Mereka bilang bumi ini akan hancur....
ditelan oleh keserakahan manusia, dan dihancurkan oleh perilaku manusia. Orang-orang tua melihat masa depan itu dengan kelam, seakan ada kabut menutupi mata mereka.
Anak-anak muda yang bermain riang, mereka lihat sebagai pewaris keputus-asaan, terbayang di wajah orang-orang tua itu masa depan mereka yang dipenuhi oleh gersangnya gurun pasir, panasnya matahari, keruhnya air, serta dinginnya badai.
Orang-orang tua memeluk anak-anak mereka, "Kasihan... oh, kasihan..." pekik orang-orang itu, meratapi bagaimana menderitanya mereka saat itu.
***
Langit gelap, hujan, dan tangisan, mewarnai akhir milenia 2000.
Pada akhir milenia ini, dunia mengalami krisis bahan bakar luar biasa
Minyak yang terus digunakan sebagai pelumas penggerak kehidupan telah habis, dan negara-negara tidak siap untuk menerapkan sumber tenaga alternatif. Roda perekonomian berhenti, masyarakat semakin ketakutan ketika melihat sumber pangan mereka hampir habis.
Tidak butuh waktu lama hingga munculnya tindakan-tindakan kasar dari orang-orang yang berusaha mencari makanan, sudah menjadi pemandangan biasa apabila terjadi penjarahan toko, ataupun perkelahian di trotoar antara dua orang yang memperebutkan makanan.
2890, adalah permulaan masa-masa kelam tersebut.
***
Sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun kemudian...
Usaha-usaha untuk menyuburkan kembali tanah, dan membangun ulang peradaban, seolah-seolah ditentang oleh Bumi itu sendiri. Tidak ada padi, rumput, ataupun pohon yang dapat tumbuh sehat, sekalipun ada, buah yang dihasilkan tak akan cukup untuk memenuhi perut orang-orang yang kelaparan.
Terkadang, perebutan akan makanan kembali terjadi, hal ini juga yang membuat keadaan semakin buruk.
Seakan belum selesai, muncul efek rantai dari masalah tersebut, turunnya angka kesuburan, yang menyebabkan makin sedikitnya bayi yang lahir.
Bumi seakan ingin manusia punah...
"Mungkin inilah hukuman atas dosa-dosa kami," ucap seorang dari masa tua.
"Inilah akibat yang kami terima dari mengecewakan Ibu Bumi," katanya lagi.
"Ini adalah sebuah harga yang Ibu Bumi inginkan..."
"Kepunahan."
***
Seratus tahun telah berlalu, milenia dua ribu dalam tahun manusia secara resmi pula berakhir.
Hilangnya peradaban manusia dari muka Bumi tidak serta merta melenyapkan jejak-jejak mereka. Sedikit demi sedikit, Ibu Bumi kembali mengambil alih wajah dunia. Kota-kota tempat manusia dulu berada, sedikit demi sedikit disikat oleh kekuatan alam.
Daratan menjadi laut, dan laut menjadi daratan.
Makhluk-makhluk yang dulu hidup dalam perbudakan manusia semakin berkembang dan kembali mewarnai kehidupan di Bumi, tenang tanpa gangguan tangan manusia.
Bumi kembali pada awal mulanya, sebagai taman Eden.
***
Sebuah Kisah Tentang Dia yang Bukan Manusia
Aku tidak pernah tahu dari mana aku berasal
Tidak, bahkan aku tidak tahu aku terbuat dari apa
Ketika aku terbangun, ketika aku membuka mataku
Aku melihat Ibu. Ibu Bumi
Berselimut cahaya, ia duduk diatas tahta pohon yang besar
Kunang-kunang menari-nari di sekitarnya
Seekor macan besar tidur tenang disamping kakinya
Elang bertengger di salah satu lengan tahtanya
Ibu menatap mataku lekat
Aku juga menatapnya balik
Kurasakan sebuah kehangatan yang terasa baru
Saat itu, aku mengerti bahwa itulah kehangatan 'cinta'
Ia menunjuk ke arahku
Dengan jarinya yang lentik dan indah
Ia menamaiku
"Adam"
***
Bumi
3000 Masehi kalender manusia
Adam sekali lagi menapaki kakinya di jalan berbatu yang basah, ia mengambil ancang-ancang lagi, dan melompati diri ke batu berikutnya. Cahaya matahari terik memancar, memberi kesempatan bagi para teman-teman tumbuhan untuk berfotosintesis.
Lelaki itu mengadah ke atas, kedua tangannya direntangkan lebar, dan ia merasakan hangatnya matahari.
Adam, walaupun namanya sangat manusiawi, ia bukan manusia
Kau bisa melihat lewat wujudnya, ketika dia merentangkan kedua tangannya menghadap matahari, muncul selaput-selaput yang terkelupas dari badan kulitnya. Selaput-selaput tersebut berisi klorofil untuknya melakukan fotosintesis.
Benar, Adam bukan manusia, ia adalah tumbuhan.
Sebuah tumbuhan yang amat manusiawi, ia bisa berpikir, berlari, mengenggam, bernyanyi, mengendus, mendengar, serta meraba. Dalam ilmu pengetahuan manusia, para ilmuwan pasti akan terkejut melihatnya, apalagi fakta bahwa Adam muncul hanya dalam tempo seratus tahun setelah keruntuhan peradaban manusia, ini adalah sebuah anomali.
Tidak, bukan anomali
Ini adalah keajaiban.
***
Adam lahir dari sebuah bibit raksasa, tidak dapat dijelaskan pohon apa yang dapat menghasilkan bibit sebesar minibus, faktanya, hampir tidak ada pohon normal yang dapat menghasilkan bibit sebesar itu.
Adam dapat melihat sejak pertama kali keluar dari bibit, bersamaan, dengan itu, indra-indranya mulai aktif, indra pendengaran, peraba, dan penciumnya sedikit-demi sedikit mulai menyesuaikan dengan perkembangan Adam, dalam 3 hari, dia sudah dapat berlari, melompat, serta memanjat.
Sebuah spesies asing yang tiba-tiba muncul di muka Bumi, Adam tidak mengetahui tujuannya. Apa yang mendorongnya untuk terus bergerak selama ini hanya satu, yaitu insting.
Adam tidak butuh berburu, ia tidak butuh mengumpulkan makanan seperti rumput atau buah, ia hanya perlu berdiri di tengah-tengah tanah lapang, bermandikan cahaya matahari.
Begitu pula dengan reproduksi.
Kenyataan bahwa Adam adalah satu-satunya spesies Manusia-Tumbuhan menumbuhkan pertanyaan, apakah ia butuh reproduksi seksual? atau apakah ia dapat melakukan reproduksi aseksual?
Apakah Adam bahkan peduli akan pertanyaan-pertanyaan itu?
Tidak ada yang tahu.
Spesies itu, Manusia-Tumbuhan itu, hanya berjalan, berjalan dan berjalan, entah apakah ia memiliki suatu tujuan, khusus, atau hanya itulah takdirnya sebagai satu-satunya spesies yang menyerupai manusia di muka bumi ini.
Apakah ia akan mengikuti jejak manusia, dan mendirikan sebuah peradaban manusia-tumbuhan?
Ataukah ia memiliki sebuah tujuan lain?
Adakah sebuah takdir besar yang menunggunya di ujung jalan sana?
*******************************************************
Java Kitchen
Tangerang, 14 Mei 2016
Sabtu, 14 Mei 2016
Rabu, 09 Maret 2016
Manusia dan Idealisme
Ketika anak manusia dihadapkan dalam kenyataan
Ketika realita pada akhirnya mencabut nyawa manusia
Manusia yang sama seperti kita, manusia yang sama seperti kau dan aku
Ketika cita-cita, pada akhirnya hanya berakhir sebagai cita-cita
Apakah engkau menerima kenyataan seperti itu? apakah kau menerima dunia seperti itu?
Kita, anak-anak yang terdidik oleh orang tua kita
Doktrin apa yang telah kau pelajari?
Kenyataan apa yang telah kau bentuk dari ajaran mereka?
dan ketika kau sadar, kenyataan-kenyataan lain di luar sana
Masihkah engkau berpegang pada kenyataan yang kau percayai selama ini?
Manusia yang telah diatur
Manusia yang telah dibentuk oleh lingkungan
Sehingga menjadi sosialita yang kita kenal saat ini
Aku mencemooh mereka
Aku mencemooh realita
Aku mencemooh sosialita
Tapi pada akhirnya, aku juga dibentuk oleh mereka
Idealisme yang kupegang
Idealisme yang kutanam
Sebuah tiang tanpa penyangga di tanah penuh keabstrakan
Ditanam di otak, maupun ditanam di jiwa
Memimpin manusia melalui jaman
Apa yang akan dibentuk nanti, apa yang akan kau perjuangkan nanti
Apakah akan damai? ataukah diwarnai cipratan darah?
Ah, anak manusia..
Engkau dan idealismemu, tak akan bisa dipisahkan
Halalkah darah di pedangmu untuk idealisme itu?
Ketika realita pada akhirnya mencabut nyawa manusia
Manusia yang sama seperti kita, manusia yang sama seperti kau dan aku
Ketika cita-cita, pada akhirnya hanya berakhir sebagai cita-cita
Apakah engkau menerima kenyataan seperti itu? apakah kau menerima dunia seperti itu?
Kita, anak-anak yang terdidik oleh orang tua kita
Doktrin apa yang telah kau pelajari?
Kenyataan apa yang telah kau bentuk dari ajaran mereka?
dan ketika kau sadar, kenyataan-kenyataan lain di luar sana
Masihkah engkau berpegang pada kenyataan yang kau percayai selama ini?
Manusia yang telah diatur
Manusia yang telah dibentuk oleh lingkungan
Sehingga menjadi sosialita yang kita kenal saat ini
Aku mencemooh mereka
Aku mencemooh realita
Aku mencemooh sosialita
Tapi pada akhirnya, aku juga dibentuk oleh mereka
Idealisme yang kupegang
Idealisme yang kutanam
Sebuah tiang tanpa penyangga di tanah penuh keabstrakan
Ditanam di otak, maupun ditanam di jiwa
Memimpin manusia melalui jaman
Apa yang akan dibentuk nanti, apa yang akan kau perjuangkan nanti
Apakah akan damai? ataukah diwarnai cipratan darah?
Ah, anak manusia..
Engkau dan idealismemu, tak akan bisa dipisahkan
Halalkah darah di pedangmu untuk idealisme itu?
Senin, 29 Februari 2016
Kereta di Tengah Hutan
Apabila kau merasa bosan
Coba pergi ke hutan belakang sekolah
Masuklah dari arah mana saja
Jalanlah lurus, tidak boleh berbelok
Kemudian, mulai dari langkah memasuki hutan, hitung hingga langkah ke seratus lima puluh
Ketika sudah langkah ke seratus lima puluh, teriakan jalur jurusan suatu kereta
Teriakan dengan lantang dan keras, selama tiga kali
Setelah itu, kau akan melihat sebuah gerbong kereta di tengah hutan. Kereta tanpa rel, kereta tanpa stasiun.
Itu adalah penggalan puisi yang amat terkenal di kampung halamanku, Mitos tentang kereta berhantu, atau kereta misterius yang hanya muncul bila dilakukan semacam ritual.
Ada banyak versi cerita yang kadang melengkapinya, terkadang, seseorang temanku bercerita bahwa kereta tersebut akan membawamu ke alam lain, atau versi bahwa kereta tersebut dihuni oleh monster kelaparan yang akan melahapmu begitu ia melihat.
Nyatanya, cerita ini tidak hanya terkenal di kalangan anak-anak, orang-orang dewasa pun ternyata sudah mengenal cerita tersebut sejak mereka kecil
Seperti layaknya, sebuah warisan budaya, tidak ada orang lama di pulau ini yang tidak mengenal kisah tersebut, Kereta Misterius di Tengah Hutan.
Aku, adalah seorang anak yang ingin tahu.
Meskipun pendiam, mataku suka melirik ke segala arah
Menerka-nerka asal-usul suatu barang.
Sebagai anak yang juga tumbuh dalam lingkungan pulau tersebut, aku sudah kenyang dengan puisi yang terus diceritakan orang-orang.
Beberapa mengatakannya hantu kereta peninggalan penjajah, beberapa lagi mengatakan penampakan roh halus.
Hari demi hari, aku semakin penasaran.
Hingga akhirnya tiba suatu hari... Hari yang buruk, sebenarnya.
Umurku 13 tahun, dan aku dimarahi ayahku oleh suatu alasan.
Ia mengataiku pelamun yang tidak pernah bergerak, kerjanya hanya diam di depan halaman, anak yang tidak berguna.
Itu kata-kata yang cukup sakit bagiku.
Hari itu, matahari tanpa ampun bercahaya.
Sinarnya menusuk-nusuk kulit tanpa ampun.
Aku yang marah terhadap ayahku minggat
Pergi ke hutan yang diceritakan.
Aneh juga...
Langit bersinar bak lampu neon dihadapkan pada kaca pembesar
Tapi kenapa hutan itu sangat rindang?
Seakan hutan itu hidup, seakan hutan itu bernafas. Sebuah hembusan nafas yang sejuk dan dipenuhi bau daun...
150 langkah....
Teriakan dengan lantang...
...
...
...
Sekilas, suara itu tredengar samar,
Kemudian terdengar lagi, dan lagi
hingga kemudian...
JESS... JESS... JESS...
Sebuah suara akrab yang kudengar dari sebuah kereta, suara rodanya yang berdecit ketika mengarungi rel, suara aneh yang terdengar seperti uap yang keluar dari pembuangan.
Dan tiba-tiba di hadapanku, Kereta itu berhenti.
Coba pergi ke hutan belakang sekolah
Masuklah dari arah mana saja
Jalanlah lurus, tidak boleh berbelok
Kemudian, mulai dari langkah memasuki hutan, hitung hingga langkah ke seratus lima puluh
Ketika sudah langkah ke seratus lima puluh, teriakan jalur jurusan suatu kereta
Teriakan dengan lantang dan keras, selama tiga kali
Setelah itu, kau akan melihat sebuah gerbong kereta di tengah hutan. Kereta tanpa rel, kereta tanpa stasiun.
Itu adalah penggalan puisi yang amat terkenal di kampung halamanku, Mitos tentang kereta berhantu, atau kereta misterius yang hanya muncul bila dilakukan semacam ritual.
Ada banyak versi cerita yang kadang melengkapinya, terkadang, seseorang temanku bercerita bahwa kereta tersebut akan membawamu ke alam lain, atau versi bahwa kereta tersebut dihuni oleh monster kelaparan yang akan melahapmu begitu ia melihat.
Nyatanya, cerita ini tidak hanya terkenal di kalangan anak-anak, orang-orang dewasa pun ternyata sudah mengenal cerita tersebut sejak mereka kecil
Seperti layaknya, sebuah warisan budaya, tidak ada orang lama di pulau ini yang tidak mengenal kisah tersebut, Kereta Misterius di Tengah Hutan.
Aku, adalah seorang anak yang ingin tahu.
Meskipun pendiam, mataku suka melirik ke segala arah
Menerka-nerka asal-usul suatu barang.
Sebagai anak yang juga tumbuh dalam lingkungan pulau tersebut, aku sudah kenyang dengan puisi yang terus diceritakan orang-orang.
Beberapa mengatakannya hantu kereta peninggalan penjajah, beberapa lagi mengatakan penampakan roh halus.
Hari demi hari, aku semakin penasaran.
Hingga akhirnya tiba suatu hari... Hari yang buruk, sebenarnya.
Umurku 13 tahun, dan aku dimarahi ayahku oleh suatu alasan.
Ia mengataiku pelamun yang tidak pernah bergerak, kerjanya hanya diam di depan halaman, anak yang tidak berguna.
Itu kata-kata yang cukup sakit bagiku.
Hari itu, matahari tanpa ampun bercahaya.
Sinarnya menusuk-nusuk kulit tanpa ampun.
Aku yang marah terhadap ayahku minggat
Pergi ke hutan yang diceritakan.
Aneh juga...
Langit bersinar bak lampu neon dihadapkan pada kaca pembesar
Tapi kenapa hutan itu sangat rindang?
Seakan hutan itu hidup, seakan hutan itu bernafas. Sebuah hembusan nafas yang sejuk dan dipenuhi bau daun...
150 langkah....
Teriakan dengan lantang...
...
...
...
Sekilas, suara itu tredengar samar,
Kemudian terdengar lagi, dan lagi
hingga kemudian...
JESS... JESS... JESS...
Sebuah suara akrab yang kudengar dari sebuah kereta, suara rodanya yang berdecit ketika mengarungi rel, suara aneh yang terdengar seperti uap yang keluar dari pembuangan.
Dan tiba-tiba di hadapanku, Kereta itu berhenti.
Minggu, 28 Februari 2016
Tumbuh
Hidup menjadi lucu ketika kau mulai tumbuh dewasa
Ketika aku melihat masa lalu, aku bisa melihat sesosok anak penurut
Yakin bahwa semua yang kudengar adalah absolut
Yakin bahwa orang-orang yang tidak sependapat denganku akan menderita di neraka
Sementara aku akan pergi ke surga
Sedikit demi sedikit, anak kecil itupun mulai tumbuh
Dunia mengajarinya dengan cara yang menyakitkan
Dicerca, disingkirkan
Dianiaya dan dihina
Namun terkadang, dia masih merasakan kehangatan
Maupun rasa kebersamaan yang menyenangkan
Kini hidup telah membentukku
Aku melihat bagaimana dunia itu relatif
Tiada hitam dan putih
Manusia hidup dalam keabu-abuan
Selamat tinggal bocah naif
Halo pemuda yang kritis
Itu yang ingin kukatakan pada diriku saat ini.
Ketika aku melihat masa lalu, aku bisa melihat sesosok anak penurut
Yakin bahwa semua yang kudengar adalah absolut
Yakin bahwa orang-orang yang tidak sependapat denganku akan menderita di neraka
Sementara aku akan pergi ke surga
Sedikit demi sedikit, anak kecil itupun mulai tumbuh
Dunia mengajarinya dengan cara yang menyakitkan
Dicerca, disingkirkan
Dianiaya dan dihina
Namun terkadang, dia masih merasakan kehangatan
Maupun rasa kebersamaan yang menyenangkan
Kini hidup telah membentukku
Aku melihat bagaimana dunia itu relatif
Tiada hitam dan putih
Manusia hidup dalam keabu-abuan
Selamat tinggal bocah naif
Halo pemuda yang kritis
Itu yang ingin kukatakan pada diriku saat ini.
Senin, 22 Februari 2016
Penyesalan
Aku menjalani hidupku, berjalan mengarungi waktu, belajar makna hidup, tetapi apakah yang kupelajari?
Apakah karena semua relatif, sehingga hal-hal datang dan pergi?
Ataukah kesalahanku sehingga situasi terganti?
Halo, Pujangga di hati
Masihkah engkau berkeluh diri?
***
Seutas tali tipis, diikat dengan tali tambang, dan kemudian diikat ke rantai.
Itulah yang aku lihat saat ini. Hidupku ini.
Terkadang aku penasaran, dimana diriku 5 tahun lalu?
Sesosok anak polos yang tidak memikirkan dunia, tidak memikirkan lingkungan
Kemana temanku yang erat persahabatannya itu?
Kemana aku?
***
Aku tidak menyalahkan diriku 3 tahun lalu
Diriku yang dipisahkan dari dunia imaji
Rasanya sakit bagaikan dipisahkan dari seorang kekasih
3 tahun itu, adalah hidup yang berat
Aku tahu orang-orang itu memandangku sebelah mata
Akan tetapi yang paling sakit
Mengapa sang Pujangga tak bergema lagi?
***
Kini masa-masa itu telah selesai
Kini datang tahun-tahun baru
Apa yang akan terjadi di masa depan?
Aku tidak tahu.
Aku takut.
***
Oh, masa lalu.
Entah itu 5 tahun
Entah itu 3 tahun yang lalu...
Mengapa aku merindukanmu?
Inikah yang namanya penyesalan?
***
Oh, Pujangga hati,
Bergemalah sekali lagi
Kurindukan melodimu
Yang menggugah hatiku dulu sekali
***
Bisikan padaku,
Apabila ini penyesalan.
Tunjukan padaku
DImanakah jalan keluar.
Apakah karena semua relatif, sehingga hal-hal datang dan pergi?
Ataukah kesalahanku sehingga situasi terganti?
Halo, Pujangga di hati
Masihkah engkau berkeluh diri?
***
Seutas tali tipis, diikat dengan tali tambang, dan kemudian diikat ke rantai.
Itulah yang aku lihat saat ini. Hidupku ini.
Terkadang aku penasaran, dimana diriku 5 tahun lalu?
Sesosok anak polos yang tidak memikirkan dunia, tidak memikirkan lingkungan
Kemana temanku yang erat persahabatannya itu?
Kemana aku?
***
Aku tidak menyalahkan diriku 3 tahun lalu
Diriku yang dipisahkan dari dunia imaji
Rasanya sakit bagaikan dipisahkan dari seorang kekasih
3 tahun itu, adalah hidup yang berat
Aku tahu orang-orang itu memandangku sebelah mata
Akan tetapi yang paling sakit
Mengapa sang Pujangga tak bergema lagi?
***
Kini masa-masa itu telah selesai
Kini datang tahun-tahun baru
Apa yang akan terjadi di masa depan?
Aku tidak tahu.
Aku takut.
***
Oh, masa lalu.
Entah itu 5 tahun
Entah itu 3 tahun yang lalu...
Mengapa aku merindukanmu?
Inikah yang namanya penyesalan?
***
Oh, Pujangga hati,
Bergemalah sekali lagi
Kurindukan melodimu
Yang menggugah hatiku dulu sekali
***
Bisikan padaku,
Apabila ini penyesalan.
Tunjukan padaku
DImanakah jalan keluar.
Minggu, 15 Februari 2015
Angkringan Pak Karno
Di pinggir kota Jogja yang sepi tanpa
bunyi apapun, ada satu angkringan yang masih buka. Gerobak angkrigan itu
mendirikan tenda di sampingnya, serta menggelar karpet terpal yang seperti
biasa digunakan orang untuk makan.
Tidak ada bunyi bising kendaraan atau
cengkrama orang-orang yang berlalu-lalang, suasana sepi, seakan hanya aku
manusia yang masih hidup bersama pak tua yang penjual makanan angkringan
tersebut.
Aku dan teman-temanku biasa memanggil
dia Pak Karno, sudah lama dia makan asam garam hidup, kulitnya coklat keriput
serta rambutnya yang sudah beruban semuanya. Pak Karno memakai baju batik,
celana panjang katun, sandal jepit, serta kopiah yang selalu dia pakai, agaknya
dia selalu memakai kopiahnya selama bertahun-tahun karena kopiah itu terlihat lusuh.
Selalu ada yang istimewa dari masakan Pak
Karno, nasi kucing yang selalu dia hidangkan, entah bagaimana terasa hangat dan
enak, sate ayam, sate telur, ataupun sate ati ampela yang dihidangkannya juga
memiliki rasa yang khas, sehingga aku dan teman-temanku sangat betah datang ke
angkringan milik pak Karno.
Malam ini… ah entah sudah pukul berapa
malam ini, tetapi aku masih betah duduk lesehan sambil menikmati kopi arang
yang juga menjadi favoritku setiap makan di angkringan Pak Karno.
“Bagaimana dik? Enak makanannya?” Pak
Karno tiba-tiba menyapaku, oh, rupanya dia sudah selesai menata dan memasak
dagangannya.
“Wah pasti dong! Nasi kucing Pak Karno
nomor satu di jogja!” aku menjawabnya dengan penuh semangat, aku tidak bohong
kalau mau bilang angkringan Pak Karno itu nomor satu, tetapi dari
angkringan-angkringan yang sudah kujelajahi di sekitar penjuru Jogja, memang
hanya Pak Karno yang memiliki bumbu rahasia terbaik dalam menyajikan makanan
sederhana menjadi amat lezat.
“He he… bukannya gara-gara nasi bapak
murah ya? Kamu kalau datang pasti habisin dua sampai 5 bungkus!” Pak Karno
tertawa mendengar jawabanku, gigi taringnya yang ompong terlihat dari balik
mulutnya yang tertawa.
Hening seusai tertawa, aku menatap
jalan yang tidak dilalui satu jiwa pun. Heran, biasanya anak-anak muda pasti
masih akan main-main bahkan sampai fajar menyingsing, tetapi mengapa keadaan
sepi sekali?
“Pak, kok tumben ya, malam-malam
begini sepi?”
Aku bertanya pada Pak Karno, ia nampak
sedang melihat ke kejauhan jalan, matanya yang sesekali berkedip seperti
menandakan sebuah permasalah yang ia pikirkan jauh di lubuk hatinya.
Setelah aku coba memikirkan sendiri,
aku jadi ingat bahwa Pak Karno pernah bercerita bahwa dia tidak memiliki sanak
saudara, dia bercerita bahwa istrinya sudah lama meninggal, dan anaknya juga
entah dimana.
Pak Karno yang sendirian melanjutkan
hidup dengan berjualan angkringan, tetapi dia berkata bahwa dia tidak merasa
sedih atau terbebani, alih-alih, berjualan angkringan pada malam hari adalah
saat dimana dia bisa banyak tertawa, mengobrol bersama pelanggan-pelanggannya,
dalam tenda angkringan Pak Karno, kami merasa seperti sebuah keluarga, entah
itu anak kuliahan, kuli bangunan, tukang ojek, guru, dosen, dibawah tenda Pak
Karno, kami tertawa lepas tanpa memikirkan latar belakang masing-masing orang.
“Pak Karno?” aku mencoba memanggil
namanya sekali, baru kali ini ia menoleh padaku, dia yang awalnya terkejut
kemudian menoleh padaku dan kembali memasang senyum.
“Pak Karno ada masalah? Mending cerita
pak, biar saya dan teman-teman saya bisa bantu bapak!” kucoba menawarkannya
bantuan, tetapi dia hanya menggeleng lemah sambil tetap memasang senyum itu di
wajahnya.
Muncul berbagai pertanyaan di kepalaku,
apa gerangan yang terjadi dengannya? Apakah ada masalah dengan dagangannya? Aku
yang hendak mendesaknya untuk berbicara lebih akhirnya mengurungkan niat, dia
berdiri, kemudian memandang bintang-bintang di langit dengan matanya yang
lembut.
Ada suatu hal yang mengusik
perasaanku, namun entah apa hal itu… aku membuka mulutku dan bertanya satu
pertanyaan yang terlintas di benakku.
“Kenapa malam ini sepi sekali pak?”
Aku ikut memandang ke kejauhan mengikuti arah
mata Pak Karno. Mata kami melewati kegelapan sawah jauh di hadapan kami hingga
kami melihat suatu titik cahaya.
“Lho pak? Itu… Itu bukanya Kirana
pak?” tanyaku.
Dibalik cahaya yang pudar itu, sesosok
gadis yang cantik wajahnya dan molek tubuhnya tersungkur di tanah, ia
menundukan wajahnya, menangis tersendu-sendu. Kirana berarti cahaya, dan itu
menunjukan pada kecantikan, tetapi saat ini cahaya itu redup.
“Lihat, itu,” Pak Karno menunjuk sosok
Kirana yang menangis tersendu-sendu. “Kakandanya mati.” Pak Karno berkata
seakan ia ikut berbela sungkawa atas Kirana, aku yang hanya bisa merasakan
empati pak Karno luluh dalam kesedihan yang melanda Kirana.
“Kenapa Kakandanya mati?” tanyaku pada
Pak Karno
Pak Karno tidak menjawab, alih-alih ia
kembali tersenyum, tetes-tetes air mata mengalir di pipinya ia mulai
tersendu-sendat dan kemudian, tangisnya meledak.
Aku tidak pernah melihat Pak Karno
menangis, tidak dalam 3 tahun sejak aku rajin mengunjungi angkringannya tiap
hari, Pak Karno selalu nampak sebagai sosok yang menebar senyum, dan bagiku, ia
sudah seperti guru serta orang tuaku sendiri.
Ketika aku memandangnya lagi di
kejauhan, Kirana sudah terkulai lesu, sinar redupnya perlahan makin sekarat.
Tangis Pak Karno makin menjadi-jadi,
hingga pada detik cahaya itu padam, tangis Pak Karno mencapai puncaknya.
Dunia seakan ikut kehilangan cahayanya
lampu jalanan yang sedari tadi menyala tiba-tiba pecah satu persatu.
Ketika kusadari, aku sudah tenggelam
dalam kegelapan.
Meninggalkan Pak Karno yang menangis,
dan Kirana yang telah mati.
Sabtu, 13 Desember 2014
Surat untuk Ayah
Disaat mentari pagi naik
Adalah disaat hati ini tak dapat menerimanya lagi
Papa, ananda rindu bertemu, papa, betapa sulit hidup yang Dia berikan
Dikala hidup seakan tidak kuat diemban bebannya
Aku tulis sepatah dua kata di kertas ini
Papa, sudah hilang ditelan ombak
Papa sudah dikhalayak yang kuasa
Ajaranmu selalu mengajarkan
Tentang hidup yang penuh kasihan
Tetapi kenyataannya
Hidup selalu memainkan perasaan
Air susu dibalas air tuba
Hal yang tidak langka di dunia
Dimana segala kejahatan adalah legal
Dan kebaikan jadi cercaan
Papa, beri aku alasan untuk bertahan lagi
Sebab hati ini meronta-ronta ingin pulang
Adalah disaat hati ini tak dapat menerimanya lagi
Papa, ananda rindu bertemu, papa, betapa sulit hidup yang Dia berikan
Dikala hidup seakan tidak kuat diemban bebannya
Aku tulis sepatah dua kata di kertas ini
Papa, sudah hilang ditelan ombak
Papa sudah dikhalayak yang kuasa
Ajaranmu selalu mengajarkan
Tentang hidup yang penuh kasihan
Tetapi kenyataannya
Hidup selalu memainkan perasaan
Air susu dibalas air tuba
Hal yang tidak langka di dunia
Dimana segala kejahatan adalah legal
Dan kebaikan jadi cercaan
Papa, beri aku alasan untuk bertahan lagi
Sebab hati ini meronta-ronta ingin pulang
Langganan:
Postingan (Atom)