Minggu, 28 Februari 2016

Tumbuh

Hidup menjadi lucu ketika kau mulai tumbuh dewasa

Ketika aku melihat masa lalu, aku bisa melihat sesosok anak penurut

Yakin bahwa semua yang kudengar adalah absolut

Yakin bahwa orang-orang yang tidak sependapat denganku akan menderita di neraka

Sementara aku akan pergi ke surga


Sedikit demi sedikit, anak kecil itupun mulai tumbuh

Dunia mengajarinya dengan cara yang menyakitkan

Dicerca, disingkirkan

Dianiaya dan dihina

Namun terkadang, dia masih merasakan kehangatan

Maupun rasa kebersamaan yang menyenangkan


Kini hidup telah membentukku

Aku melihat bagaimana dunia itu relatif

Tiada hitam dan putih

Manusia hidup dalam keabu-abuan


Selamat tinggal bocah naif

Halo pemuda yang kritis

Itu yang ingin kukatakan pada diriku saat ini.

Senin, 22 Februari 2016

Penyesalan

Aku menjalani hidupku, berjalan mengarungi waktu, belajar makna hidup, tetapi apakah yang kupelajari?

Apakah karena semua relatif, sehingga hal-hal datang dan pergi?

Ataukah kesalahanku sehingga situasi terganti?

Halo, Pujangga di hati

Masihkah engkau berkeluh diri?

***

Seutas tali tipis, diikat dengan tali tambang, dan kemudian diikat ke rantai.

Itulah yang aku lihat saat ini. Hidupku ini.

Terkadang aku penasaran, dimana diriku 5 tahun lalu?

Sesosok anak polos yang tidak memikirkan dunia, tidak memikirkan lingkungan

Kemana temanku yang erat persahabatannya itu?

Kemana aku?

***

Aku tidak menyalahkan diriku 3 tahun lalu

Diriku yang dipisahkan dari dunia imaji

Rasanya sakit bagaikan dipisahkan dari seorang kekasih

3 tahun itu, adalah hidup yang berat

Aku tahu orang-orang itu memandangku sebelah mata

Akan tetapi yang paling sakit

Mengapa sang Pujangga tak bergema lagi?

***

Kini masa-masa itu telah selesai

Kini datang tahun-tahun baru

Apa yang akan terjadi di masa depan?

Aku tidak tahu.

Aku takut.

***

Oh, masa lalu.

Entah itu 5 tahun

Entah itu 3 tahun yang lalu...

Mengapa aku merindukanmu?

Inikah yang namanya penyesalan?

***

Oh, Pujangga hati,

Bergemalah sekali lagi

Kurindukan melodimu

Yang menggugah hatiku dulu sekali

***

Bisikan padaku,

Apabila ini penyesalan.

Tunjukan padaku

DImanakah jalan keluar.

Minggu, 15 Februari 2015

Angkringan Pak Karno

Di pinggir kota Jogja yang sepi tanpa bunyi apapun, ada satu angkringan yang masih buka. Gerobak angkrigan itu mendirikan tenda di sampingnya, serta menggelar karpet terpal yang seperti biasa digunakan orang untuk makan.

Tidak ada bunyi bising kendaraan atau cengkrama orang-orang yang berlalu-lalang, suasana sepi, seakan hanya aku manusia yang masih hidup bersama pak tua yang penjual makanan angkringan tersebut.

Aku dan teman-temanku biasa memanggil dia Pak Karno, sudah lama dia makan asam garam hidup, kulitnya coklat keriput serta rambutnya yang sudah beruban semuanya. Pak Karno memakai baju batik, celana panjang katun, sandal jepit, serta kopiah yang selalu dia pakai, agaknya dia selalu memakai kopiahnya selama bertahun-tahun karena kopiah itu terlihat lusuh.

 Selalu ada yang istimewa dari masakan Pak Karno, nasi kucing yang selalu dia hidangkan, entah bagaimana terasa hangat dan enak, sate ayam, sate telur, ataupun sate ati ampela yang dihidangkannya juga memiliki rasa yang khas, sehingga aku dan teman-temanku sangat betah datang ke angkringan milik pak Karno.

Malam ini… ah entah sudah pukul berapa malam ini, tetapi aku masih betah duduk lesehan sambil menikmati kopi arang yang juga menjadi favoritku setiap makan di angkringan Pak Karno.

“Bagaimana dik? Enak makanannya?” Pak Karno tiba-tiba menyapaku, oh, rupanya dia sudah selesai menata dan memasak dagangannya.

“Wah pasti dong! Nasi kucing Pak Karno nomor satu di jogja!” aku menjawabnya dengan penuh semangat, aku tidak bohong kalau mau bilang angkringan Pak Karno itu nomor satu, tetapi dari angkringan-angkringan yang sudah kujelajahi di sekitar penjuru Jogja, memang hanya Pak Karno yang memiliki bumbu rahasia terbaik dalam menyajikan makanan sederhana menjadi amat lezat.

“He he… bukannya gara-gara nasi bapak murah ya? Kamu kalau datang pasti habisin dua sampai 5 bungkus!” Pak Karno tertawa mendengar jawabanku, gigi taringnya yang ompong terlihat dari balik mulutnya yang tertawa.

Hening seusai tertawa, aku menatap jalan yang tidak dilalui satu jiwa pun. Heran, biasanya anak-anak muda pasti masih akan main-main bahkan sampai fajar menyingsing, tetapi mengapa keadaan sepi sekali?

“Pak, kok tumben ya, malam-malam begini sepi?”

Aku bertanya pada Pak Karno, ia nampak sedang melihat ke kejauhan jalan, matanya yang sesekali berkedip seperti menandakan sebuah permasalah yang ia pikirkan jauh di lubuk hatinya.
Setelah aku coba memikirkan sendiri, aku jadi ingat bahwa Pak Karno pernah bercerita bahwa dia tidak memiliki sanak saudara, dia bercerita bahwa istrinya sudah lama meninggal, dan anaknya juga entah dimana.

Pak Karno yang sendirian melanjutkan hidup dengan berjualan angkringan, tetapi dia berkata bahwa dia tidak merasa sedih atau terbebani, alih-alih, berjualan angkringan pada malam hari adalah saat dimana dia bisa banyak tertawa, mengobrol bersama pelanggan-pelanggannya, dalam tenda angkringan Pak Karno, kami merasa seperti sebuah keluarga, entah itu anak kuliahan, kuli bangunan, tukang ojek, guru, dosen, dibawah tenda Pak Karno, kami tertawa lepas tanpa memikirkan latar belakang masing-masing orang.

“Pak Karno?” aku mencoba memanggil namanya sekali, baru kali ini ia menoleh padaku, dia yang awalnya terkejut kemudian menoleh padaku dan kembali memasang senyum.

“Pak Karno ada masalah? Mending cerita pak, biar saya dan teman-teman saya bisa bantu bapak!” kucoba menawarkannya bantuan, tetapi dia hanya menggeleng lemah sambil tetap memasang senyum itu di wajahnya.

Muncul berbagai pertanyaan di kepalaku, apa gerangan yang terjadi dengannya? Apakah ada masalah dengan dagangannya? Aku yang hendak mendesaknya untuk berbicara lebih akhirnya mengurungkan niat, dia berdiri, kemudian memandang bintang-bintang di langit dengan matanya yang lembut.

Ada suatu hal yang mengusik perasaanku, namun entah apa hal itu… aku membuka mulutku dan bertanya satu pertanyaan yang terlintas di benakku.

“Kenapa malam ini sepi sekali pak?”


 Aku ikut memandang ke kejauhan mengikuti arah mata Pak Karno. Mata kami melewati kegelapan sawah jauh di hadapan kami hingga kami melihat suatu titik cahaya.

“Lho pak? Itu… Itu bukanya Kirana pak?” tanyaku.

Dibalik cahaya yang pudar itu, sesosok gadis yang cantik wajahnya dan molek tubuhnya tersungkur di tanah, ia menundukan wajahnya, menangis tersendu-sendu. Kirana berarti cahaya, dan itu menunjukan pada kecantikan, tetapi saat ini cahaya itu redup.

“Lihat, itu,” Pak Karno menunjuk sosok Kirana yang menangis tersendu-sendu. “Kakandanya mati.” Pak Karno berkata seakan ia ikut berbela sungkawa atas Kirana, aku yang hanya bisa merasakan empati pak Karno luluh dalam kesedihan yang melanda Kirana.

“Kenapa Kakandanya mati?” tanyaku pada Pak Karno

Pak Karno tidak menjawab, alih-alih ia kembali tersenyum, tetes-tetes air mata mengalir di pipinya ia mulai tersendu-sendat dan kemudian, tangisnya meledak.

Aku tidak pernah melihat Pak Karno menangis, tidak dalam 3 tahun sejak aku rajin mengunjungi angkringannya tiap hari, Pak Karno selalu nampak sebagai sosok yang menebar senyum, dan bagiku, ia sudah seperti guru serta orang tuaku sendiri.

Ketika aku memandangnya lagi di kejauhan, Kirana sudah terkulai lesu, sinar redupnya perlahan makin sekarat.

Tangis Pak Karno makin menjadi-jadi, hingga pada detik cahaya itu padam, tangis Pak Karno mencapai puncaknya.

Dunia seakan ikut kehilangan cahayanya lampu jalanan yang sedari tadi menyala tiba-tiba pecah satu persatu.

Ketika kusadari, aku sudah tenggelam dalam kegelapan.

Meninggalkan Pak Karno yang menangis, dan Kirana yang telah mati.


Sabtu, 13 Desember 2014

Surat untuk Ayah

Disaat mentari pagi naik
Adalah disaat hati ini tak dapat menerimanya lagi
Papa, ananda rindu bertemu, papa, betapa sulit hidup yang Dia berikan
Dikala hidup seakan tidak kuat diemban bebannya
Aku tulis sepatah dua kata di kertas ini

Papa, sudah hilang ditelan ombak

Papa sudah dikhalayak yang kuasa


Ajaranmu selalu mengajarkan
Tentang hidup yang penuh kasihan
Tetapi kenyataannya
Hidup selalu memainkan perasaan

Air susu dibalas air tuba
Hal yang tidak langka di dunia
Dimana segala kejahatan adalah legal
Dan kebaikan jadi cercaan

Papa, beri aku alasan untuk bertahan lagi

Sebab hati ini meronta-ronta ingin pulang

Minggu, 26 Oktober 2014

Mengapa Harga Diri Ada?

Bujang kecil menarik-narik jubahku
Ada air mengembun di kelopak matanya
Ia merengek, anak tetangga melempar batu lagi padanya
Bajunya robek, habis berkelahi katanya
Hidungnya berdarah, patah sudah tulangnya
Katanya harga dirinya diinjak-injak, dan dibuang ke kali pojok rumah.

Ah, anakku,
Tidakkah engkau tahu bapak juga sudah tidak punya,
Harga diri bapak hilang kemana?
Tertinggal di stasiun kota, atau hanyut diterjang ombak?
Manusia itu, kalau harga diri hilang, semua jadi tak berguna ya?

Selasa, 21 Oktober 2014

Aku dan Mereka

Aku tertidur, kemudian terbangun lagi. 

Melihat benang pancing yang seakan tidak akan pernah memancing seekor ikanpun.

Termanggut, kemudian aku menutup mata lagi, mencoba untuk tertidur, barang satu menit.

Dalam hati aku merenung sendiri, aku bergumam sendiri, Mungkinkah mimpiku laksana kail pancing ini? tidak ubahnya aku memancing, menunggu ikan memakan umpanku, setengah jam lamanya menunggu, namun tidak bisa kudapat juga ikan itu?

Bergumam aku pada diriku sendiri, aku mencoba untuk mengingat masa lalu, ah... masa mudaku sudah lama terlewat, kenangan-kenangan dan canda tawa konyol itu sudah jauh dibelakang, tertutup oleh debu-debu perkembangan jaman, pemikiran rumit, omelan, cercaan, dan Dokumen.

Dokumen, dokumen, ah, betapa bencinya aku mendengar kata itu.

Melirik ke belakang, aku merasa makin kehilangan dunia yang awalnya kubayangkan indah, dunia yang sepertinya akan jadi gemerlap dan penuh warna, aku menghela napas panjang ketika aku sdari bahwa aku menapaki jejak oleh orang-orang telah tentukan kepadaku.

Aku menghela napas sekali lagi, napas panjang, melelahkan, penuh rasa pasrah, dan juga kelelahan.

Tanpa sadar, aku menemukan seorang gadis duduk di sebelahku, ah, ya, dia adalah buah cintaku dengan wanita yang kucintai, sekitar 9 tahun lalu mungkin, kami mengikat janji suci dihadapan Pastur.

Seperti halnya Ayah yang lain, aku cinta pada putriku, cinta yang tulus telah kucurahkan dengan bekerja keras, seharian  bergelut dengan kerasnya hidup hanya untuk mereka.

Sedetik kemudian, aku sadar, aku berjuang untuk mereka, untuk istriku, juga untuk anakku yang amat kucintai.

Aku tidak boleh berhenti memancing, selama ada mereka yang mendukungku dari belakang, aku tidak peduli berapa lama aku harus menunggu, aku akan meraih mimpiku untuk mereka.

Rabu, 03 September 2014

cecongoran empunya blog- Java Kitchen -Balada Para Ksatria Imajina

Suatu hari saya diam sejenak, menatap layar komputer tanpa berbuat apa-apa, saya telah mendownload dan menonton habis watchlist anime saya, melanjutkan setidaknya satu-dua paragraf dari karangan saya, beraktivitas di facebook hingga notification jadi sepi, serta mendengarkan seluruh lagu yang ada di playlist saya.

Di depan layar laptop, saya terbengong, hari sudah malam, tetapi langit malam gelap perkotaan tidak pernah sudi memberikan saya cahaya bulan maupun pemandangan bintang. Kemudian entah apa yang menggerakan tangan saya untuk mencoba karya-karya saya yang lama telah saya selesaikan, beberapa adalah karya yang harusnya memiliki sequel, tetapi sanggup menyelesaikan satu buku sudah merupakan tantangan terbesar bagi saya.

The Light Story
Destiny K-1
Last Child of Gilgamesh

ya, belum dihitung dari tulisan-tulisan batal saya yang lain, ketiga seri ini adalah dunia yang akhirnya bisa saya selesaikan walau dalam kurun waktu yang terbilang terlalu lama.


The Light Story, ya, saya masih sangat ingat judul itu, sebuah judul cerita yang pertama kali saya tulis. Kala itu mungkin saya layaknya bayi yang diajari cara berjalan, saya menulis dengan kalimat yang berantakan dan sangat lucu, sehingga saya sendiri merasa malu sekaligus kagum pada diri saya yang akhirnya dapat menulis habis cerita tersebut.
Protagonist yang ada di cerita itu bernama Ethan, nama serta pembayangan tokohnya mirip sekali dengan tokoh Ethan dari game Phantasy Star yang saya mainkan di PS2 dulu sekali, ya saat itu saya merasa bahwa desain bajunya sangat keren, sehingga saya memilihnya sebagai protagonis.
cerita nya, adalah sebuah dunia yang terus berperang karena usaha seorang demon lord untuk menguasai dunia, Ethan, dimana ia menjadi 'yang terpilih' harus mengumpulkan 7 cincin elemen dan menyelamatkan dunia.
Sebagai sebuah cerita perdana, The Light Story adalah Ksatria yang membawa saya pada dunia tulis-menulis, sebuah dunia baru dimana saya akhirnya dapat mengutarakan ide-ide yang ada di kepala saya, sebuah dunia dimana saya dapat meninggalkan jejak keberadaan saya. Saya tidak akan melupakan nama itu, beserta sang Ksatria protagonist dengan baju zirah bewarna hijau zamrud yang ramah dan membawa saya kepada dunia penuh petualangan. Ksatria itu adalah Ethan.

saya yang awalnya berencana membuat sequel untuk The Light Story mengurungkan niat, karena pada akhirnya, dunia itu biarlah jadi damai untuk selama-lamanya.

Destiny K-1 Cerita ini terinspirasi dari sebuah jam saku yang saya beli sebagai suvenir di sebuah festival anime yang pertama kali saya kunjungi di UI, Destiny K-1 menceritakan tentang seorang anak yang menjadi 'penjaga takdir', orang yang mempertahankan takdir manusia agar berjalan sesuai rencana yang telah disediakan, kecelakaan, bencana, dan sebagainya adalah kehendak takdir dan bagaimana mereka harus berkonflik melawan 'tekad manusia' agar takdir tersebut dapat dibelokan dan manusia dapat memilih takdirnya sendiri.
Kirai Cattapult adalah nama untuk protagonis cerita ini, Kirai yang berarti kebencian, ia mempunyai mata emas yang menjadi alasan dia dijauhi ketika masih kecil, ia mempunyai teman perempuan bernama Kirino (asal colong dari salah satu karakter anime) yang kemudian akan jadi pacarnya.
Kirai adalah 'Assassin of Arcadia' sebuah gelar yang dimiliki karena ia adalah jelmaan dari seorang Assassin di dunia bernama Arcadia, jauh sebelum bumi ini ada.
Kirai, sang Assassin of Arcadia bersama Templar of Arcadia bertarung bersama, melindungi takdir bumi dari petaka.

Sosok Kirai yang kesepian kemudian bertemu dengan Tempar yang menjadi sahabatnya, itu memberikan senyum sendiri bagi saya, kemudian, tokoh penting lagi adalah Nenavidet, sang Antagonis dalam cerita ini yang melampiaskan kebenciannya karena kesendirian, ia menjadi adik angkat bagi Kirai, sehingga cerita ini berakhir bahagia.

Destiny, pernah dimuat oleh Komunitas Penulis Muda, sebuah halaman di media sosial Facebook dimana saya mendapatkan kritik positif.

Sosok yang gelap, tetapi dibalik kegelapan itu ada sebuah senyum hangat dan pelukan bagi orang yang dilindungi. Kirai dalam bayangan saya adalah Ksatria dengan armor biru emerald berukiran serigala di dadanya, dia sering memberikan tatapan tajam, tetapi dia bisa tersenyum dan memberikan perasaan senang.


Last Child of Gilgamesh...

masa pubertas, masa mencari jati diri dan mimpi, tertulis jelas pada karya saya yang paling emosional dalam cerita-cerita saya, Last Child of Gilgamesh menceritakan seorang remaja yang tidak ada apa-apanya, dia kemudian diketahui mempunyai garis keturunan Gilgamesh, raja dewa Mesopotamia, dan karena itu dia diberkahi kekuatan luar biasa dan takdir yang luar biasa pula, dia akan membangkitkan Gilgamesh dari kematian untuk menguasai dunia.
Dipandang sebagai sebuah ancaman oleh sebagian Gereja Vatikan dan makanan bagi kaum satanis, sang Protagonis, Lero Armando, mencari perlindungan dibawah naungan ordo Templar. Dia harus meninggalkan keluarga serta temannya agar mereka tidak terkena ancaman satanis yang mengincarnya, tentunya itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan bagi Lero Armando yang kemudian mengubah namanya menjadi Koha Grammar.
aura cerita ini gelap dan diselimuti dengan keputusasaan, menghadapi takdir-takdir yang lebih buruk lagi, Koha harus kehilangan orang yang ia cintai ketika dia dibawah perlindungan Templar.

Koha, atau Lero. Ia adalah Ksatria dengan zirah hitam kelam yang ditempa dari besi meteor, tidak pernah berbicara, tidak pernah tersenyum, tetapi dia mempunyai sebuah kekuatan besar, kekuatan yang ia buat dari keputusasaan serta penderitaannya.

ketiga ksatria tadi telah menunjukan jalan pada saya saat ini, mereka telah menunjukan saya pada sebuah dunia yang tidak memiliki batas, sebuah dunia yang dapat dibuat dibawah secarik kertas dan segores pena, dunia yang saya kagumi dimana saya dapat melihat galaksi walaupun langit amat gelap.
Merekalah 3 ksatria yang kini berdiri berdampingan di sebuah batu karang, saling melihat ke kejauhan, membayangkan petualangan yang menanti mereka.

3 Ksatria Imajina yang telah mengukir jalan hidup saya selama ini

3 Ksatria Imajina yang telah mengukir siapa saya sebenarnya...

dan saya disini, menceritakan kisah mereka sebagai seorang penyair.