dari tulisan-tulisan batal saya yang lain, ketiga seri ini adalah dunia yang akhirnya bisa saya selesaikan walau dalam kurun waktu yang terbilang terlalu lama.


The Light Story, ya, saya masih sangat ingat judul itu, sebuah judul cerita yang pertama kali saya tulis. Kala itu mungkin saya layaknya bayi yang diajari cara berjalan, saya menulis dengan kalimat yang berantakan dan sangat lucu, sehingga saya sendiri merasa malu sekaligus kagum pada diri saya yang akhirnya dapat menulis habis cerita tersebut.
Protagonist yang ada di cerita itu bernama Ethan, nama serta pembayangan tokohnya mirip sekali dengan tokoh Ethan dari game Phantasy Star yang saya mainkan di PS2 dulu sekali, ya saat itu saya merasa bahwa desain bajunya sangat keren, sehingga saya memilihnya sebagai protagonis.
cerita nya, adalah sebuah dunia yang terus berperang karena usaha seorang demon lord untuk menguasai dunia, Ethan, dimana ia menjadi 'yang terpilih' harus mengumpulkan 7 cincin elemen dan menyelamatkan dunia.
Sebagai sebuah cerita perdana, The Light Story adalah Ksatria yang membawa saya pada dunia tulis-menulis, sebuah dunia baru dimana saya akhirnya dapat mengutarakan ide-ide yang ada di kepala saya, sebuah dunia dimana saya dapat meninggalkan jejak keberadaan saya. Saya tidak akan melupakan nama itu, beserta sang Ksatria protagonist dengan baju zirah bewarna hijau zamrud yang ramah dan membawa saya kepada dunia penuh petualangan. Ksatria itu adalah Ethan.

saya yang awalnya berencana membuat sequel untuk The Light Story mengurungkan niat, karena pada akhirnya, dunia itu biarlah jadi damai untuk selama-lamanya.

Destiny K-1 Cerita ini terinspirasi dari sebuah jam saku yang saya beli sebagai suvenir di sebuah festival anime yang pertama kali saya kunjungi di UI, Destiny K-1 menceritakan tentang seorang anak yang menjadi 'penjaga takdir', orang yang mempertahankan takdir manusia agar berjalan sesuai rencana yang telah disediakan, kecelakaan, bencana, dan sebagainya adalah kehendak takdir dan bagaimana mereka harus berkonflik melawan 'tekad manusia' agar takdir tersebut dapat dibelokan dan manusia dapat memilih takdirnya sendiri.
Kirai Cattapult adalah nama untuk protagonis cerita ini, Kirai yang berarti kebencian, ia mempunyai mata emas yang menjadi alasan dia dijauhi ketika masih kecil, ia mempunyai teman perempuan bernama Kirino (asal colong dari salah satu karakter anime) yang kemudian akan jadi pacarnya.
Kirai adalah 'Assassin of Arcadia' sebuah gelar yang dimiliki karena ia adalah jelmaan dari seorang Assassin di dunia bernama Arcadia, jauh sebelum bumi ini ada.
Kirai, sang Assassin of Arcadia bersama Templar of Arcadia bertarung bersama, melindungi takdir bumi dari petaka.

Sosok Kirai yang kesepian kemudian bertemu dengan Tempar yang menjadi sahabatnya, itu memberikan senyum sendiri bagi saya, kemudian, tokoh penting lagi adalah Nenavidet, sang Antagonis dalam cerita ini yang melampiaskan kebenciannya karena kesendirian, ia menjadi adik angkat bagi Kirai, sehingga cerita ini berakhir bahagia.

Destiny, pernah dimuat oleh Komunitas Penulis Muda, sebuah halaman di media sosial Facebook dimana saya mendapatkan kritik positif.

Sosok yang gelap, tetapi dibalik kegelapan itu ada sebuah senyum hangat dan pelukan bagi orang yang dilindungi. Kirai dalam bayangan saya adalah Ksatria dengan armor biru emerald berukiran serigala di dadanya, dia sering memberikan tatapan tajam, tetapi dia bisa tersenyum dan memberikan perasaan senang.


Last Child of Gilgamesh...

masa pubertas, masa mencari jati diri dan mimpi, tertulis jelas pada karya saya yang paling emosional dalam cerita-cerita saya, Last Child of Gilgamesh menceritakan seorang remaja yang tidak ada apa-apanya, dia kemudian diketahui mempunyai garis keturunan Gilgamesh, raja dewa Mesopotamia, dan karena itu dia diberkahi kekuatan luar biasa dan takdir yang luar biasa pula, dia akan membangkitkan Gilgamesh dari kematian untuk menguasai dunia.
Dipandang sebagai sebuah ancaman oleh sebagian Gereja Vatikan dan makanan bagi kaum satanis, sang Protagonis, Lero Armando, mencari perlindungan dibawah naungan ordo Templar. Dia harus meninggalkan keluarga serta temannya agar mereka tidak terkena ancaman satanis yang mengincarnya, tentunya itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan bagi Lero Armando yang kemudian mengubah namanya menjadi Koha Grammar.
aura cerita ini gelap dan diselimuti dengan keputusasaan, menghadapi takdir-takdir yang lebih buruk lagi, Koha harus kehilangan orang yang ia cintai ketika dia dibawah perlindungan Templar.

Koha, atau Lero. Ia adalah Ksatria dengan zirah hitam kelam yang ditempa dari besi meteor, tidak pernah berbicara, tidak pernah tersenyum, tetapi dia mempunyai sebuah kekuatan besar, kekuatan yang ia buat dari keputusasaan serta penderitaannya.

ketiga ksatria tadi telah menunjukan jalan pada saya saat ini, mereka telah menunjukan saya pada sebuah dunia yang tidak memiliki batas, sebuah dunia yang dapat dibuat dibawah secarik kertas dan segores pena, dunia yang saya kagumi dimana saya dapat melihat galaksi walaupun langit amat gelap.
Merekalah 3 ksatria yang kini berdiri berdampingan di sebuah batu karang, saling melihat ke kejauhan, membayangkan petualangan yang menanti mereka.

3 Ksatria Imajina yang telah mengukir jalan hidup saya selama ini

3 Ksatria Imajina yang telah mengukir siapa saya sebenarnya...

dan saya disini, menceritakan kisah mereka sebagai seorang penyair.  

Senin, 25 Agustus 2014

Kota Aurora

Bulan 17, tahun 1076 Alruto

3 bulan lalu aku mencoba bunuh diri dengan pergi menuju Tanah tak bertuan yang berada di ujung utara dunia ini. Sebuah tanah gersang yang dikutuk keberadaannya, pada jaman dulu kala, para petualang kurang beruntung yang menginjakan kakinya ke tanah gersang itu selalu hilang tanpa jejak. Sejak saat itu rumor yang mengatakan bahwa pulau itu terkutuk selalu menjadi tujuan orang-orang putus asa dan para pelarian untuk mengakhiri hidupnya.

Tetapi, alih-alih dicabut nyawaku aku malah bertemu dengan seorang makhluk cebol yang selalu mengenakan topeng aneh dan jubah hitam kelam, hanya aku yang mengetahui keberadaannya dan hanya aku yang dapat melihat dan berbicara dengannya.

Ada suatu saat ketika makhluk sialan ini memukul kepalaku, bukan hanya sekali, bahkan 5 kali dengan menggunakan papan dayung sampai papan tersebut patah. Tanpa sadar, ia ternyata telah membawaku mengarungi lautan selama 3 minggu lamanya, dan ketika aku sadar, kita telah berlabuh ke pantai di kota Seiverda, yang ada di benua Ta’duk, Setiap malam selalu dingin berkat angin utara yang meniupi kota itu.

Aku tidak mengerti apa yang dilakukan makhluk sialan ini, pada awalnya aku mengira bahwa dialah yang selalu mencabut nyawa para pelancong putus asa, tetapi jika benar, apa yang dia lakukan membawaku kembali ke peradaban?

Ketika kapal akhirnya menyentuh pasir daratan pantai, ia memanggilku.

“Kita sudah sampai, cepat bangun!”

Biar kujelaskan dikit bagaimana suara makhluk itu, serak, dan terdengar mencicit, jika bisa kumiripkan, suaranya sama persis seperti tikus yang dicekik ketika mendekati ajalnya.
“Apa yang kau lakukan?” dengan mata berkabut aku bangun, ada cahaya kota diatas tebing pantai ini, layaknya lentera yang bercahaya remang-remang.

“Aku membawamu kembali ke tempatmu berasal,” kata makhluk itu.

Dinginnya angin laut malam seperti mencambukiku, aku merangkak keluar dari perahu dan menginjakan kaki ke pasir basah.

“Kenapa kau membawaku kesini?”
Aku bertanya pelan. Aku marah, ingin rasanya mengeluarkan pekikan yang lebih keras, tetapi rasanya tenaga ini sudah habis.

“Ayo jalan!” ia memerintahku.
Makhluk itu berjalan mendahuluiku menuju kota kecil itu, entah mengapa, tetapi aku memutuskan untuk mengekornya, kerasukan apa aku sehingga mau-maunya diperintah makhluk menjijikan seperti ini?

Jalan makin menanjak, kota makin dekat. Aku bisa menghirup aroma harum roti panggang di perapian.

Tanpa sadar, aku sudah bediri di depan sebuah pintu.

Tok! Tok!
Suara ketokan itu bukan berasal dariku, tetapi dari makhluk hitam yang berdiri di sisi pintu.
“Ya? Siapa ya?”
Terdengar suara perempuan muda dari dalam rumah, 20? Tidak, mungkin 17 tahun…

Tiba-tiba, pintu dibuka, dan aku langsung ambruk.

Seminggu kemudian, aku menemukan diriku bekerja sebagai pembuat roti di sebuah toko roti kecil yang terletak di pesisir pantai. Aku bahagia bahwa keluarga yang menampungku cukup baik untuk menerima seorang pengembara yang menyelamatkan diri dari terjangan badai sehabis kapal karam (aku menerka cerita itu, bila aku berkata bahwa aku dari Daratan Utara, mungkin mereka akan mendepakku keluar karena aku dikutuk).

“Qiva, tolong buatkan satu Loyang roti tawar lagi,” suara gadis itu memanggil dari balik dapur.

“Baik,” aku menjawab singkat, sebuah adonan roti yang telah aku uleni dan mencampurkannya dengan ragi. Tanganku terlatih membuat roti, apalagi roti tawar, 20 tahun lalu, aku menghabiskan masa remajaku membuat roti di rumah orang tuaku.

Oven yang ada di seberang ruangan kembali mengeluarkan aroma harum roti panggang, pertanda roti sudah matang dan siap dihidangkan.

Setelah menukar roti matang dengan adonan mentah, dan memasukannya kembali ke oven, aku membawa roti-roti baru matang itu ke depan toko.

“Ini, satu Loyang roti tawar yang masih hangat, aku menyerahkan Loyang itu pada si gadis. Gina namanya, dia remaja yang hidup sebatang kara. Ditinggalkan orang tuanya dalam kecelakaan kapal laut membuatnya menghadapi dunia sendirian, dia terus menjaga toko roti orang tuanya tetap hidup, karena inilah satu-satunya peninggalan orang tuanya.

“Terima kasih, kerjamu bagus sekali , Qiva,” serunya, setelah menyerahkan roti tersebut pada seorang wanita tua, dia mengajakku istirahat.

Omong-omong, Qiva, aku mengarang nama itu karena aku telah membuang nama lamaku. Tidak ada nama untuk orang mati,
Ya, tidak ada nama untuk orang mati.
Tidak ada nama untuk orang yang dilupakan, tidak ada nama untuk orang yang tak dibuang.
Tidak ada nama untukku.



Gina menuangkan teh hangat untukku, kemudian untuk dirinya sendiri.
Ia tersenyum padaku, kemudian menceritakan banyak hal.
Tentang kota ini, kota pelabuhan kecil yang tidak banyak didatangi orang, walaupun begitu ia merasa senang tinggal disini, orangnya ramah-ramah, mereka selalu membantu Gina saat ia membutuhkan, dan sebagai gantinya, Gina menjual roti-rotinya dengan harga yang sangat murah.
Roti buatan Gina sangat enak, harum dan hangat, seakan Gina telah meniupkan roh ke dalam makanan itu.

Aku mendengarkan ceritanya dari awal sampai akhir, Gina selalu tersenyum di setiap saat, seakan tidak ada satupun masalah di dunia ini yang dapat mengusiknya.


“Hei cebol, apa yang terus kau tertawakan?”
Matahari sudah terbenam, bintang sudah mulai nampak dari langit timur. Senja hari ini di tepi pantai kuhabiskan meladeni si cebol ini yang katanya ‘ingin bercakap-cakap’ Tidak ada yang sepatah katapun keluar dari mulut tikusnya selain tertawaan kecil, mengherankan, rencana apa yang disembunyikan bajingan tengik ini?

“Jiva? Qiva? Mana namamu yang asli goblok?”

“Aku tidak punya nama, terserah aku siapa diriku.” Jawabku ketus, Si Cebol itu berjalan mendahuluiku, ia melangkah mendekat ke air.

“Sebenarnya kamu tahu siapa aku?” katanya.

“Siapa? Siapa kamu?” aku terdiam,

Benar juga, aku tidak pernah mengetahui apaan si bajingan ini sampai aku datang ke Pulau Utara itu, awalnya aku pikir mungkin makhluk ini adalah malaikat pencabut nyawa atau semacamnya, ternyata ia hanya iblis pengganggu belaka.

“Memangnya siapa kamu?” jawabku agak menantang.

Tiba-tiba aku merasakan kegelapan menyelimuti pantai, kegelapan itu amat gelap, hingga menutupi bintang. Aku tidak tahu apakah kegelapan yang menelan bintang, atau aku yang telah ditelannya. Tidak ada suara desiran ombak, tidak ada suara angin pantai yang kencang, semuanya terasa hampa, hanya ada kegelapan.

Dan di kegelapan itu, aku melihat seorang laki-laki.
Laki-laki itu tegap dengan badan yang cukup besar, rambutnya hitam dipotong pendek sama rata, matanya terlihat malas, benar-benar sosok yang membosankan.
Orang itu aku.

“Aku adalah kau.” Katanya


Didalam kegelapan ia berbicara padaku, tangannya memegang sebuah topeng. Topeng milik si cebol tadi.

Perlahan, kegelapan mulai menghilang, bintang-bintang kembali bersinar, ombak kembali berdesir, angin kembali berhembus.
Tetapi pertanyaan yang tersisa dibenakku.

“Kau adalah aku?”

“Aku adalah dirimu yang lain Jiva.” Seru si cebol itu. “Aku adalah Kejujuran.” Katanya.

Kejujuran? Diriku yang lain? Jelaskan padaku sekarang!

“Orang-orang datang ke Pulau Utara hanya untuk bertemu dengan cerminan dirinya, mereka bertemu dirinya yang lain, tidak terima, mereka bergelut dengannya, karena itulah mereka meninggal kehabisan tenaga.”

“Tetapi aku melihat perbedaan dirimu, Jiva,” katanya.

Aku tidak bisa mengatakan dia manusia, tetapi… ia mirip sekali denganku, lebih dari itu, dia adalah aku. Percakapan yang cukup gila ini, sekarang aku mengerti…

“Lantas kenapa kau tidak segera membunuhku?”

“Oh, jangan salahkan aku bila kau masih hidup sampai sekarang Jiva, salahkan saja sifat ‘terlalu sabar’ mu itu, salahkan sifat pengecutmu, dan salahkan pula keberanianmu. Aku tahu Jiva, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam, kamu tidak ingin mati. Kamu ingin hidup.”
Mendengar ceramahnya aku terdiam.

Yang benar saja? Aku datang jauh-jauh dari keputus-asaan dan kembali lagi karena takut akan kematian? Hebat, hebat sekali.

“Kau berkata seperti itu, tapi kau tidak akan mati sekarang, Jiva, tidak saat ini, tidak besok, setidaknya, tidak dalam waktu dekat ini,”

“JANGAN BERCANDA!” aku berteriak, aku berlari mencengkeram kerahnya, badannya yang telah kembali makhluk cebol kuangkat dan kulempar.
Ini pertama kalinya aku berhasil menyentuhnya.

“Jangan besar kepala Jiva!” teriaknya, ia menunjukan jarinya ke arah kota

Ketika aku berbalik, aku melihat cahaya kemerahan, api! Kemudian teriakan! Aku tidak percaya pada apa yang terjadi, aku segera berlari, berlari menuju kota itu, berlari menuju rumah Gina.
Orang-orang saling berteriak dan berlarian, ini bukan kebakaran biasa. Derap kuda diiringi dengan suara sabetan pedang. Aku tahu, aku kerap mendengar kelompok bandit pengelana yang mebentuk sebuah suku barbar yang selalu menjarah kota-kota, kehadiran mereka tidak pernah diduga, bagaikan hewan predator, mereka selalu membunuh dan menjarah, jika sebuah kota diserang bisa dipastikan mereka tidak akan bisa bertahan esok harinya.

“Gina! Gina!”

Langkahku semakin mendekatkanku ke sebuah toko roti itu, toko roti yang disinari oleh merahnya warna api, dihadapannya ada Gina, ia berlutut dengan air mata berderai di sekeliling pipinya, disampingnya ada seorang bandit dengan badan gemuk menyeramkan membawa sebuah golok.

“Hentikan!” teriakku

Tetapi sudah terlambat, besi itu telah membelah leher sang gadis, dalam sekejap mata, kepala itu berguling di tanah, meneteskan darah segar yang menjadi genangan.
Menyadari ada orang yang mengawasi kematian sang mangsa, si bandit menyeringai, goloknya kembali terangkat, ia berlari untuk menyerang lelaki yang tak bisa bangun dari shyok yang baru menimpanya.

Akan tetapi, belum setengah jalan, bandit itu terjatuh, ia menjerit karena rasa sakit yang amat sangat dari kakinya, ternyata kakinya telah terpotong, entah dengan apa. Kemudian menyusul dengan itu, tangan kanan dan kirinya juga ikut terpotong, dalam tangis kesakitannya, bandit itu meninggal kehabisan darah.

Aku hanya bisa diam, diam dan melihat bagaimana bandit itu mati, merasakan ketidak berdayaanku, aku pingsan.

Esok paginya, aku terbangun di tengah kota yang sudah menjadi puing-puing, mayat bergelimpangan dimana-mana, tidak ada rakyat yang selamat, dan para bandit sudah kembali ke laut mereka.
Diam tanpa bisa melakukan apa-apa, aku hanya menatap jenazah Gina yang sedang diperebutkan oleh para gagak.
“Tidak, tidak tidak!” teriakku, aku putus asa, aku kesal, aku sedih.

“Hei!”
Si cebol memukul kepalaku dari belakang

“Ayo kita lanjutkan perjalanan.”



malam itu, sebuah kota kecil yang terkenal indah akan cahaya Auroranya, terbakar habis, hanya menyisakan abu dan asap. Angin utara menghebuskan angin dingin menusuk, tidak ada kehangatan disana.

tidak ada lagi.

Selasa, 05 Agustus 2014

Sekali Dalam Seumur Hidup

illust by: iy tujiki




Sekali dalam seumur hidup, aku ingin melihat langit malam yang penuh bintang.
Aku lahir di tanah perkotaan besar yang tiap hari selalu ribut dan berasap, ketika malam tiba, cahaya-cahaya rumah dan gedung meninggalkan siluet hitam kelam di angkasa.
langit yang gelap, langit yang hitam, bukan hitam kelabu, bukan juga hitam cerah, melainkan hitam yang hampa. Kosong tanpa warna, kosong tanpa cahaya yang mengisinya.

Jangankan ke Boscha, aku bahkan tidak pernah menikmati indahnya pertunjukan bintang di planetarium,


Sekali dalam seumur hidup aku ingin berada di sebuah pulau
pulau yang jauh, pulau yang tenang
pulau dimana aku bisa menikmati keberadaan diriku, menikmati eksistensi diriku, tanpa diusik siapapun

Dimana aku bisa melihat bintang
Dimana aku bisa menyentuh galaksi

dan untuk pengalaman sekali dalam seumur hidup itu

aku ingin seseorang yang bisa kuajak berbagi pemandangan malam itu

langit malam yang hitam elegan, namun terang dengan cahaya-cahaya galaksi.





Minggu, 03 Agustus 2014

Selalu Perhatikan Label Sebelum Mengkonsumsi Barang!

Aku menyandarkan punggungku seusai pelajaran sekolah, rasanya pegal, setelah melakukan peregangan singkat aku duduk kembali dan mengeluarkan buku dari tas ku.
Jam Istirahat dan jam kosong adalah waktu yang menyenangkan sejak aku menemukan buku ini, sejujurnya aku bukan orang yang sangat suka membaca, hanya saja, ketika aku menemukan bacaan yang benar-benar menarik mintku aku bisa langsung berkutat dengan hal itu tanpa mempedulikan apapun.

Dan dalam kasus ini, buku novel fiksi seperti ini memang selalu jadi pilihan terbaik, seakan menemukan berlian yang terkubur di tumpukan jerami, begitu membaca chapter pertamanya aku sudah bisa dibawa masuk ke dunia dalam buku tersebut. Buku ini berkisah tentang petualangan fantasi yang terjadi di sebuah kerajaan antah-berantah. Plot utama ceritanya simpel, bagaimana sekelompok orang berjuang menyelamatkan sebuah kerajaan dari seorang raja iblis, tetapi hal menarik adalah bagaimana ceritanya berjalan, penuturan, komedinya, serta aksinya yang bisa membuatku penasaran mengikuti cerita tersebut sampai akhir.

"Oy, ganti kelas!"

seorang cowok mengambil buku yang sedang asyiknya aku baca.

"Lah? bukanya baru aja mulai istirahat?"

"Pale lu mulai istirahat!? udah selesai 5 menit tadi o'on!"

Aku menyadari kalau beberapa temanku mulai meninggalkan kelas.

"Emang kelas apa kita habis?"

"Simulasi Mobile Suit, ayo buruan!"

"Oh, oke!"


---------------------------------------------------------------------------------------


Aku baru sadar soal Kelas Simulasi Mobile Suit ketika aku sudah masuk kokpit Mobile Suit dan mulai menyalakan sistem engine nya.

ya, aku baru sadar ternyata sekolah di Indonesia pun punya kelas khusus untuk mengendalikan Mecha tempur, lebih anehnya lagi, aku tahu apa yang mesti kulakukan, bagaimana caranya mengendalikan booster, bermanuver, menggerakan tangan dan kaki, juga menembak.

Sayangnya aku tidak ahli dalam menembak, sehingga selalu dapat omelan dari instruktor.

---------------------------------------------------------------------------------------

"Ah... Akhirnya istirahat lagi..." kataku sambil meregangkan punggung.

Tanpa pikir panjang soal kelas simulasi Mobile Suit tadi, aku kembali bersandar dan mengeluarkan novel yang sama.

"Oy jangan duduk aja! kita langsung kelas habis ini!"

"Eh? Bukanya sekarang istirahat kedua?"

"Masih satu pelajaran lagi, ayo!"

"Mang pelajaran apa?"

"Pelajaran Gaming!"

-------------------------------------------------------------------------------------

oke, ini pelajaran paling nonsense dalam sejarah pendidikan indonesia, selama kamu bukan sekolah di sekolah spesial yang memang menjurus ke gaming, tidak mungkin ada pelajaran dimana murid bisa duduk dan memilih tipe game yang mereka mainkan, ada game MOBA seperti DOTA, MMORPG, MMOFPS dan game-game kompetitif lainnya

dan berhubung skill game saya tidak sebagus teman-teman saya, jadi saya menikmati rasanya jadi papan tembakan di salah satu MMOPFPS yang disediakan.

-----------------------------------------------------------------------------------

 Oke makin lama ini makin ngga masuk akal

Mau tahu pelajaran sehabis istirahat kedua? Pelajaran Alchemist.

Dan kali ini kami praktek mengubah logam menjadi emas, sayangnya kami hanya boleh membuat emas palsu karena undang-undang alchemist menyatakan bahwa menduplikasi emas tanpa persetujuan dewan akan menyebabkan ketidak seimbangan ekonomi.

Tunggu, UU macam apa yang mengatur ilmu Alchemist?

-----------------------------------------------------------------------------------

Aku menghela napas sembari melangkahkan kaki menuju asrama, sudah terlalu banyak kejadian aneh selama hari ini, aku sendiri tidak mengerti.

Apakah selama ini saya tertidur dan ini hanyalah mimpi?
Apa justru kenyataan yang selama ini saya tahu adalah mimpi dan ini adalah kenyataan sebenarnya?
atau, apakah ini hanya salah satu lelucon sekolah? (yang tak masuk akal)

Karena terlalu serius berpikir, aku tersandung dan novel yang kubawa terjatuh. Ketika aku mengambilnya kembali aku sadar bahwa ada label aneh yang menempel di cover belakang buku.



Sore itu adalah sore yang cerah, angin berhembus sepoi-sepoi dan sebuah Mobile Suit meluncur di angkasa, meninggalkan jejak asap yang meninggalkan kesan sebuah langit musim panas

aku masih terdiam melihat label itu.

'Perhatian, membaca buku ini bisa menyebabkan anda terjebak di dunia delusi, hubungi nomor dibawah ini bila anda ingin keluar secepatnya.'








"Siapa juga yang ingin keluar?"

Senin, 28 Juli 2014

Laut yang Berkabut

gasp

maksudnya ini suara tarikan napas tiba-tiba.
mengerti kan? maksudnya saat kau sedang tidur, kemudian kau mengalami mimpi buruk, secara tiba-tiba kau menarik napas dan terbangun dengan keringat dingin?

ya, hal itu sedang terjadi padaku saat ini.

"Oy? sudah bangun? gimana tidurmu? nyenyak?"
suara itu masih menjengkelkan, aku menegaskan kembali bahwa suara itu seperti curut yang mencicit ketika tubuhnya diinjak

"Apa pedulimu cebol?" aku meneriaki makhluk itu sekali lagi, jubah hitam yang dipakainya selalu menutupi tubuhnya yang semakin lama semakin mengecil, aku yakin pertama kali bertemu dengannya dia masih tinggi, kira-kira sama sepertiku, dia selalu memakai topeng yang mengerikan.

"Kita di laut." jawabnya

dihadapanku terbentang luas air yang tiada habisnya, akan tetapi tidak sampai di ujung cakrawala, kabut menutupi laut ini.
ini adalah laut paling suram yang pernah kulihat.

"Kita akan meninggalkan pulau ini," kata cebol itu sekali lagi padaku.
"Kita akan kembali ke Desa Cqirel, di timur laut sana. Kemudian menumpang kapal sampai ke Ibukota. Bila beruntung, mungkin kita bisa ke Kota para Elf untuk bertemu teman-teman lamamu."

dia berkata sambil terus menyiapkan bekal berupa ikan kering, rumput, serta berbotol-botol air dan memasukannya kedalam sampan.

"Memang siapa kamu?" aku meneriakinya.

"Aku sudah berjalan sampai ke pulau ini! sekarang kau mau kita kembali!?"
aku meneriakinya lagi.
terus...
dan terus kuteriaki.


Mengapa aku datang ke pulau ini?

Mengapa?...


"HEI KAU DENGAR AKU TIDAK!?"

DUAK!!

benda keras menghantam sisi kepalaku, cukup keras sampai sepertinya benda itu telah patah menjadi dua.

dengan mata yang kabur akibat pukulan dayung tersebut, aku lihat lagi si cebol itu, memegang sisa-sisa dayung dengan kedua tangannya.

"Kamu ini manusia yang bayak omong, pengecut, bebal pula ya."
"Datang kesini untuk mati. tapi sepertinya kamu terlalu menyedihkan untuk itu."
"Sana, mulai lagi perjalanannmu, kalau kau tidak berubah kali ini, akan kumangsa jiwamu."


dan dengan satu pukulan lagi, aku ambruk kedalam sampan tersebut.

Selasa, 15 Juli 2014

Perjalanan di Tanah yang Selalu Hujan

"Jadi gimana, Jiva?"

Aku mendengar sosok dihadapanku memulai pembicaraan, sembari menikmati roti keras kami di tengah padang gurun yang menitikan butiran air hujan. Nada pertanyaan itu terdengar menjengkelkan - seperti yang selalu dia lakukan.

"Kapok aku."

"Yakin kapok?"

Suara itu kembali menggema di gendang telingaku, makhluk sialan ini, tanpa sedikitpun menurunkan topeng di wajahnya, ia menyelipkan potongan-potongan roti keras lewat dagu dari bawah topengnya, sesaat kemudian terdengar suara orang mengunyah dan mengecap.

"Kau menjijikan." komentarku

"Lebih menjijikan mana dibanding orang yang menghabiskan koin emas untuk peralatan ritual tak berguna? kemana lagi koin perak yang hilang diraib penipu di kota Fargard?"
"Oh, ya, itu kau Jiva, dan sebagai tambahan, kau bukan hanya menjijikan, tapi kau juga dungu dan naif."

"Aku membencimu,"

ia terkekeh, "Memang seharusnya begitu, Jiva!"

Kami melanjutkan makan malam itu dengan sunyi antar satu-sama lain. Setelah kejadian seminggu lalu, aku merasa bisa mempercayai makhluk kecil ini, cebol kegelapan yang muncul entah darimana, tidak bisa dipukul, dan terus mengikuti diriku, menghujaniku dengan hal-hal yang tak ingin kudengar lagi.

 Sampai saat ini aku tak menyangka akan berjalan di tempat ini, padahal kudengar hanya orang kesurupan, orang gila, dan orang putus asa yang akan datang ke 'Tanah di Ujung Dunia' sebutan orang-orang selain 'Daratan yang Selalu Hujan'

tidak ada daratan yang dapat ditemui setelah melewati pulau ini, hanya akan ada laut. Beberapa orang bahkan percaya kalau kau berlayar lebih jauh dari itu, maka kau akan bertemu Pinggiran Dunia dan akan jatuh ke langit.

"Orang-orang pintar di dunia ini menganggap dunia mempunyai pinggiran."

suara serak mencicit yang muncul dari mulut makhluk itu membuatku tersentak.

"Tetapi apakah mampu seorang yang tanpa latar belakang, tanpa pendidikan, dan tanpa siapapun yang mengenalnya tiba-tiba berteriak di hadapan mereka, 'Dunia itu bulat!'"

Aku bisa merasakan bahwa dia menatapku. Menatapku seakan ia meminta komentar dari kata-katanya barusan.

"Kau bertanya pertanyaan yang konyol, sudah pasti ia akan didepak dari tempat itu, dan dia akan disebut orang gila."

Ia terdiam, ada jeda waktu cukup lama sampai ia tertawa dengan nada aneh.

heh.... heh.... heh....

"Orang pintar memang selalu dipandang orang bodoh ya?"

"Huh?"

"Bila Dunia itu datar, berarti akan ada batasan dari segala hal, tetapi, apakah pernah kamu lihat, Jiva, dunia tanpa batasan dimana semua kemungkinan adalah infinite?"
"Apakah kamu tidak mau beranggapan Jiva, bahwa ada kemungkinan lain di atas langit sana, seperti keberadaan makhluk hidup di bintang nun jauh disana?"

Aku terdiam, pernyataan si cebol hitam ini entah bagaimana cukup menarik, walaupun ada omong kosong yang tidak aku setujui disana.

"Aku pernah berpikir seperti itu," jawabku, "Tetapi aku sadar bahwa hal itu tidak akan mendatangkan keuntungan materiil, maka aku mulai berpikir realistis setelah itu,"

"Ah, manusia memang bebal! uang ini-itu! barang ini-itu!" cebol itu sekali lagi mengumpat, kamudian memasukan sisa besar biskuit keras ke mulutnya secara paksa dan membuang bungkusnya ke perapian.

"Hei, aku hanya mencoba berpikir realistis," protesku

"Ketika otak bebalmu sudah bisa mengartikan 'realistis'  dengan benar, baru kau kembali berpikir, dasa dungu kepala batu!"

Sudahlah, marahpun tidak akan ada gunanya pada makhluk satu ini.

Ia mulai menghujaniku dengan hinaan dan caci-maki, tetapi sudahlah, memang itu tugas makhluk jahanam ini, aku sudah terbiasa dengannya.


Kami menghabiskan malam itu seperti biasa, ditemani rintik hujan, dan mengamati bintang.
Ah, sudah berapa lama aku tidak mengamati bintang? sepertinya sudah lama aku tidak membayangkan luar angkasa itu, sebuah dunia penuh bintang dimana galaksi terlihat seperti kabut bercahaya, dimana kau bisa membayangkan duniamu sendiri dan dimana... dimana seperti yang cebol itu bilang.

Dunia tanpa batas...

apakah benar itu ada, dunia yang tanpa batas itu?

pantaskah kucari, dunia tanpa batas yang dia katakan?

Aku bangkit, kemudian melihat di kejauhan langit.

"Apakah kau disana?"

"Tolong katakan padaku.... dapatkah aku mencapai dunia itu?"

Selasa, 08 Juli 2014

Circus Monster

Tirai terangkat,
Sorak-sorai kembali membahana.
Diluar sana, diluar kandang besi yang menyekapku,
sudah menunggu orang-orang yang menunggu untuk melihat.

Seorang Gadis Monster, seorang gadis iblis
Gadis aneh dengan tanduk sapi di kepalanya
Walaupun wajahnya cantik menawan,
semua orang selalu saja menunjuk tanduk di kepalanya,
Menunjuk-nunjuk sambil meneriakan satu kata yang sama.

"Iblis!"

Seorang Gadis yang cantik menawan
engkau akan menyangka bahwa ia titisan dewi
tetapi dengan tanduk itu

siapa yang akan peduli?

Hari ini pun sang gadis menjalani harinya

dalam kandang penuh olokan dari orang kaya

yang membayar untuk menontonnya.


(Based on "Circus Monster" song by Vocaloid)