Hidup menjadi lucu ketika kau mulai tumbuh dewasa
Ketika aku melihat masa lalu, aku bisa melihat sesosok anak penurut
Yakin bahwa semua yang kudengar adalah absolut
Yakin bahwa orang-orang yang tidak sependapat denganku akan menderita di neraka
Sementara aku akan pergi ke surga
Sedikit demi sedikit, anak kecil itupun mulai tumbuh
Dunia mengajarinya dengan cara yang menyakitkan
Dicerca, disingkirkan
Dianiaya dan dihina
Namun terkadang, dia masih merasakan kehangatan
Maupun rasa kebersamaan yang menyenangkan
Kini hidup telah membentukku
Aku melihat bagaimana dunia itu relatif
Tiada hitam dan putih
Manusia hidup dalam keabu-abuan
Selamat tinggal bocah naif
Halo pemuda yang kritis
Itu yang ingin kukatakan pada diriku saat ini.
Minggu, 28 Februari 2016
Senin, 22 Februari 2016
Penyesalan
Aku menjalani hidupku, berjalan mengarungi waktu, belajar makna hidup, tetapi apakah yang kupelajari?
Apakah karena semua relatif, sehingga hal-hal datang dan pergi?
Ataukah kesalahanku sehingga situasi terganti?
Halo, Pujangga di hati
Masihkah engkau berkeluh diri?
***
Seutas tali tipis, diikat dengan tali tambang, dan kemudian diikat ke rantai.
Itulah yang aku lihat saat ini. Hidupku ini.
Terkadang aku penasaran, dimana diriku 5 tahun lalu?
Sesosok anak polos yang tidak memikirkan dunia, tidak memikirkan lingkungan
Kemana temanku yang erat persahabatannya itu?
Kemana aku?
***
Aku tidak menyalahkan diriku 3 tahun lalu
Diriku yang dipisahkan dari dunia imaji
Rasanya sakit bagaikan dipisahkan dari seorang kekasih
3 tahun itu, adalah hidup yang berat
Aku tahu orang-orang itu memandangku sebelah mata
Akan tetapi yang paling sakit
Mengapa sang Pujangga tak bergema lagi?
***
Kini masa-masa itu telah selesai
Kini datang tahun-tahun baru
Apa yang akan terjadi di masa depan?
Aku tidak tahu.
Aku takut.
***
Oh, masa lalu.
Entah itu 5 tahun
Entah itu 3 tahun yang lalu...
Mengapa aku merindukanmu?
Inikah yang namanya penyesalan?
***
Oh, Pujangga hati,
Bergemalah sekali lagi
Kurindukan melodimu
Yang menggugah hatiku dulu sekali
***
Bisikan padaku,
Apabila ini penyesalan.
Tunjukan padaku
DImanakah jalan keluar.
Apakah karena semua relatif, sehingga hal-hal datang dan pergi?
Ataukah kesalahanku sehingga situasi terganti?
Halo, Pujangga di hati
Masihkah engkau berkeluh diri?
***
Seutas tali tipis, diikat dengan tali tambang, dan kemudian diikat ke rantai.
Itulah yang aku lihat saat ini. Hidupku ini.
Terkadang aku penasaran, dimana diriku 5 tahun lalu?
Sesosok anak polos yang tidak memikirkan dunia, tidak memikirkan lingkungan
Kemana temanku yang erat persahabatannya itu?
Kemana aku?
***
Aku tidak menyalahkan diriku 3 tahun lalu
Diriku yang dipisahkan dari dunia imaji
Rasanya sakit bagaikan dipisahkan dari seorang kekasih
3 tahun itu, adalah hidup yang berat
Aku tahu orang-orang itu memandangku sebelah mata
Akan tetapi yang paling sakit
Mengapa sang Pujangga tak bergema lagi?
***
Kini masa-masa itu telah selesai
Kini datang tahun-tahun baru
Apa yang akan terjadi di masa depan?
Aku tidak tahu.
Aku takut.
***
Oh, masa lalu.
Entah itu 5 tahun
Entah itu 3 tahun yang lalu...
Mengapa aku merindukanmu?
Inikah yang namanya penyesalan?
***
Oh, Pujangga hati,
Bergemalah sekali lagi
Kurindukan melodimu
Yang menggugah hatiku dulu sekali
***
Bisikan padaku,
Apabila ini penyesalan.
Tunjukan padaku
DImanakah jalan keluar.
Minggu, 15 Februari 2015
Angkringan Pak Karno
Di pinggir kota Jogja yang sepi tanpa
bunyi apapun, ada satu angkringan yang masih buka. Gerobak angkrigan itu
mendirikan tenda di sampingnya, serta menggelar karpet terpal yang seperti
biasa digunakan orang untuk makan.
Tidak ada bunyi bising kendaraan atau
cengkrama orang-orang yang berlalu-lalang, suasana sepi, seakan hanya aku
manusia yang masih hidup bersama pak tua yang penjual makanan angkringan
tersebut.
Aku dan teman-temanku biasa memanggil
dia Pak Karno, sudah lama dia makan asam garam hidup, kulitnya coklat keriput
serta rambutnya yang sudah beruban semuanya. Pak Karno memakai baju batik,
celana panjang katun, sandal jepit, serta kopiah yang selalu dia pakai, agaknya
dia selalu memakai kopiahnya selama bertahun-tahun karena kopiah itu terlihat lusuh.
Selalu ada yang istimewa dari masakan Pak
Karno, nasi kucing yang selalu dia hidangkan, entah bagaimana terasa hangat dan
enak, sate ayam, sate telur, ataupun sate ati ampela yang dihidangkannya juga
memiliki rasa yang khas, sehingga aku dan teman-temanku sangat betah datang ke
angkringan milik pak Karno.
Malam ini… ah entah sudah pukul berapa
malam ini, tetapi aku masih betah duduk lesehan sambil menikmati kopi arang
yang juga menjadi favoritku setiap makan di angkringan Pak Karno.
“Bagaimana dik? Enak makanannya?” Pak
Karno tiba-tiba menyapaku, oh, rupanya dia sudah selesai menata dan memasak
dagangannya.
“Wah pasti dong! Nasi kucing Pak Karno
nomor satu di jogja!” aku menjawabnya dengan penuh semangat, aku tidak bohong
kalau mau bilang angkringan Pak Karno itu nomor satu, tetapi dari
angkringan-angkringan yang sudah kujelajahi di sekitar penjuru Jogja, memang
hanya Pak Karno yang memiliki bumbu rahasia terbaik dalam menyajikan makanan
sederhana menjadi amat lezat.
“He he… bukannya gara-gara nasi bapak
murah ya? Kamu kalau datang pasti habisin dua sampai 5 bungkus!” Pak Karno
tertawa mendengar jawabanku, gigi taringnya yang ompong terlihat dari balik
mulutnya yang tertawa.
Hening seusai tertawa, aku menatap
jalan yang tidak dilalui satu jiwa pun. Heran, biasanya anak-anak muda pasti
masih akan main-main bahkan sampai fajar menyingsing, tetapi mengapa keadaan
sepi sekali?
“Pak, kok tumben ya, malam-malam
begini sepi?”
Aku bertanya pada Pak Karno, ia nampak
sedang melihat ke kejauhan jalan, matanya yang sesekali berkedip seperti
menandakan sebuah permasalah yang ia pikirkan jauh di lubuk hatinya.
Setelah aku coba memikirkan sendiri,
aku jadi ingat bahwa Pak Karno pernah bercerita bahwa dia tidak memiliki sanak
saudara, dia bercerita bahwa istrinya sudah lama meninggal, dan anaknya juga
entah dimana.
Pak Karno yang sendirian melanjutkan
hidup dengan berjualan angkringan, tetapi dia berkata bahwa dia tidak merasa
sedih atau terbebani, alih-alih, berjualan angkringan pada malam hari adalah
saat dimana dia bisa banyak tertawa, mengobrol bersama pelanggan-pelanggannya,
dalam tenda angkringan Pak Karno, kami merasa seperti sebuah keluarga, entah
itu anak kuliahan, kuli bangunan, tukang ojek, guru, dosen, dibawah tenda Pak
Karno, kami tertawa lepas tanpa memikirkan latar belakang masing-masing orang.
“Pak Karno?” aku mencoba memanggil
namanya sekali, baru kali ini ia menoleh padaku, dia yang awalnya terkejut
kemudian menoleh padaku dan kembali memasang senyum.
“Pak Karno ada masalah? Mending cerita
pak, biar saya dan teman-teman saya bisa bantu bapak!” kucoba menawarkannya
bantuan, tetapi dia hanya menggeleng lemah sambil tetap memasang senyum itu di
wajahnya.
Muncul berbagai pertanyaan di kepalaku,
apa gerangan yang terjadi dengannya? Apakah ada masalah dengan dagangannya? Aku
yang hendak mendesaknya untuk berbicara lebih akhirnya mengurungkan niat, dia
berdiri, kemudian memandang bintang-bintang di langit dengan matanya yang
lembut.
Ada suatu hal yang mengusik
perasaanku, namun entah apa hal itu… aku membuka mulutku dan bertanya satu
pertanyaan yang terlintas di benakku.
“Kenapa malam ini sepi sekali pak?”
Aku ikut memandang ke kejauhan mengikuti arah
mata Pak Karno. Mata kami melewati kegelapan sawah jauh di hadapan kami hingga
kami melihat suatu titik cahaya.
“Lho pak? Itu… Itu bukanya Kirana
pak?” tanyaku.
Dibalik cahaya yang pudar itu, sesosok
gadis yang cantik wajahnya dan molek tubuhnya tersungkur di tanah, ia
menundukan wajahnya, menangis tersendu-sendu. Kirana berarti cahaya, dan itu
menunjukan pada kecantikan, tetapi saat ini cahaya itu redup.
“Lihat, itu,” Pak Karno menunjuk sosok
Kirana yang menangis tersendu-sendu. “Kakandanya mati.” Pak Karno berkata
seakan ia ikut berbela sungkawa atas Kirana, aku yang hanya bisa merasakan
empati pak Karno luluh dalam kesedihan yang melanda Kirana.
“Kenapa Kakandanya mati?” tanyaku pada
Pak Karno
Pak Karno tidak menjawab, alih-alih ia
kembali tersenyum, tetes-tetes air mata mengalir di pipinya ia mulai
tersendu-sendat dan kemudian, tangisnya meledak.
Aku tidak pernah melihat Pak Karno
menangis, tidak dalam 3 tahun sejak aku rajin mengunjungi angkringannya tiap
hari, Pak Karno selalu nampak sebagai sosok yang menebar senyum, dan bagiku, ia
sudah seperti guru serta orang tuaku sendiri.
Ketika aku memandangnya lagi di
kejauhan, Kirana sudah terkulai lesu, sinar redupnya perlahan makin sekarat.
Tangis Pak Karno makin menjadi-jadi,
hingga pada detik cahaya itu padam, tangis Pak Karno mencapai puncaknya.
Dunia seakan ikut kehilangan cahayanya
lampu jalanan yang sedari tadi menyala tiba-tiba pecah satu persatu.
Ketika kusadari, aku sudah tenggelam
dalam kegelapan.
Meninggalkan Pak Karno yang menangis,
dan Kirana yang telah mati.
Sabtu, 13 Desember 2014
Surat untuk Ayah
Disaat mentari pagi naik
Adalah disaat hati ini tak dapat menerimanya lagi
Papa, ananda rindu bertemu, papa, betapa sulit hidup yang Dia berikan
Dikala hidup seakan tidak kuat diemban bebannya
Aku tulis sepatah dua kata di kertas ini
Papa, sudah hilang ditelan ombak
Papa sudah dikhalayak yang kuasa
Ajaranmu selalu mengajarkan
Tentang hidup yang penuh kasihan
Tetapi kenyataannya
Hidup selalu memainkan perasaan
Air susu dibalas air tuba
Hal yang tidak langka di dunia
Dimana segala kejahatan adalah legal
Dan kebaikan jadi cercaan
Papa, beri aku alasan untuk bertahan lagi
Sebab hati ini meronta-ronta ingin pulang
Adalah disaat hati ini tak dapat menerimanya lagi
Papa, ananda rindu bertemu, papa, betapa sulit hidup yang Dia berikan
Dikala hidup seakan tidak kuat diemban bebannya
Aku tulis sepatah dua kata di kertas ini
Papa, sudah hilang ditelan ombak
Papa sudah dikhalayak yang kuasa
Ajaranmu selalu mengajarkan
Tentang hidup yang penuh kasihan
Tetapi kenyataannya
Hidup selalu memainkan perasaan
Air susu dibalas air tuba
Hal yang tidak langka di dunia
Dimana segala kejahatan adalah legal
Dan kebaikan jadi cercaan
Papa, beri aku alasan untuk bertahan lagi
Sebab hati ini meronta-ronta ingin pulang
Minggu, 26 Oktober 2014
Mengapa Harga Diri Ada?
Bujang kecil menarik-narik jubahku
Ada air mengembun di kelopak matanya
Ia merengek, anak tetangga melempar batu lagi padanya
Bajunya robek, habis berkelahi katanya
Hidungnya berdarah, patah sudah tulangnya
Katanya harga dirinya diinjak-injak, dan dibuang ke kali pojok rumah.
Ah, anakku,
Tidakkah engkau tahu bapak juga sudah tidak punya,
Harga diri bapak hilang kemana?
Tertinggal di stasiun kota, atau hanyut diterjang ombak?
Manusia itu, kalau harga diri hilang, semua jadi tak berguna ya?
Ada air mengembun di kelopak matanya
Ia merengek, anak tetangga melempar batu lagi padanya
Bajunya robek, habis berkelahi katanya
Hidungnya berdarah, patah sudah tulangnya
Katanya harga dirinya diinjak-injak, dan dibuang ke kali pojok rumah.
Ah, anakku,
Tidakkah engkau tahu bapak juga sudah tidak punya,
Harga diri bapak hilang kemana?
Tertinggal di stasiun kota, atau hanyut diterjang ombak?
Manusia itu, kalau harga diri hilang, semua jadi tak berguna ya?
Selasa, 21 Oktober 2014
Aku dan Mereka
Aku tertidur, kemudian terbangun lagi.
Melihat benang pancing yang seakan tidak akan pernah memancing seekor ikanpun.
Termanggut, kemudian aku menutup mata lagi, mencoba untuk tertidur, barang satu menit.
Dalam hati aku merenung sendiri, aku bergumam sendiri, Mungkinkah mimpiku laksana kail pancing ini? tidak ubahnya aku memancing, menunggu ikan memakan umpanku, setengah jam lamanya menunggu, namun tidak bisa kudapat juga ikan itu?
Bergumam aku pada diriku sendiri, aku mencoba untuk mengingat masa lalu, ah... masa mudaku sudah lama terlewat, kenangan-kenangan dan canda tawa konyol itu sudah jauh dibelakang, tertutup oleh debu-debu perkembangan jaman, pemikiran rumit, omelan, cercaan, dan Dokumen.
Dokumen, dokumen, ah, betapa bencinya aku mendengar kata itu.
Melirik ke belakang, aku merasa makin kehilangan dunia yang awalnya kubayangkan indah, dunia yang sepertinya akan jadi gemerlap dan penuh warna, aku menghela napas panjang ketika aku sdari bahwa aku menapaki jejak oleh orang-orang telah tentukan kepadaku.
Aku menghela napas sekali lagi, napas panjang, melelahkan, penuh rasa pasrah, dan juga kelelahan.
Tanpa sadar, aku menemukan seorang gadis duduk di sebelahku, ah, ya, dia adalah buah cintaku dengan wanita yang kucintai, sekitar 9 tahun lalu mungkin, kami mengikat janji suci dihadapan Pastur.
Seperti halnya Ayah yang lain, aku cinta pada putriku, cinta yang tulus telah kucurahkan dengan bekerja keras, seharian bergelut dengan kerasnya hidup hanya untuk mereka.
Sedetik kemudian, aku sadar, aku berjuang untuk mereka, untuk istriku, juga untuk anakku yang amat kucintai.
Aku tidak boleh berhenti memancing, selama ada mereka yang mendukungku dari belakang, aku tidak peduli berapa lama aku harus menunggu, aku akan meraih mimpiku untuk mereka.
Rabu, 03 September 2014
cecongoran empunya blog- Java Kitchen -Balada Para Ksatria Imajina
Suatu hari saya diam sejenak, menatap layar komputer tanpa berbuat apa-apa, saya telah mendownload dan menonton habis watchlist anime saya, melanjutkan setidaknya satu-dua paragraf dari karangan saya, beraktivitas di facebook hingga notification jadi sepi, serta mendengarkan seluruh lagu yang ada di playlist saya.
Di depan layar laptop, saya terbengong, hari sudah malam, tetapi langit malam gelap perkotaan tidak pernah sudi memberikan saya cahaya bulan maupun pemandangan bintang. Kemudian entah apa yang menggerakan tangan saya untuk mencoba karya-karya saya yang lama telah saya selesaikan, beberapa adalah karya yang harusnya memiliki sequel, tetapi sanggup menyelesaikan satu buku sudah merupakan tantangan terbesar bagi saya.
The Light Story
Destiny K-1
Last Child of Gilgamesh
ya, belum dihitung dari tulisan-tulisan batal saya yang lain, ketiga seri ini adalah dunia yang akhirnya bisa saya selesaikan walau dalam kurun waktu yang terbilang terlalu lama.
The Light Story, ya, saya masih sangat ingat judul itu, sebuah judul cerita yang pertama kali saya tulis. Kala itu mungkin saya layaknya bayi yang diajari cara berjalan, saya menulis dengan kalimat yang berantakan dan sangat lucu, sehingga saya sendiri merasa malu sekaligus kagum pada diri saya yang akhirnya dapat menulis habis cerita tersebut.
Protagonist yang ada di cerita itu bernama Ethan, nama serta pembayangan tokohnya mirip sekali dengan tokoh Ethan dari game Phantasy Star yang saya mainkan di PS2 dulu sekali, ya saat itu saya merasa bahwa desain bajunya sangat keren, sehingga saya memilihnya sebagai protagonis.
cerita nya, adalah sebuah dunia yang terus berperang karena usaha seorang demon lord untuk menguasai dunia, Ethan, dimana ia menjadi 'yang terpilih' harus mengumpulkan 7 cincin elemen dan menyelamatkan dunia.
Sebagai sebuah cerita perdana, The Light Story adalah Ksatria yang membawa saya pada dunia tulis-menulis, sebuah dunia baru dimana saya akhirnya dapat mengutarakan ide-ide yang ada di kepala saya, sebuah dunia dimana saya dapat meninggalkan jejak keberadaan saya. Saya tidak akan melupakan nama itu, beserta sang Ksatria protagonist dengan baju zirah bewarna hijau zamrud yang ramah dan membawa saya kepada dunia penuh petualangan. Ksatria itu adalah Ethan.
saya yang awalnya berencana membuat sequel untuk The Light Story mengurungkan niat, karena pada akhirnya, dunia itu biarlah jadi damai untuk selama-lamanya.
Destiny K-1 Cerita ini terinspirasi dari sebuah jam saku yang saya beli sebagai suvenir di sebuah festival anime yang pertama kali saya kunjungi di UI, Destiny K-1 menceritakan tentang seorang anak yang menjadi 'penjaga takdir', orang yang mempertahankan takdir manusia agar berjalan sesuai rencana yang telah disediakan, kecelakaan, bencana, dan sebagainya adalah kehendak takdir dan bagaimana mereka harus berkonflik melawan 'tekad manusia' agar takdir tersebut dapat dibelokan dan manusia dapat memilih takdirnya sendiri.
Kirai Cattapult adalah nama untuk protagonis cerita ini, Kirai yang berarti kebencian, ia mempunyai mata emas yang menjadi alasan dia dijauhi ketika masih kecil, ia mempunyai teman perempuan bernama Kirino (asal colong dari salah satu karakter anime) yang kemudian akan jadi pacarnya.
Kirai adalah 'Assassin of Arcadia' sebuah gelar yang dimiliki karena ia adalah jelmaan dari seorang Assassin di dunia bernama Arcadia, jauh sebelum bumi ini ada.
Kirai, sang Assassin of Arcadia bersama Templar of Arcadia bertarung bersama, melindungi takdir bumi dari petaka.
Sosok Kirai yang kesepian kemudian bertemu dengan Tempar yang menjadi sahabatnya, itu memberikan senyum sendiri bagi saya, kemudian, tokoh penting lagi adalah Nenavidet, sang Antagonis dalam cerita ini yang melampiaskan kebenciannya karena kesendirian, ia menjadi adik angkat bagi Kirai, sehingga cerita ini berakhir bahagia.
Destiny, pernah dimuat oleh Komunitas Penulis Muda, sebuah halaman di media sosial Facebook dimana saya mendapatkan kritik positif.
Sosok yang gelap, tetapi dibalik kegelapan itu ada sebuah senyum hangat dan pelukan bagi orang yang dilindungi. Kirai dalam bayangan saya adalah Ksatria dengan armor biru emerald berukiran serigala di dadanya, dia sering memberikan tatapan tajam, tetapi dia bisa tersenyum dan memberikan perasaan senang.
Last Child of Gilgamesh...
masa pubertas, masa mencari jati diri dan mimpi, tertulis jelas pada karya saya yang paling emosional dalam cerita-cerita saya, Last Child of Gilgamesh menceritakan seorang remaja yang tidak ada apa-apanya, dia kemudian diketahui mempunyai garis keturunan Gilgamesh, raja dewa Mesopotamia, dan karena itu dia diberkahi kekuatan luar biasa dan takdir yang luar biasa pula, dia akan membangkitkan Gilgamesh dari kematian untuk menguasai dunia.
Dipandang sebagai sebuah ancaman oleh sebagian Gereja Vatikan dan makanan bagi kaum satanis, sang Protagonis, Lero Armando, mencari perlindungan dibawah naungan ordo Templar. Dia harus meninggalkan keluarga serta temannya agar mereka tidak terkena ancaman satanis yang mengincarnya, tentunya itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan bagi Lero Armando yang kemudian mengubah namanya menjadi Koha Grammar.
aura cerita ini gelap dan diselimuti dengan keputusasaan, menghadapi takdir-takdir yang lebih buruk lagi, Koha harus kehilangan orang yang ia cintai ketika dia dibawah perlindungan Templar.
Koha, atau Lero. Ia adalah Ksatria dengan zirah hitam kelam yang ditempa dari besi meteor, tidak pernah berbicara, tidak pernah tersenyum, tetapi dia mempunyai sebuah kekuatan besar, kekuatan yang ia buat dari keputusasaan serta penderitaannya.
ketiga ksatria tadi telah menunjukan jalan pada saya saat ini, mereka telah menunjukan saya pada sebuah dunia yang tidak memiliki batas, sebuah dunia yang dapat dibuat dibawah secarik kertas dan segores pena, dunia yang saya kagumi dimana saya dapat melihat galaksi walaupun langit amat gelap.
Merekalah 3 ksatria yang kini berdiri berdampingan di sebuah batu karang, saling melihat ke kejauhan, membayangkan petualangan yang menanti mereka.
3 Ksatria Imajina yang telah mengukir jalan hidup saya selama ini
3 Ksatria Imajina yang telah mengukir siapa saya sebenarnya...
dan saya disini, menceritakan kisah mereka sebagai seorang penyair.
Di depan layar laptop, saya terbengong, hari sudah malam, tetapi langit malam gelap perkotaan tidak pernah sudi memberikan saya cahaya bulan maupun pemandangan bintang. Kemudian entah apa yang menggerakan tangan saya untuk mencoba karya-karya saya yang lama telah saya selesaikan, beberapa adalah karya yang harusnya memiliki sequel, tetapi sanggup menyelesaikan satu buku sudah merupakan tantangan terbesar bagi saya.
The Light Story
Destiny K-1
Last Child of Gilgamesh
ya, belum dihitung dari tulisan-tulisan batal saya yang lain, ketiga seri ini adalah dunia yang akhirnya bisa saya selesaikan walau dalam kurun waktu yang terbilang terlalu lama.
The Light Story, ya, saya masih sangat ingat judul itu, sebuah judul cerita yang pertama kali saya tulis. Kala itu mungkin saya layaknya bayi yang diajari cara berjalan, saya menulis dengan kalimat yang berantakan dan sangat lucu, sehingga saya sendiri merasa malu sekaligus kagum pada diri saya yang akhirnya dapat menulis habis cerita tersebut.
Protagonist yang ada di cerita itu bernama Ethan, nama serta pembayangan tokohnya mirip sekali dengan tokoh Ethan dari game Phantasy Star yang saya mainkan di PS2 dulu sekali, ya saat itu saya merasa bahwa desain bajunya sangat keren, sehingga saya memilihnya sebagai protagonis.
cerita nya, adalah sebuah dunia yang terus berperang karena usaha seorang demon lord untuk menguasai dunia, Ethan, dimana ia menjadi 'yang terpilih' harus mengumpulkan 7 cincin elemen dan menyelamatkan dunia.
Sebagai sebuah cerita perdana, The Light Story adalah Ksatria yang membawa saya pada dunia tulis-menulis, sebuah dunia baru dimana saya akhirnya dapat mengutarakan ide-ide yang ada di kepala saya, sebuah dunia dimana saya dapat meninggalkan jejak keberadaan saya. Saya tidak akan melupakan nama itu, beserta sang Ksatria protagonist dengan baju zirah bewarna hijau zamrud yang ramah dan membawa saya kepada dunia penuh petualangan. Ksatria itu adalah Ethan.
saya yang awalnya berencana membuat sequel untuk The Light Story mengurungkan niat, karena pada akhirnya, dunia itu biarlah jadi damai untuk selama-lamanya.
Destiny K-1 Cerita ini terinspirasi dari sebuah jam saku yang saya beli sebagai suvenir di sebuah festival anime yang pertama kali saya kunjungi di UI, Destiny K-1 menceritakan tentang seorang anak yang menjadi 'penjaga takdir', orang yang mempertahankan takdir manusia agar berjalan sesuai rencana yang telah disediakan, kecelakaan, bencana, dan sebagainya adalah kehendak takdir dan bagaimana mereka harus berkonflik melawan 'tekad manusia' agar takdir tersebut dapat dibelokan dan manusia dapat memilih takdirnya sendiri.
Kirai Cattapult adalah nama untuk protagonis cerita ini, Kirai yang berarti kebencian, ia mempunyai mata emas yang menjadi alasan dia dijauhi ketika masih kecil, ia mempunyai teman perempuan bernama Kirino (asal colong dari salah satu karakter anime) yang kemudian akan jadi pacarnya.
Kirai adalah 'Assassin of Arcadia' sebuah gelar yang dimiliki karena ia adalah jelmaan dari seorang Assassin di dunia bernama Arcadia, jauh sebelum bumi ini ada.
Kirai, sang Assassin of Arcadia bersama Templar of Arcadia bertarung bersama, melindungi takdir bumi dari petaka.
Sosok Kirai yang kesepian kemudian bertemu dengan Tempar yang menjadi sahabatnya, itu memberikan senyum sendiri bagi saya, kemudian, tokoh penting lagi adalah Nenavidet, sang Antagonis dalam cerita ini yang melampiaskan kebenciannya karena kesendirian, ia menjadi adik angkat bagi Kirai, sehingga cerita ini berakhir bahagia.
Destiny, pernah dimuat oleh Komunitas Penulis Muda, sebuah halaman di media sosial Facebook dimana saya mendapatkan kritik positif.
Sosok yang gelap, tetapi dibalik kegelapan itu ada sebuah senyum hangat dan pelukan bagi orang yang dilindungi. Kirai dalam bayangan saya adalah Ksatria dengan armor biru emerald berukiran serigala di dadanya, dia sering memberikan tatapan tajam, tetapi dia bisa tersenyum dan memberikan perasaan senang.
Last Child of Gilgamesh...
masa pubertas, masa mencari jati diri dan mimpi, tertulis jelas pada karya saya yang paling emosional dalam cerita-cerita saya, Last Child of Gilgamesh menceritakan seorang remaja yang tidak ada apa-apanya, dia kemudian diketahui mempunyai garis keturunan Gilgamesh, raja dewa Mesopotamia, dan karena itu dia diberkahi kekuatan luar biasa dan takdir yang luar biasa pula, dia akan membangkitkan Gilgamesh dari kematian untuk menguasai dunia.
Dipandang sebagai sebuah ancaman oleh sebagian Gereja Vatikan dan makanan bagi kaum satanis, sang Protagonis, Lero Armando, mencari perlindungan dibawah naungan ordo Templar. Dia harus meninggalkan keluarga serta temannya agar mereka tidak terkena ancaman satanis yang mengincarnya, tentunya itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan bagi Lero Armando yang kemudian mengubah namanya menjadi Koha Grammar.
aura cerita ini gelap dan diselimuti dengan keputusasaan, menghadapi takdir-takdir yang lebih buruk lagi, Koha harus kehilangan orang yang ia cintai ketika dia dibawah perlindungan Templar.
Koha, atau Lero. Ia adalah Ksatria dengan zirah hitam kelam yang ditempa dari besi meteor, tidak pernah berbicara, tidak pernah tersenyum, tetapi dia mempunyai sebuah kekuatan besar, kekuatan yang ia buat dari keputusasaan serta penderitaannya.
ketiga ksatria tadi telah menunjukan jalan pada saya saat ini, mereka telah menunjukan saya pada sebuah dunia yang tidak memiliki batas, sebuah dunia yang dapat dibuat dibawah secarik kertas dan segores pena, dunia yang saya kagumi dimana saya dapat melihat galaksi walaupun langit amat gelap.
Merekalah 3 ksatria yang kini berdiri berdampingan di sebuah batu karang, saling melihat ke kejauhan, membayangkan petualangan yang menanti mereka.
3 Ksatria Imajina yang telah mengukir jalan hidup saya selama ini
3 Ksatria Imajina yang telah mengukir siapa saya sebenarnya...
dan saya disini, menceritakan kisah mereka sebagai seorang penyair.
Langganan:
Postingan (Atom)